Sek Bebas Pil Aborsi Laris Manis

Tersangka Herry Eko Putro
 
Konsumen Remaja, Keuntungan 115 Persen
BATU- Ironis, jumlah pemuda maupun usia remaja yang melakukan  sek bebas di Kota Wisata Batu, ditengarai semakin banyak. Sinyalemen itu bisa merujuk dengan larisnya bisnis gelap pil aborsi,  yang salah satu pelakunya sudah diringkus petugas Reskoba Polres Batu.
Tersangka yang tertangkap tangan di dekat SPBU Pendem Kecamatan Junrejo ini, yakni  Herry Eko Putro, 36 tahun  warga Jl Kemantren, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Polisi pun mengamankan barang bukti lima butir pil aborsi, dan uang Rp600 ribu hasil penjualan.
Awalnya,  Herry sendiri sebenarnya sama sekali tidak punya keinginan untuk menjual jenis pil yang pembeliannya harus mengunakan resep dokter itu. Namun karena banyak pemesan pil penggugur kandungan ini, dia pun  tergiur menggeluti bisnis gelap ini.
Untuk mendapatkan barang tersebut, Herry tak kesulitan lantaran bujangan ini punya beberapa kenalan di apotik tanpa resep dokter sekalipun. Pelanggan pil penggugur janin inipun sebagian besar adalah usia remaja. “Mereka mahasiswa pelajar,  saya tidak tahu tapi yang jelas masih muda-muda,” aku  Herry.
 Kebanyakan pembelinya adalah cowok, namun ada pula yang cewek walaupun transaksinya diwakili perantara. Toh demikian, dalam pemeriksaan polisi pengakuannya tetap klasik, yakni ngaku baru tiga kali menjual pil tersebut. Padahal untuk menangkap pemuda yang bekerja sebagai pegawai klinik gigi di Kota Malang, ini petugas menyaru sebagai pembeli sebanyak 3 kali.
Karena order banyak,  akhirnya Herry memilih kulakanli pil penghancur janin ini. Lima butirnya dia beli di apotik seharga Rp 65 ribu, kemudian dia jual kepada pelanggan seharga Rp 150 ribu. Herry tidak membantah bahwa sering kali  mendapatkan tip dari pembelinya. “Kadang diberi uang Rp 50 ribu,” ujarnya.
Sayangnya dia enggan menyebut berapa nilai keuntungan, yang didapat dari penjualan selama  ini.
Sementara polisi bisa mencium kasus tersebut, berangkat dari banyaknya pengaduan peredaran  pil aborsi yang masuk daftar obat berbahaya ini. Beberapa kali, polisi melakukan penyamaran termasuk menyaru sebagai pembeli.
Karena perbuatannya itu, tersangka  dijerat dengan Pasal 197 sub 196 UU RI nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. “Pil ini biasanya digunakan tim medis untuk memberikan pertolongan kepada seseorang ibu, yang janinnya meninggal dunia di dalam perut. Tapi  ternyata kegunaannya diselewengkan untuk aborsi janin sehat yang tidak dikehendaki oleh orangtuanya,” ujar Kasubag Humas, AKP Waluyo. (muh/lyo)