Warga Kedungkandang Jualan 47 Ribu Pil Koplo

MALANG – Dua warga Lesanpuro, Kedungkandang, Kota Malang digerebek oleh Polisi Jumat (16/1/15) lalu. Polisi berhasil mengamankan Atf dan MA alias Gempo beserta puluhan ribu pil koplo. Barang haram itu bakal diedarkan untuk membuat teler para pemakai di Malang.
“Selain Atf, ada MA alias Gempo, warga Jl KH Hasyim, Kedungkandang, Kota Malang dan AW, warga Gunung Kendeng, Pare Kediri yang kami amankan. Barang bukti yang kami dapat ada 47 ribu butir pil koplo,” jelas Kasubag Humas Polres Malang Kota, AKP  Nunung Anggraeni kepada Malang Post, kemarin (20/1/15).
Ditambahkan, dari penangkapan Atf polisi berhasil menemukan satu botol plastik berisi114 tik pil koplo. Satu tik, lanjut Nunung,  berisi 10 butir pil koplo. Obat terlarang ini disembunyikan  di bawah lemari kamar tidur Atf. Satuan reserse narkoba Polres Malang Kota sebelumnya telah melakukan penyelidikan dengan menyusuri pil itu dari yang kecil dulu.
Setelah menangkap Atf, polisi memburu AM alias Gempo yang diketahui, berperan sebagai penyuplai Atf. Beberapa jam setelah datang ke rumah Gempo, polisi langsung  menemukan Gempo, pria berusia 21 tahun.
Hebohnya, dari kamar Gempo polisi menemukan 46.000 pil yang disimpan dalam tas ransel warna hitam. Pil-pil itu sudah dikemas dalam kantung plastik, setiap kantung plastik berisi seribu butir.
“Penyelidikkan kembali dilakukan. Keesokan harinya giliran AW yang diringkus polisi,” jelas Nunung. Wanita berdarah Tulungagung ini mengatakan, kalau Atf mengaaku membeli pil dari Gempo dengan harga Rp 350 ribu per seribu butir. 
Dia menjualnya per sepuluh butir , dengan Rp 10.000. Bila beli paket 100 butir, Atf menjualnya dengan harga Rp 75.000 per 100 butir. Atf mengaku pembelinya masih teman-teman dekatnya sendiri.
Sedangkan Gempo, mendapatkan pil haram itu dari AW. Gempo membeli pil koplo dengan harga Rp 200.000 per seribu butir dan dijual kembali dengan harga Rp 350.000. Transaksi terakhir, Gempo mepesan 50 bungkus dan bayar Rp 10 juta.
AW sendiri mengaku pil koplo itu dari seseorang warga Kediri yang kini masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Pria yang bekerja di sebuah tempat pembuatan batu bata ini sebenarnya pernah dipenjara selama satu tahun dua bulan pada tahun 2007 untuk kasus yang sama.
“Sekarang, ketiga tersangka dijerat Pasal 196 dan atau 197 dan atau198 UU 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara,” pungkas Nunung.(erz/ary)