Bongkar Makam Minggu Depan

Tragedi Miras Oplosan
KEPANJEN- Makam kedua remaja yang tewas menenggak miras oplosan, Irfan (17) dan Wahyu (17) bakal dibongkar oleh kepolisian pekan depan. Hal itu dilakukan untuk mengetahui kandungan miras yang dikonsumsi oleh keduanya, sekaligus melakukan otopsi.
Kasat Reskrim Polres Malang AKP Wahyu Hidayat SIK mengatakan, pembongkaran makam nantinya melibatkan tim forensik dari kedokteran RSSA Kota Malang. “Kami akan mencocokkan kadungan alkohol yang terdapat di dalam tubuh korban, dengan kandungan alkohol barang bukti yang kami sita,” ujarnya kepada Malang Post kemarin.
Dia menjelaskan, pihaknya akan mengambil sampel muntahan, darah dan air liur dari kedua pemuda itu. Sampel itu akan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Setelah diketahui hasilnya, maka akan dicocokkan dengan kandungan alkohol yang telah disita oleh kepolisian dari dua tersangka yang meracik serta menjual miras oplosan.
“Bila kandungan alkohol itu identik, maka akan diketahui kandungan yang menyebabkan kedua korban itu meninggal,” terang Perwira Pertama (Pama) dengan tiga balok di pundaknya ini. Sutikno (45), suami Sumatri (40)  peracik serta penjual miras oplosan tersebut, sejak kemarin dibebaskan dan hanya diwajibkan lapor. Sedangkan sang istri masih harus ditahan di dalam sel.
“Karena yang bersangkutan merupakan pasutri dan mempunyai dua anak, maka polisi memberi keringanan untuk mewajibkan lapor Sutikno,” kata mantan Kasat Reskrim Polres Tuban ini. Menurut informasi yang berhasil dihimpun di lapangan, kedua pasutri tersebut meracik miras oplosan sejak empat tahun yang lalu.
Mulanya, Sutikno meracik miras oplosan dan dikonsumsi sendiri bersama teman-teman satu pekerjaannya, para sopir truk. “Kemudian, istrinya Sumatri, belajar dari Sutikno untuk meracik miras oplosan tersebut. Lalu, miras oplosan itu dijual sejak setahun belakangan ini,” ujar Kepala Desa (Kades) Tumpuk Renteng Helmiawan Cholidi.
Atas informasi yang berhasil dia dapat, Sumatri nekat meracik miras oplosan itu, lantaran terdesak oleh kebutuhan ekonomi. “Sebenarnya pasutri tersebut tidak sering meracik serta menjual miras oplosan. Ketika butuh uang untuk melunasi utang, barulah dia meracik serta menjual miras oplosan,” tuturnya.
Dia menambahkan, tujuh pemuda yang berpesta miras oplosan sering kali menghabiskan malam hari dengan nongkrong di warung kopi sembari nonton bola. “Namun, saya tidak mengetahui kalo saat nongkrong itu mereka minum miras oplosan. Namaya anak muda, saya kira nongkrong biasa,” terang Cholidi.
Sedangkan dua pemuda lain yang dirawat di Rumah Sakit Umum Bokor Turen, Devi Bagus Setiawan, 19 tahun, warga Desa Kedok Wetan Kecamatan Turen dan Novan Bayu Pradhana, 18 tahun warga Desa Tumpuk Renteng Kecamatan Turen sudah pulang. “Kondisi keduanya membaik dan memutuskan untuk pulang pada Rabu (14/1) malam,” terang dokter jaga IGD Rumah Sakit Umum Bokor Turen, dr Hilmawan. Menurutnya, sejauh ini pihaknya belum menerima tambahan pasien, yang menjadi korban akibat pesta miras oplosan.
Seperti diberitakan sebelumnya, tujuh orang remaja melakukan pesta miras oplosan di sebuah warung kopi di Jalan Wahid Hastim Desa Sananrejo Kecamatan Turen. Mereka membeli miras oplosan itu dari pasutri Sumatri dan Sutikno. Akibat pesta miras, dua meninggal dan dua orang sempat dirawat di rumah sakit. (big/han)