Puas Berpesta, Dua Meninggal, Dua Kritis

MALANG POST – Minuman keras (Miras) oplosan berujung maut sudah sering terjadi. Kasus terakhir di Kabupaten Malang, 12 orang meninggal di Lawang pertengahan tahun lalu setelah meminum minuman beralkohol ini. Namun hal tersebut tak menjadi pelajaran tujuh pemuda yang berpesta miras Minggu (11/1/15) lalu.
Devi Bagus Setiawan (19), warga Desa Kedok Wetan Turen, Ali (17), warga Desa Druju Sumbermajing Wetan, Angga (17 tahun) warga Bululawang, Wahyu (17), Irfan (17) dan Novan Bayu Pradhana (18) semuanya warga Desa Tumpuk Renteng Kecamatan Turen serta satu pemuda yang belum diketahui identitasnya, mulai menenggak minuman haram ini sejak pukul 22.00 WIB.  Mereka membeli Miras oplosan alkohol dicampur dengan citrun acid cap Gajah dari pasangan suami istri Sutikno (45)dan Sumatri (40), warga Dusun Bokor Desa Pagedangan Turen dan meminumnya di sebuah warung kopi di Jalan Wahid Hasyim Desa Sananrejo Kecamatan Turen, hingga pukul 01.00 dini hari.
Puas berpesta, para pemuda yang sebenarnya masih mempunyai kewajiban tugas belajar itu pulang ke rumah masing-masing. Tak ada peristiwa aneh keesokan harinya hingga pada Selasa dini hari (13/1/15), efek Miras oplosan itu mulai terasa. Di tempat berbeda namun di waktu hampir bersamaan, Irfan, Wahyu, Bayu dan Devi mengalami mual dan mutah-mutah. Keempatnya lalu dirujuk ke RS Bokor Kecamatan Turen untuk mendapatkan pertolongan. Sayangnya, Wahyu meninggal terlebih dahulu saat perjalanan ke RS Bokor sekitar pukul 03.00 WIB, lalu disusul Irfan yang meninggal dalam perawatan pukul 05.30 WIB, keduanya dimakamkan di pemakaman umum oleh keluarganya. Sedangkan Devi dan Bayu hingga kini masih kritis dan dirawat di RS Bokor
Peristiwa tersebut tidak akan diketahui jika Kepala Desa Tumpuk Renteng tidak melaporkannya ke Kepolisian, sebab keluarga korban memang mendiamkannya. “Kejadian itu, tidak dilaporkan sebelumnya. Kades Tumpuk Renteng yang dilapori warga tentang peristiwa itu, langsung melaporkannya kepada kami,” tutur Kasat Reskrim Polres Malang AKP Wahyu Hidayat kepada Malang Post.
Mendapat laporan itu, kepolisian langsung melakukan penyelidikan dan hasilnya dapat menangkap pasutri yang meracik sekaligus menjual miras oplosan tersebut. “Sebenarnya yang meracik Miras oplosan adalah Sumatri, ia belajar meracik dari suaminya Sutikno,” ujar Wahyu.
“Untuk kedua tersangka pasutri tersebut, kami bawa ke Mapolres Malang untuk diamankan,” tambah mantan Kasat Reskrim Polres Tuban ini. Kedua tersangka itu kata dia, dijerat dengan pasal UU 36 tahun 2009 tentang kesehatan dan KUHP Pasal 204 tentang perederan miras secara ilegal. Ancaman hukumannya antara 20 tahun penjara hingga maksimal seumur hidup.
Polisi saat ini sedang mencari posisi maupun keberadaan tiga pemuda lain yang ikut pesta miras tersebut, untuk memastikan kondisi mereka saat ini. Sedangkan untuk dua pemuda yang meninggal, rencananya akan dilakukan pembongkaran makam oleh kepolisian. “Untuk pembongkaran makam, kami belum tentukan waktunya. Pembongkaran makam itu untuk mengambil sampel yang dikonsumsi oleh korban dan kemudian dibawa ke lab,” pungkasnya.
Sementara itu, Kades Tumpuk Renteng Kecamatan Turen Helmiawan Cholidi mengatakan, pemuda yang berpesta Miras adalah teman sepermainan. Mereka pun kerapkali berkumpul di warung kopi menonton bola dan menghabiskan waktu malam. “Menurut keterangan dari para saksi, mereka sering minum di warung tersebut. Tapi mereka tidak tahu yang diminum itu Miras oplosan,” terangnya.
Sedangkan untuk korban lain, dia tengah mencari tahu keberadaanya. Termasuk keberadaan empat pemuda lain yang mengikuti pesta Miras oplosan itu. Akibat peristiwa ini, pihaknya akan melakukan langkah antisipasi. Yakni memberikan sosialisasi kepada masyarakat, pemuda terutama orang tua, bahaya miras oplosan.(big/han)