9 Tersangka Ditahan, Provokator Lenyap

Pelaku Pengeroyokan Berdarah, Warga Desa Ngroto
PUJON- Penyelidikan perkara pengeroyokan di Kecamatan Pujon, Minggu dini hari lalu hingga mengakibatkan tewasnya Davi Pra Oktarifianto, 28 tahun, warga Dusun Maron, Desa Pujon Lor, telah mengerucut pada penetapan 9 orang tersangka. Namun dibalik kasus ini, ada actor intelektual yang mendalangi keributan berdarah itu, yang masih diburu polisi.
Sementara 9 pemuda yang sejak Minggu siang lalu diperiksa petugas Polsek Pujon dan Polres Batu, secara resmi telah ditahan sebagai tersangka. Kesemua tersangka ini warga Dusun Krajan, Desa Ngroto, Kecamatan Pujon.
Yakni,  Jal, 16 tahun, warga Jl Wiyo, Dusun Krajan, Desa Ngroto. Enggar Setyawan, 19 tahun, Deo Kurniawan alias Slendep,  22 tahun,   Denda Agus Lutfianto, 18 tahun, Agus Irawan alias Kuncung, 21 tahun, Surya Andika, 19 tahun. Risky Dwi Santoso, 21 tahun, Hari Wibowo alias Cecep, 18 tahun, dan RM, 16 tahun, warga Dusun Krajan, Desa Ngroto.
“Mereka bersama-sama mengeroyok  4 korban  satu diantaranya meninggal dunia dan 1 luka berat,” terang Kasat Reskrim Polres Batu, AKP Bambang Priyanto didampingi Kasubag Humas AKP Waluyo.
Motifnya, kesemua pelaku sakit hati lantaran pernah dipukul oleh kelompok Devi dan tidak ada kaitannya dengan trek-trekan liar, yang hamper setiap Sabtu malam membisingkan jalan protocol Pujon-Batu.

SEPATU BOOT
Sementara actor intelektual yang ikut terlibat langsung dalam aksi pengeroyokan tersebut, ketika kejadian menutup wajahnya dengan  cadar (kain sarung yang ditutupkan ke muka), plus mengenakan sepatu boot. Diduga pelaku ini adalah actor intelektual dibalik kematian Davi.
AKP Bambang Priyanto  membenarkan pihaknya sedang memburu sosok misterius itu. “Laki-laki menggunakan cadar ini masih dalam pencarian kami,” terangnya.
Dari hasil pemeriksaan, beberapa saksi memang melihat pria bercadar bersenjata tajam ini cukup berperan dalam pengeroyokan yang sebagian besar dilakukan oleh kurang lebih 10 orang ini.
Suhartono, ayah Davi kepada Malang Ekspres (grup Malang Post) mempunyai keyakinan yang sama dengan polisi. “Kami yakin ada actor intelektual dibalik pengeroyokan itu. Kami juga yakin pembunuhan itu direncanakan, bukan kebetulan. Kami berharap polisi bisa mengungkap siapa pria bercadar itu, dan ada apa dibalik pembunuhan anak saya,” ujar Suhartono.
Menurutnya, pelaku penganiayaan ini memiliki kesamaan cirri-ciri dengan penganiaya anaknya 7 tahun yang lalu. Saat itu punggung Devi dicacah dan pelakunya  juga menggunakan cadar dan sepatu boot ini.
Cacahan pedang itu, membuat punggung anaknya harus dijahit ratusan kali untuk menghentikan pendarahan. Namun hingga Davi meninggal dunia, penganiayaan 7 tahun silam  itu tidak terungkap, polisi gagal menangkap pelakunya.
Ia berharap polisi bisa berlaku adil, dengan memproses pelaku sampai  tuntas dan mendapatkan hukuman yang setimpal. “Dini hari sekitar pukul 02.00, saya minta Devi menjemput saya di sebuah hajatan,” ujar Suhartono.
Sepanjang perjalanan hanya hening dan angin malam yang menemani, karena tidak ada perbincangan apa-apa diantara keduanya. Baru setiba dirumah, Suhartono berpesan kepada Davi agar berhati-hati, karena malam minggu.
 “Pagi itu saya masih berbicara dengan anak saya, siangnya kok sudah tidak ada. Saya minta polisi mengusut tuntas kasus ini dan menghukum pelakunya,” ujarnya. Jenazah Davi sudah di makamkan di Pemakaman Umum Gesingan Pujon.
Dari pemeriksaan sementara diketahui, pengeroyokan ini terjadi spontan. Begitu melihat kelompok Davi, semua  tersangka  langsung menyerbu.
Selain menahan para tersangka, polisi mengamankan barang bukti berupa sebuah batu cor  5 kg, sebuah batu cor seberat 1/5 kilo dan 2 balok kayu usuk. “Benda-benda itu yang dipergunakan untuk menyerang kelompok Davi,” terang kasat.       
AKP Waluyo menambahkan, bahwa akibat perbuatannya, 9 tersangka tersebut dijerat dengan pasal 170 KUHP ayat 2 butir 3 karena telah mengakibatkan korban meninggal dunia dengan ancaman 12 tahun penjara dan pasal 170 ayat 2 butir 2 karena mengakibatkan korban luka berat dengan ancaman penjara 9 tahun. (muh/lyo)