82 Preman Disikat Polisi Kabupaten

MALANG POST - Polres Malang Kabupaten, menyikat 19 preman yang meresahkan masyarakat, Jumat (30/1/2015) kemarin. Sehingga pada operasi gabungan selama dua minggu ini, Polisi berhasil mengamankan 82 orang preman serta pelaku penyakit masyarakat lainnya. Operasi gabungan tersebut dalam mendukung program dari Polri yakni Quick Wins, sekaligus dalam rangka operasi cipta kondisi, untuk menciptakan kondusifitas keamanan.
Kasubag Humas Polres Malang AKP Ni Nyoman Sri Efliandani mengatakan, operasi tersebut berlangsung selama satu bulan lebih. “Operasi ini rutin dilakukan oleh jajaran Mapolres yang berada di Indonesia, termasuk salah satunya Polres Malang. Hal itu untuk mendukung Program Quick Wins,” ujarnya kepada Malang Post kemarin.
Dijelaskannya, seluruh jajaran Polsek di Kabupaten Malang, telah diinstruksikan untuk menggelar operasi tersebut. Sebagai sasarannya adalah, preman, pemalak, pemabuk dan pendatang yang tidak mempunyai tempat tinggal. Termasuk pelaku preman yang membahayakan dan membawa senjata tajam (sajam).
“Mereka ini diamankan dari tempat-tempat umum, seperti perempatan jalan, lampu merah, pasar, Stadion Kanjuruhan, hutan kota dan beberapa tempat lainnya,” kata Perwira Pertama (Pama) dengan tiga balok di pundaknya tersebut.
Sedangkan mayoritas dari seluruh preman yang diamankan tersebut, berasal dari luar kota. Seperti Blitar, Kediri, Tulungagung, Pasuruan, Mojokerto dan Lumajang. Sedangkan beberapa preman lainnya, berasal dari Kabupaten Malang. Mulai dari Kecamatan Pagelaran, Kecamatan Gedangan, Kecamatan Wonosari dan Kecamatan Singosari. Mereka berpenampilan seperti layaknya anak punk dan tidak terawat.
“Keberadaan mereka, tentunya membuat lingkungan tidak enak dipandang. Apalagi diantara mereka, juga diketahui telah melakukan pemalakan,” terang mantan Kapolsek Pakisaji ini. Seperti preman bernama Andrianto, 30 tahun, warga Blitar ini, yang telah melakukan pemalakan di Jalan Karanglo Kecamatan Singosari.
Sedangkan yang menjadi sasaran pemalakan adalah ibu-ibu dan remaja putri. Mereka meminta uang secara memaksa. Sedangkan bila terdapat preman yang melakukan hhal itu kata dia, maka dapat diproses hukumnya. Menurutnya, daerah perkotaan dan keramaian, seperti pasar dan terminal, rawan terjadinya tindakan premanisme.
“Mayoritas dari mereka yang diamankan adalah mabuk-mabukan. Kami juga menyita barang bukti berupa miras oplosan,” terangnya.
Petugas juga melakukan sidang tindak pidana ringan (Tipiring) bagi preman yang tidak melakukan pelanggaran ringan. Selama operasi, petugas tidak menemukan sajam, senpi, serta narkoba.
Sedangkan pemalakan yang dilakukan oleh salah seorang preman, pemalakan biasa dan menggunakan tangan kosong. “Kami melakukan pembinaan terhadap pelaku premanisme yang diamankan tersebut. Kemudian mereka kami data dan dikembalikan ke daerah asalnya masing-masing,” pungkasnya.(big/ary)