Terungkap Sebelum Korban Dikubur

CEPAT terungkapnya aksi dugaan pembunuhan yang dilakukan oleh Deni, tidak terlepas dari peran perangkat Lowokdoro, saat mencoba memberikan bantuan kepada Kasih Rahmadhani. Diperoleh keterangan, setelah kondisi korban tidak berdaya, Deni meminta bantuan adik iparnya, Eko Hendra P atau suami Nur Aini, yang tidak tahu apa-apa, untuk mengantarkan ke rumah orang tua Deni di Lowokdoro.
Begitu sampai di lokasi, keluarga Deni pun kontan kaget mengetahui kondisi korban. Seketika itu, meminta bantuan perangkat desa. Saat itulah, dari diri korban ditemukan banyak luka lebam di tubuh, termasuk di bagian kepala. Dari kecurigaan itu, akhirnya dilaporkan kepada petugas kepolisian dan membawa korban untuk dilakukan pemeriksaan.
“Terungkapnya kejadian ini, setelah warga atau perangkat yang mencoba membantu korban, menemukan banyak luka yang mencurigakan. Makanya, dilaporkan kepada petugas dan langsung dilakukan pengembangan,” ujar Kanit UPPA Polres Malang, Iptu Sutiyo.
Dari temuan yang mencurigakan itu, tambah Sutiyo, kepada orang tua korban langsung diamankan. Kali pertama yang dilakukan, yakni dengan mengamankan orang tua korban atau tersangka, yang saat itu masih di rumah orang tuanya.
“Karena lokasi kejadian dekat dengan Polsekta Sukun, maka koordinasi dengan petugas Polsekta Sukun untuk mengamankan tersangka. Baru kemudian, dibawa ke Mapolres Malang. Sementara untuk bukti-bukti, anggota Labfor melakukan olah TKP di lokasi kejadian,” imbuhnya.
Diperoleh informasi, begitu korban diketahui meninggal, tersangka mencoba menutupi ulahnya dengan bermaksud langsung menguburkan jenazah anak. Namun niatannya, gagal karena warga sudah keburu melaporkan ke polisi. Bahkan tak lama setelah mendapat laporan, polisi datang menjemputnya.
Sementara itu, Deni, warga Jl Lowokdoro, Kebonsari, Sukun, Kota Malang yang menjadi tersangka pembunuhan Kasih Ramadhani, anak bungsunya, dikenal memiliki watak yang keras kepada keluarganya. Bahkan, sewaktu bujang Deni tega memukul ibunya sendiri di bagian kepala. Sampai-sampai, ibu Deni mendapat 18 jahitan di bagian kepala.
"Dia anaknya pendiam, tapi waktu itu ibunya sendiri pernah dia pukul sampai dijahit kepalanya," ujar ayah Deni, Munali (70) saat ditemui Malang Post di Kamar Mayat, RSSA Malang, kemarin (21/2/15). Ditambahkan, Deni yang baru pulang ke Malang pada akhir Desember 2014 lalu itu, juga sering membentak orang tuanya sendiri. "Memang seperti itu, sama orang tuanya saja berani," tambah Munali.
Sebelum pindah ke Malang, anak keempat dari delapan bersaudara itu tinggal bersama istri dan kedua anaknya, Kasih dan Dina Marselina (8), di Sulawesi. Akan tetapi, karena pertengkaran akhirnya mereka berdua pisah ranjang. Deni membawa kedua anaknya ke Malang dan tinggal di rumah orang tuanya. Munali sendiri, mengaku tidak tahu alasan Deni bertengkar dengan istrinya. Munali hanya mengetahui, kalau pertengkaran Deni dan Istrinya sudah sering dilakukan.
"Tidak tahu karena apa. Mereka sering bertengkar. Deni pernah minggat sampai 3 kali," terang Munali. Menurutnya, perilaku Deni sejak dulu memang seperti itu. Tidak ada perubahan yang signifikan pada Deni, saat sebelum dan sesudah dia pindah dari Sulawesi.
Kendati keras terhadap keluarga, kepada teman sepergaulannya Deni justru bersikap sebaliknya. Bahkan, kerap kali Deni terlihat menundukkan kepala sejenak untuk menyapa warga sekitar. Ahmad Yudi, tetangganya mengatakan, Deni kerap kali merendah bila bertemu dengan warga sekitar. Karena itulah, dia kaget saat mengetahui Deni tega membunuh buah hatinya sendiri."Kalau sama teman-temannya, dia (Deni) ramah dan sering merendah. Tapi, kalau sama keluarganya dia keras. Saya lihat di jenazah Kasih, banyak bekas pukulan bambu di sekujur tubuhnya. Sepertinya sudah lama, soalnya sudah menghitam," ujar Yudi. Yudi tidak berani menyimpulkan, apakah Deni itu mengalami gangguan jiwa. Hanya saja, sepengetahuannya dulu Deni sering kejang-kejang.
Sejak 2 bulan lalu pindah ke Malang, Deni sering membantu adik iparnya Eko Hendro menggarap sawah dekat rumah Eko di Dusun Buwek, Desa Sitirejo, Kecamatan Wagir. Hampir setiap hari, Deni berkunjung ke rumah Eko. Sering juga, dia membawa Kasih dan Dina ke rumah adik iparnya tersebut. Saat ayahnya bekerja, Kasih dan Dina biasanya bermain bersama putri Eko yang berusia 7,5 tahun.
Akan tetapi, baru kemarin Eko mengetahui kakak iparnya itu memukuli kedua anaknya. Eko dan istrinya geram melihat kelakuan Deni terhadap anaknya. Bahkan, Nur Aini (adik kandung Deni) sampai adu mulut akibat Deni sering main tangan pada anak-anaknya, meski hanya karena hal sepele.
"Saya pulang dari sawah, melihat dia (Deni) dan istri saya bertengkar. Istri saya mengadu kepada saya, saya sudah peringatkan, 'Jangan pukuli anakmu, kalau mau pukuli anak keluar sana'. Tapi dia malah memarahi balik 'ini lagi mengajari anak saya' kata Deni begitu," ujar Eko.
Eko dan Nur Aini geram lantaran alasan Deni memukuli anaknya itu sangat sepele. Menurut Eko, Deni emosi karena kedua anaknya berebut baju pemberian Nur Aini yang baru pulang dari Yogyakarta, Jumat (20/2/15) lalu.
Dina mendapat baju bewarna pink, sedangkan Kasih mendapat baju warna biru. Dina yang menyukai warna biru, memaksa adiknya untuk menukar bajunya. Kasih tidak mau menukar baju pemberian bibinya itu. Akhirnya, keduanya bertengkar.
 "Namanya anak-anak, kalau bertengkar wajar. Tapi mungkin Deni emosi, dia malah memarahi anaknya. Sepertinya, tidak hanya Kasih yang kena pukul, tapi juga Dina," paparnya. Diduga pukulan Deni ke anaknya tersebut sangat kuat. Sebab, bambu yang digunakan Deni untuk memukul anaknya sampai patah.
"Saya juga bingung, saat mengetahui anaknya tidak sadarkan diri Deni panik. Dia meminta saya memanggil ibunya yang ada di Lowokdoro, tapi tidak mau. Akhirnya saya kembali dan mengantar Deni pulang. Sepanjang perjalanan, saya sudah curiga kalau Kasih meninggal. Benar saja, waktu diperiksa bidan, bidan itu mengatakan kalau kasih sudah meninggal," pungkasnya. Kini, Deni diamankan di Polres Malang untuk diperiksa lebih lanjut. (erz/nug)