“Penjahat Kelamin” Kalahkan Curanmor

MALANG - Penjahat kelamin istilah populer untuk pelaku kejahatan seksual, tengah menggejala di Kabupaten Malang. Bahkan angkanya mengalahkan kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Namun di Kota Malang, angka kejahatannya berbeda, curanmor justru mengalahkan kejahatan seksual. Hal itu sesuai data yang dikumpulkan Malang Post, kemarin.
Khusus untuk kejahatan seksual, di Kabupaten Malang, angkanya semakin memprihatinkan. Lantaran dari waktu ke waktu mengalami peningkatan jumlah kasus asusila. Pada bulan Januari hingga awal Februari tahun 2015, Unit Perlindungan Perempuan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Malang, menerima laporan kejahatan asusila sebanyak 33 kasus.
Rinciannya, 24 kasus pencabulan serta pemerkosaan dan 7 kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). (Selengkapnya lihat grafis, red). Jumlah tersebut, meningkat 50 persen pada periode yang sama pada tahun 2014 lalu. Yakni total terdapat 17 kasus asusila yang dilaporkan. Sedangkan dari tahun ke tahun, jumlah laporan kasus asusila juga mengalami peningkatan.
Kasat Reskrim Polres Malang AKP Wahyu Hidayat mengatakan, para pelaku asusila itu mulai anak di bawah umur, dewasa, hingga orang yang sudah tua. Yang patur diperhatikan, rupanya mayoritas korbannya adalah anak di bawah umur.
“Mayoritas korbannya, merupakan anak di bawah umur. Kejahatan asusila ini, menjadi atensi untuk turut juga diberantas dan pelakunya ditangkap,” ujarnya kepada Malang Post kemarin.
Dijelaskannya, ada beberapa faktor yang menyebabkan meningkatnya angka kejahatan asusila di Kabupaten Malang. Diantaranya mudahnya mengakses internet dan marak beredarnya film dewasa di masyarakat. Selain itu, bagi anak berusia di bawah umur, faktor penentunya adalah lemahnya pengawasan orang tua terhadap mereka.
“Ketika kami mintai keterangan dari para pelaku kejahatan asusila itu, faktor yang paling banyak adalah tontotnan film dewasa,” kata mantan Kasat Reskrim Polres Tuban ini.
Untuk menekan lebih rendah angka kejahatan asusila, Polres Malang sudah menggalakkan sosialisasi kepada masyarakat, orang tua dan lembaga pendidikan.
Sosialisasi tersebut, melalui Binmas yang terjun langsung ke masyarakat, sekolah-sekolah dan juga pondok pesantren. “Kami juga bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang melalui instansi terkait untuk melakukan sosialisasi itu,” kata Perwira Pertama (Pama) dengan tiga balok di pundaknya ini.
Sedangkan untuk kasus pencurian kendaraan bermotor (Curanmor) di Kabupaten Malang, jumlahnya cenderung turun. Perbandingan dari tahun 2013 yang lalu, Satreskrim Polres Malang menerima laporan sebanyak 246 kasus. Sedangkan sepanjang tahun 2014 yang lalu, jumlahnya menurun menjadi 190 kasus laporan curanmor.
“Secara keseluruhan, sepanjang tahun 2014 yang lalu kami berhasil menekan angka kejahatan tiga cepu. Yakni pencurian pemberatan (Curat), pencurian kekerasan (Curas) dan pencurian kendaraan bermotor (Curanmor),” tutur pria berkacamata ini
Sementara itu, Ketua Harian Pusat Pelayanan Terpadu. Pemberdayaan Perempuan dan.Anak (P2TP2A) Hikmah Bafaqih mengaku angka asusila di Kabupaten Malang masih tinggi. “Untuk itu, kami membuat program terbaru berupa rumah pintar (Rumpin) untuk korban kejahatan asusila,” ujarnya saat dihubungi terpisah.
Ketika disinggung mengenai penyebab tingginya angka asusila, dia mengatakan mudahnya mengakses melalui situs internet dan peredaran film dewasa. Mengenai penutupan lokalisasi, dia mengatakan hal itu tidak berpengaruh. Karena faktor yang paling utama, adalah akses keterbukaan informasi yang begitu bebasnya saat ini.
“Yang patut digaris bawahi, fasilitas teknologi dan keterbukaan informasi yang bebas saat ini, harus dimanfaatkan untuk hal yang positif. Bila ada anak di bawah umur yang mengakses internet, maka harus diawasi oleh orang tua mereka,” pungkasnya.
Sementara itu, di Kota Malang kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) masih cukup tinggi. Hampir setiap harinya, kasus curanmor ini selalu terjadi. Rata-rata sehari bisa 2 – 3 kali kasus pencurian. Hal ini juga diakui oleh Kapolres Malang Kota, AKBP Singgamata SIK.
Menurutnya, tingginya kasus curanmor karena ada beberapa faktor. Pertama karena jumlah kendaraan, khususnya sepeda motor di Kota Malang ini sangat tinggi. Kemudian ditambah kepedulian masyarakat pemilik kendaraan khususnya roda dua masih sangat rendah.
“Mereka parkir di sembarang tempat yang tidak terawasi. Malas menggunakan kunci ganda, bahkan sistem pam swakarsa di perumahan-perumahan juga masih banyak yang tidak melakukan,” terang Singgamata.
Untuk itulah, untuk menekan angka curanmor di Kota Malang, mantan Kapolres Lumajang ini mencetuskan lagi program ‘Mari Bersama Perangi Kejahatan’ yang fokus pada upaya preemtif dan preventif. Yaitu meningkatkan peran serta masyarakat untuk peduli akan keamanan di rumah, RT serta RW. Termasuk meningkatkan standart pengamanan kendaraan masing-masing.
“Selain itu, upaya untuk mengungkat pelaku curanmor ini juga terus kami lakukan. Kami tidak akan memberikan ampun kepada pelaku curanmor. Mereka akan kami tindak tegas sesuai prosedur,” tegasnya.(big/agp/ary)