Sindikat Gendam Antar Pulau Masuk Malang

MALANG – Lenita (50 tahun), warga Jl Raya Gadang 19, Sukun, Kota Malang merasa iba, ketika mendengar cerita Jenna (43 tahun), warga Jl Lorong Bakar Batu, Tanjung Pinang Barat, Riau yang mengaku pindahan dari Bali. Kemarin (27/1/15) sekitar pukul 09.00 WIB, keduanya bertemu di salah satu penjual ikan di Pasar Besar Kota Malang. Lenita tidak mengira, ternyata pertemuannya dengan Jenna merupakan aksi gendam yang membuatnya mengalami kerugian sekitar Rp 60 juta.
Saat itu, Jenna menghampiri Lenita yang sedang memilih-milih ikan dan mulai bercerita tentang keluarganya yang sakit-sakitan. "Saya baru pindah dari Bali ke Malang. Sejak pindah, suami dan anak saya sakit-sakitan. Sudah diperiksa ke dokter, tapi dokter tidak bisa mendeteksi penyakitnya," ujar Lenita, menirukan Jenna saat bercerita kepadanya.
Ditambahkan, Jenna meminta rekomendasi kepada Lenita, apakah memiliki kenalan ‘orang pintar’. Lenita bingung, dia mengatakan kepada Jenna kalau dia tidak punya kenalan. Tapi tiba-tiba datang Aisah (42), warga Jalan Mangga Besar, Tamansari, Jakarta Barat menghampiri mereka berdua. Kepada mereka berdua, Aisah berkata kalau dia memiliki seorang kenalan 'orang pintar'. Tapi dia enggan mengantar Jenna sendiri, Aisah meminta Lenita untuk ikut.
"Awalnya saya tidak mau ikut. Saya bilang ya sudah, antar saja. Tapi kata wanita tadi (Aisah, red), saya harus mengantarnya. Tukang ikan juga menimpali sama, katanya sebentar saja saya antar dia. Akhirnya saya ikut. Kami pergi dengan mobil Xenia yang di dalamnya sudah menunggu sopir perempuan," lanjutnya.
Sopir perempuan yang ada di mobil itu adalah Lina Febriani (33 tahun), warga Jl Suka Damai, Madukoro Baru, Kota Bumi Utara, Lampung. Diantarlah Lenita dan Jenna, bersama Aisah ke tempat 'orang pintar' yang dimaksud. Belum lama perjalanan, tepatnya di Jl Zaenal Arifin,  mereka bertemu dengan pria yang sebutannya adalah 'engkoh'.
"Oh, itu cucu kakek yang saya maksud (orang pintar)," tambah Lenita yang kali ini menirukan Aisah. Ketiganya pun berhenti. Aisah mengajak pria bermata sipit dan berkulit putih ini untuk masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, pria ini menelepon kakeknya, orang pintar yang mereka tuju. Tidak lama setelah pria ini berbincang-bincang di telepon, pria tersebut memberikan ponselnya ke Lenita.
Lenita mengaku, apa yang dikatakan kakek di telepon tersebut tidak jelas. Tapi saat itu, perasaan aneh menyelimutinya. Ponselnya kemudian diberikan kembali ke pria dengan sebutan 'engkoh' itu. Sejak mengangkat telepon itu, Lenita seolah menuruti apa saja yang dikatakan pria tersebut.
Engkoh berlagak menceritakan apa yang dibicarakan kakeknya. Menurutnya, dia bisa memberikan tanaman penyembuh apapun kepada Lenita, dengan beberapa syarat. Syaratnya, Lenita harus memberikan segenggam beras dan seluruh perhiasan yang ada di rumahnya. Kemudian syarat-syarat tersebut harus dibungkus koran.
"Saat itu korban menurutinya. Para pelaku pun mengantar dia ke rumahnya di Jl Raya Gadang. Korban berinisial Lnt (Lenita, red) ini langsung mengemas perhiasan tersebut. Para pelaku menunggu di luar rumah. Setelah selesai, korban diantar kembali ke kawasan pasar besar," timpal Kapolsek Sukun, Kompol Sutantyo. Saat itu, korban sudah lupa kalau tujuan awalnya mengantar Jenna ke orang pintar.
Sebelum turun dari mobil, lanjut Sutantyo, korban diberikan satu bingkisan koran. Bingkisan tersebut tidak boleh dibuka, sebelum korban sampai di rumah. Korban disuruh turun dari mobil dengan menggunakan kaki kiri dan dilarang menengok ke belakang. "Tapi karena korban sadar dan curiga, dia tidak menggubris omongan pelaku. Korban menoleh ke belakang dan mengingat nomor polisi mobil pelaku," tambah Sutantyo.
Benar saja, rupanya bingkisan yang dia pegang dari tadi berisi batu kerikil. Sementara bingkisan perhiasan, berada di dalam mobil. Lenita pun bergegas melapor ke pos polisi di Klenteng, dengan memberikan nopol dari mobil pelaku, yakni B 1135 KZV.
Mobil pelaku berhasil dihadang polisi di wilayah Kacuk, Sukun. Saat polisi menghampiri mobil ini, dua pelaku, yakni Aisah dan Engkoh melarikan diri. Aisah berhasil ditangkap karena bersembunyi di rumah warga, sementara Engkoh, tidak ditemukan. (erz/feb)