LP Lowokwaru Kecolongan, Satu Napi Kabur

Kalapas Sebut Warganya Lari ke Dukun
MALANG–Lembaga Pemasyarakatan (LP) Lowokwaru, Kota Malang kecolongan. Satu narapidana (Napi) LP kelas I ini melarikan diri, ketika sedang dirawat di Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA), Senin (26/1/15) lalu. Padahal, sudah ada seorang personil dari LP Lowokwaru yang melakukan penjagaan. Namun rupanya, kaburnya Napi ini luput dari pengawasan.
Napi kabur itu adalah Sugiyanto, warga Jl Sultan Agung 7, Kanigaran, Probolinggo. Pria berusia 47 tahun ini, mendekam di penjara karena kasus pengedaran uang palsu. Dia divonis dua tahun penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen. Ironis, karena sebenarnya tinggal menunggu hitungan bulan, Sugiyanto bisa keluar dari penjara. Namun, ia nekat untuk melarikan diri.
Kasubbag Humas RSSA, Titiek Intiyas membenarkan kejadian tersebut. Pada Jumat (23/1/15) lalu, ada pasien rujukan bernama Sugiyanto dari LP Lowokwaru. Pasien tersebut, masuk melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSSA. Namun, pada Senin sore, tepatnya usai jam bezuk pukul 16.00 WIB sampai 18.00 WIB, pasien tersebut menghilang.
"Pasien sempat diperiksa pihak RSSA, dia mengidap penyakit infeksi tenggorokan (Abses Submandibula). Ada luka di dalam tenggorokannya, dari luar terlihat ada benjolan," ujar Titiek, saat dikonfirmasi di kantornya, kemarin. Ditambahkan, pasien ini ditempatkan di ruang 20, yakni di ruang bedah RSSA.
Dari ruang tersebut, hanya ada dua jalan keluar, yakni melalui pintu belakang dan juga pintu depan. Keduanya dijaga oleh Satpam. Pada jam bezuk, banyak orang keluar masuk RSSA. Tapi biasanya, lanjut Titiek, Satpam bakal menghentikan orang yang memakai gelang identitas pasien.
Karena itu, diduga sebelum melarikan diri Napi ini memotong gelang tersebut dan menaruhnya di saku pakaian. "Pada hari itu juga kami langsung melapor ke pihak LP Lowokwaru," jelas Titiek.
Informasi yang berhasil dihimpun Malang Post, selama Napi berada di RSSA, tidak tampak ada pengawasan khusus dari siapa pun. Bahkan, saat di ruangannya Napi bisa keluar masuk seenaknya. Penjagaan hanya dilakukan, sampai Napi di antar ke IGD.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala LP Lowokwaru, Tholib membantah hal tersebut. Menurutnya, selama Napi di RSSA, LP Lowokwaru menerjunkan personilnya untuk melakukan penjagaan. Penjagaan tersebut, dilakukan oleh tiga orang secara bergantian. Pukul 07.00 – 13.00 WIB, 13.00 WIB - 19.00 WIB, serta 19.00 – 07.00 WIB.
"Ada tiga personil setiap hari, menjaga secara bergantian. Mungkin, Napi melarikan diri saat petugas lengah," jelasnya. Tholib mengatakan, kejadian ini akan diproses. Bila kesalahan ada pada petugas, LP Lowokwaru akan mengambil tindakan ke para petugas tersebut.
Dikatakannya, Napi Sugiyanto sebenarnya sudah bisa menghirup udara bebas pada Maret 2015 mendatang. Dia menyayangkan, karena rupanya Sugiyanto melarikan diri lebih dulu. Sekarang, lanjut Tholib. Pihaknya masih melakukan pencarian, sekaligus pendekatan ke pihak keluarga.
Tholib memaparkan, sebelumnya Napi Sugiyanto mengaku sakit di bagian rahang. Dia pun dibawa ke dokter gigi di LP Lowokwaru. Setelah diperiksa, rupanya ada infeksi tenggorokan. Akhirnya, Napi dirujuk ke RSSA pada Jumat (23/1/15).
Namun saat Napi dirujuk ke RSSA, dia (Napi, red) beserta keluarga sempat menolak. Mereka memilih untuk diobati melalui jalur pengobatan alternatif (dukun, red). Karena pihak Lapas tidak mengizinkan ada pengobatan melalui alternatif, akhirnya pasien tetap dirujuk ke RSSA.
Menurut Tholib, inilah motif Napi Sugiyanto kabur dari RS. Dia memilih untuk pergi ke pengobatan alternatif dibandingkan dirawat ke RSSA. Pihak keluarga yang sudah dikonfirmasi, mengaku sempat dihubungi Sugiyanto.
"Napi mengatakan kepada orang tuanya, kalau dia melarikan diri. Orang tuanya juga mengaku kepada petugas lapas, kalau anaknya sempat menghubunginya. Napi berjanji, setelah penyakitnya sembuh dia akan kembali ke lapas.
Sekarang, petugas tengah melakukan pendekatan ke pihak keluarga yang tak ingin berbicara keberadaan Sugiyanto itu. "Kita masih melakukan pencarian, kita juga bekerjasama dengan kepolisian di Probolinggo untuk menemukan kasus ini," pungkasnya. (erz/ary)