Telepon Istri Sebelum Dibantai

MALANG POST - Hasrat menguasai harta benda, diyakini menjadi motif pembunuhan Budiono, warga Desa Wonokerto Kecamatan Bantur. Polisi sudah menyebar data tersangka pembunuh yakni Rohim, 30 tahun, warga Dusun Sumbernongko RT 19 RW 19 Desa/Kecamatan Pagak. Hal itu ditegaskan Kapolsek Pagak AKP Winarto kepada Malang Post, kemarin.
Kata dia kasus ini masih proses penyelidikan. Termasuk pihaknya saat ini tengah memburu keberadaan pelaku pembunuhan yang diduga kuat dilakukan Rohim tersebut.
“Masik lidik. Kami sudah mengantongi identitas dan foto dari pelaku bernama Rohim tersebut. Foto itu, kami kirim ke Polda Jawa Timur dan dimasukan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO),” terangnya.
Motif pembunuhan yakni perampokan, juga dikuatkan oleh kerabat korban bernama Suyono, 40 tahun, saat ditemui di rumah duka kemarin siang. Menurutnya, hubungan antara korban dengan pelaku hanya sebatas klien jual beli kayu. Sedangkan korban baru kenal dengan tersangka, belum ada sebulan. Tercatat dua kali korban bertemu pelaku.
“Pertemuan pertama kali, di rumah Budiono ini. Saat itu, pelaku datang ke rumah ini dan menawarkan kayu jati miliknya,” ujarnya kepada Malang Post.
Saat datang ke rumah korban, pelaku menunjukan foto-foto kayu miliknya yang berada di rumah. Karena merasa cocok dengan kayu itu, membuat korban mengecek di rumah pelaku.
Lanjut dia, saat itu hari Rabu (28/1) sekitar pukul 08.00 WIB, korban pamit kepada istrinya bernama Suriwayati, 42 tahun, untuk mengecek kondisi kayu tersebut. Menggunakan sepeda motor, korban berangkat ke rumah Rohim. Korban juga membawa uang senilai Rp 10 juta sebagai uang muka tanda jadi atas pembelian kayu tersebut.
“Yang saya tahu, total transaksi harga kayu jatinya senilai Rp 26 juta. Kemudian almarhum, membayar uang muka senilai Rp 10 juta,” tuturnya.
Masih kata Suyono, sedianya kayu jati tersebut, sebagai bahan pembuat mebel. Karena korban sendiri, membeli kayu dipergunakan untuk membuat mebel, pesanan dari para pelanggan.  
Saat di rumah Rohim, sekitar pukul 11.00 WIB, korban menyempatkan diri menghubungi istrinya Suriwayati lewat ponsel. “Saat menghubungi istrinya itu, Budiono bilang masih berada di rumah Rohim di Sumbernongko Pagak. Katanya masih menyelesaikan transaksi dengan pelaku tersebut,” paparnya.
Saat dihubungi kembali pukul 14.00 WIB oleh istrinya, ponsel korban tidak aktif. Mulanya, istri korban tidak curiga dan tidak mempunyai firasat buruk. Namun, ditunggu hingga malam hari, korban tidak kunjung pulang. Hingga pada keesokan harinya, istri korban melaporkan peristiwa hilangnya sang suami ke Polsek Bantur.
Suriwayati meminta pertolongan kepada warga sekitar dan kerabatnya untuk mencari suaminya tersebut. “Ratusan warga dari Desa Wonokerto ini, memutuskan ke Pagak Jumat (30/1). Karena korban diketahui terakhir kali ada di rumah Rohim,” tegasnya.
Saat menggrebek rumah Rohim itu, ditemukan jas hujan milik korban. Sedangkan Rohim sendiri, sudah tidak berada di rumahnya alias kabur melarikan diri. Sedangkan terdapat bekas bercak darah di tembok rumah pelaku. Karena curiga dengan kondisi itu, warga memutuskan mencari korban di sekitar rumah Rohim. Namun, hingga sore hari tidak ditemukan. Baru pada Sabtu (1/2) pagi, jenazah korban ditemukan.
Jenazah korban ditemukan terkubur di area tebu, sekitar satu kilometer dari rumah Rohim. “Saya kaget mendengar kabar itu. Lalu, saya bersama warga lainnya dan keluarga korban, langsung menuju ke tempat tersebut,” tuturnya.
Dia juga tidak habis pikir, kenapa pelaku nekat melakukan perbuatan keji itu. Padahal antara korban dan pelaku, baru kenal. Selama ini, korban dikenal baik, suka menolong dan ramah. Selain meninggalkan seorang istri, korban juga meninggalkan tiga orang anak. Yakni Kiki Paramita Sari, 19 tahun, Kresna, 12 tahun dan Kevin, 9 tahun. (big/ary)