Pembunuh Anak Kandung Depresi

MALANG POST  Deni, 32 tahun, ayah yang tega menyiksa anak kandungnya bernama Kasih Rahmadani, 7 tahun hingga meninggal, hanya bisa menyesali perbuatannya. Warga Jalan Lowokdoro Gang 3, RT 06 RW 04, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sukun Kota Malang ini, terancam hukuman selama 15 tahun penjara, lantaran perbuatannya tersebut.
Saat diperiksa di ruangan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Malang kemarin siang, Deni berulang kali menitikkan air matanya. Dia seakan tidak percaya, hingga tega melakukan penyiksaan itu. Di hadapan penyidik yang memeriksanya, dia mengaku saat itu sedang depresi, lantaran banyak masalah serta pikiran.
Sehingga, bapak dua anak ini, dengan tega membabi buta melakukan pemukulan terhadap anak kandungya sendiri. “Perbuatan ini, merupakan akumulasi dari permasalahan yang saya hadapai sekarang. Saya juga tidak menyangka, bisa melakukan perbuatan seperti ini,” ujarnya kepada wartawan kemarin, sembari menangis.
Dia menjelelaskan, permasalahan dipicu saat ditinggalkan istrinya bernama Watu, 27 tahun. Selama satu tahun ini, tersangka telah ditinggalkan istrinya tanpa alasan yang jelas. Ceritanya, dia bersama istri serta kedua anaknya, bekerja di Sulawesi. Tahun 2014 yang lalu, tiba-tiba istrinya meninggalkan rumah tanpa pamit dan tidak ada kabar.
“Saya yakin, Wati itu kecantol sama pria lain yang lebih mapan. Sehingga dengan tega meninggalkan saya dan anak-anak,” terangnya. Karena tidak ada kepastian tentang istrinya tersebut, dia dan anak-anaknya pulang ke Malang pada Desember 2014 lalu. Mereka tinggal bersama orang tua tersangka bernama Munali dan Kasiyem.
Karena tida mempunyai pekerjaan, tersangka meminta pekerjaan kepada adik kandungnya Nur Aini. Selama tiga hari sebelum kejadian, mereka menjaga rumah Nur Aini di Dusun Duwek, RT02 RW04, Desa Sitirejo, Kecamatan Wagir. Tersangka bekerja di gubuk dan lahan pertanian yang berada di samping Rumah Nur Aini.
Sebelum kejadian pemukulan, kedua anaknya mendaptkan hadiah berupa baju dari Nur Aini. Dina Marselina, 8 tahun, mendaptkan baju warna merah muda, sedangkan Kasih Rahmadani, 7 tahun, mendaptkan baju berwarna biru. Sedangkan Kasih, menginginkan baju warna merah muda milik kakanya tersebut.
Sehingga, terjadi keributan dari dua anak yang masih kecil-kecil tersebut. “Saat itu, saya disuruh Nur Aini untuk melerai anak saya, dengan nada tinggi. Hal itu, membuat saya terseinggung. Karena saya sudah capek-capek bercocok tanam,” urainya. Akhirnya, dia nekat melakukan pukulan kepada Kasih sebanyak 20 kali menggunakan bambu.
Sedangkan Dina, juga dipukul, namun, tidak sebanyak apa yang dialami Kasih. Saat dipukul itu, Kasih diam dan kemudian minta maaf kepada ayahnya. “Setelah meminta maaf tersebut, Kasih sempat meminta kepada saya es krim,” tuturnya. Kemudian, tiba-tiba kondisi Kasih, mengalami drop atau sakit.
Disinggung mengenai pemukulan itu hingga berdarah, dia mengaku tidak sampaai terjadi hal itu. “Yang saya tahu, hanya memamr-memar. Kemudian, saya bawa ke rumah orang tua saya di Lowok Doro. Selama perjalanan, Kasih saya pangku. Kemudian, saat di rumah, oleh bidan anak saya dinyatakan telah tiada,” ucapnya lirih.
Sementara itu, Kanit PPA Satreskrim Polres Malang Iptu Sutiyo mengatakan, akan terus menyelidiki kasus ini. Termasuk menggali lebih dalam lagi, peristiwa sebenarnya. “Nantinya, akan kami hadirkan anak pertamanya, bernama Dina untuk diperiksa. Tentunya, harus dilakukan pendamipngan oleh psikolog,” ujarnya di tempat yang sama.
Selama menjalankan pemeriksaan nantinya, saksi kunci tersebut akan didampingi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak, (P2TP2A) Kabupaten Malang. “Tentunya psikologis anak tersebut, sedang tertekan dan trauma sekarang. Sehingga, membutuhkan pendampingan,” kata dia.
Atas perbuatan yang dilakukan itu, tersangka dijerat pasal 351 KUHP tentang penganiayaan hingga meninggal dan UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara. (big/nug)