Peracik Mercon Tewas di RSSA

Ginah (kiri) menunggu jenazah Samperi korban ledakan mercon di kamar jenazah

Ledakan di Singosari
MALANG- Samperi, 60 tahun, warga Dusun Blandit Timur, Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya sore kemarin. Korban ledakan mercon racikannya sendiri ini tewas sekitar pukul 15.00, saat menjalani perawatan  di ruang 16  RSSA Malang. Jenazah Samperi pun langsung dibawa ke Kamar Jenazah RSSA Malang, untuk divisum.
Sementara di kamar jenazah, keluarga Samperi telah berkumpul. Mereka terlihat sangat terpukul. Terutama Ginah, 50 tahun istri korban. Wanita yang kemarin menggunakan pakaian warna cokelat ini tak bisa menyembunyikan kesedihannya. “Ini musibah, kami menerima dengan tabah,’’ katanya.
Selama Samperi dirawat di ruang 16 RSSA Malang sejak Rabu (7/1) pagi lalu, Ginah mengaku tidak pernah beranjak dari sisi suaminya. Sebagai istri, dia berharap luka bakar yang diderita suaminya bisa disembuhkan, dan Samperi pun kembali pulang dalam kondisi sehat. Namun Tuhan berkehendak lain, Samperi tewas dalam perawatan.
“Suami saya itu orang baik, dan sangat bertanggung jawab,’’ kata Ginah yang kemarin didampingi keluarga lainnya.
Ginah sendiri mengaku, sekali pun hidup satu rumah dengan Samperi, tapi dia tidak tahu menahu jika suaminya tersebut meracik mercon. Lantaran itulah, dia cukup kaget saat mendapat informasi jika rumahnya terkena ledakan mercon, dan suaminya mengalami luka bakar. “Saat  kejadian saya tidak tahu, karena tidak berada di rumah. Saya kaget dan langsung pulang,’’ katanya.
Tubuh wanita ini pun lunglai begitu melihat kondisi rumahnya yang sudah berantakan. Rumah yang dibangun bersama Samperi itu hancur. Seluruh atapnya jebol, termasuk kaca dan temboknya juga hancur. Saat itu juga Ginah membayangkan kondisi suaminya. Kepada tetangga, Ginah pun menanyakan keberadaan suaminya. “Begitu mendapat informasi kalau suami saya dirawat di RSSA saya langsung menyusul,’’ urainya.
Tidak hanya Ginah, keluarganya yang lain pun mengatakan yang sama. Mereka mengaku tidak tahu menahu terkait aktifitas Samperi yang meracik mercon. Sebaliknya, mereka tahu Samperi sebagai buruh tani. “Sebelum kejadian bapak itu sempat pamit mau ke sawah, makanya kami kaget begitu mendengar peristiwa yang menimpa bapak,’’ kata salah satu keluarga Samperi. Mereka juga mengatakan, jika selama ini Samperi tidak pernah berulah. “Makanya kami kaget, dan sama sekali tidak menyangka,’’ kata pria yang enggan menyebutkan namanya ini.
Sementara itu Kapolsek Singosari Kompol Decky Hermansyah saat dikonfirmasi membenarkan jika Samperi, korban ledakan petasan tewas. Namun begitu, pihaknya tetap melanjutkan kasus ini sesuai proses hukum. Bahkan, sore kemarin petugas Polsek Singosari kembali melakukan olah TKP ke rumah yang menjadi pusat ledakan mercon. Olah TKP kedua ini dilakukan, karena ada dugaan di rumah tersebut masih banyak tersimpan bahan-bahan yang memicu ledakan.  
Seperti yang diberitakan Malang Post sebelumnya Ledakan kuat terjadi di pemukiman padat penduduk di Dusun Blandit Timur, Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Rabu (7/1) pagi sekitar pukul 09.15. Ledakan dari mercon yang diracik oleh Samperi, 65 tahun warga RT 14 RW05 itu, kontan membuat ‘sang empu’ nya mengalami luka bakar sekujur tubuh. Dalam olah TKP, selain menemukan gulungan kertas dan berbagai racikan bahan untuk membuat petasan, petugas juga menemukan bondet.(vik/ary)