Sempat Sungkem,Lalu Meninggal

JERIT tangis kesakitan serta permohonan ampun, yang terucap dari bibir Kasih Ramadhani, sama sekali tidak menyentuh hati Deni, ayah kandungnya. Pria kelahiran 8 Juli 1983 ini terus memukuli anak sulung dari dua bersaudaranya. Menggunakan potongan bambu, Kasih terus dipukul beberapa kali hingga bocah kecil tersebut meregang nyawa.
“Saya lupa berapa kali memukulinya. Pokoknya lebih dari 20 kali. Bambu yang saya buat memukul sampai patah,” tutur Deni, kepada Malang Post saat diamankan di Mapolsekta Sukun.
Saat mendapat siksaan dari sang ayah, bocah kelas 1 SD tersebut sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Bocah kelahiran 16 Juli 2008 tersebut hanya pasrah sembari menangis dan menjerit kesakitan. Dina Marselina kakak kandung Kasih, juga tidak bisa membela adiknya.
Dina, yang lahir 9 Maret 2007 itu hanya bisa melihat adiknya dipukuli. Ia juga menangis, karena sebelumnya sempat dipukul oleh Deni, menggunakan bambu. Hanya saja Dina dipukul sekali saja, sedangkan Kasih berulang kali.
Deni, baru menghentikan pemukulan setelah melihat kondisi anaknya Kasih lemas dan berlumuran darah. Sebelumnya, saat memukuli Deni terlihat seperti orang kesurupan. Ia seperti kerasukan setan, hingga tega menganiaya anak kandungnya sendiri.
Setelah dipukul, Kasih kemudian diminta untuk pergi ke kamar mandi. Deni meminta Kasih membersihkan darah yang berlumuran di wajah serta tubuhnya. Darah tersebut keluar dari luka robek di kepala belakangnya.
Usai membersihkan darah di wajah serta tubuhnya, Kasih lalu menghampiri ayahnya. Ia minta untuk diambilkan air minum, karena merasa haus. Kasih juga sempat sujud (sungkem,red) di kaki Deni, untuk meminta maaf.
“Anak saya sempat minta maaf,” kata Deni, sembari menitikkan air matanya. Namun belum sempat memberi minum, Kasih langsung tergeletak tak sadarkan diri. Melihat hal itu, Deni lalu meminta adik iparnya, Eko Hendro (40) untuk mengantarkan pulang ke rumah orangtuanya di Jalan Lowokdoro Gang 3, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sukun, sembari menggendong kasih. Saat tiba di rumah orangtuanya, ternyata Kasih sudah tidak bernyawa.
“Saya khilaf dengan apa yang saya lakukan. Saya menyesal sekali. Tidak menyangka kalau perbuatan saya, mengakibatkan anak saya meninggal dunia,” paparnya, dengan kedua tangan terborgol.
Kapolsekta Sukun, Kompol Sutantyo, mengatakan pihaknya hanya sekedar mengamankan tersangka saja, setelah mendapat laporan dari warga. Selanjutnya, karena TKP pembunuhan berada di wilayah Polres Malang, usai diperiksa tersangka diserahkan ke Polres Malang.
“Tadi petugas Babhinkamtibmas kami mendapat laporan dari warga yang curiga dengan kematian korban. Selanjutnya melaporkan pada saya. Kemudian bersama dengan Kanitreskrim saya melihat ke lokasi. Dan ternyata memang korban meninggal usai dipukuli ayahnya. Saat itu juga, ayahnya langsung kami amankan, sedangkan jenazah korban kami bawa ke kamar jenazah RSSA Malang,” tegas Sutantyo.(agp/nug)