Warga Perumahan Graha Dewata Lapor Polisi

MALANG – Direktur PT Dewata Abdi Nusa, Drs Dewa Putu Raka Wibawa memang sudah divonis 1 tahun 7 bulan oleh Pengadilan Negeri (PN) Malang, sekitar sebulan lalu. Ia terbukti bersalah melakukan penipuan serta penggelapan sertifikat hak milik (SHM), rumah dan bangunan milik warga Perum Graha Dewata Estate. Sekarang ini Putu masih menjalani hukuman di LP Lowokwaru.
Namun permasalahan yang dihadapi Developer Perum Graha Dewata Estate Malang tersebut, tidak berhenti di sini. Setelah sebelumnya 29 orang warga yang melapor, hingga turun putusan 1 tahun 7 bulan oleh PN Malang, kemarin 8 orang warga Perum Graha Dewata Estate kembali membuat laporan ke Polres Malang Kota.
Laporan ini, menyusul ketidakpuasan warga atas putusan yang dijatuhkan kepada Putu. Karena antara putusan dengan kerugian tidak imbang. Putusan terlalu ringan, sedangkan kerugian warga cukup besar. Mereka menginginkan, supaya Putu terus menjalani hukuman secara estafet.
“Warga yang menjadi korbannya sangat banyak. Ada 126 warga. Yang melaporkan baru beberapa orang saja. Setelah laporan kali ini (kemarin, red) ada putusan dari PN, nantinya akan ada lagi warga yang melapor, karena ini masih gelombang pertama. Sehingga ia (Dewa Putus Raka, red) akan terus menjalani tahanan,” terang  Direktur Eksekutif Lingkar Study Wacana (LSW) Abdul Aziz yang mendampingi warga perumahan tersebut.
Ada delapan orang warga Perum Graha Dewata Estate, yang kemarin melaporkan Drs Dewa Putu Raka Wibawa. Yaitu Zainal Arif (Ny Wiwing), Herman (Ny Endi Fuliyani), Sutrisno (Liani), Bambang Warsito, Ketut Swastika, Sularno, Ika Widyarini serta Daryanto.
Aziz mengatakan, laporan warga Perum Graha Dewata Estate tersebut, juga setelah warga mengetahui masa hukuman Putu tinggal sebentar. Diperkirakan antara bulan Maret – Mei ini, Putu akan bebas. Karenanya, untuk mencekal Putu supaya tidak bebas, warga yang belum melapor, kemarin membuat laporan baru.“Kalau Putu ini keluar, maka proses hukum yang sedang berjalan akan terganggu. Sebab masih ada proses hukum yang ditangani tim kurator di Pengadilan Negeri Niaga Surabaya akan terganggu. Apalagi, jika dia bebas tidak ada yang menjamin akan tetap di Kota Malang. Pasalnya baik kepolisian ataupun kejaksaan masih tetap membutuhkan tandatangannya. Makanya untuk mencegah supaya tidak bebas, warga membuat laporan baru lagi,” papar Aziz.
Sekadar diketahui, Dewa Putu Raka Wibawa, Direktur Utama PT Dewata Abdi Nusa, sebelumnya pada 2013 lalu dijadikan tersangka oleh penyidik Reskrim Polres Malang Kota. Ia juga dijebloskan ke dalam penjara, karena kasus penipuan dan penggelapan.
Modus yang dilakukan Dewa Putu, sebagai pengembang Perumahan Graha Dewata, seharusnya pembeli rumah mendapat SHM (sertifikat hak milik) setelah melunasi pembayaran. Namun kenyataanya, sertifikat itu digadaikan. Bahkan korbannya mencapai 126 konsumen Graha Dewata.“Setelah laporan ini, tiga hari ke depan kami audensi dengan Kepala PN Niaga Surabaya, berkaitan dengan kasus perdata yang berhenti. Baru setelahnya akan audensi dengan pihak BRI, berkaitan dengan sertifikat. Sebetulnya hari ini (kemarin, red) atau besok (hari ini, red) kami diajak audensi dengan Kapolres Malang Kota terkait kasus ini,” jelasnya. (agp/nug)