Edan, Kepsek Cabuli Dua Siswi

MALANG POST - Kepala sekolah seharusnya mengajarkan akhlak maupun pendidikan yang baik kepada murid-muridnya. Ia sosok tauladan pengganti ayah yang harus melindungi siswa seperti anak sendiri. Namun apa yang dilakukan Kepala MTs Bustanul Ulum Pakisaji Drs. Arofi S.Ag, warga Jalan Damean Kecamatan Singosari ini sungguh keterlaluan. Ia diduga mencabuli dua siswinya saat perkemahan Sabtu-Minggu (Persami).
Dua siswi itu berinisial LF dan RD yang sama-sama berusia 14 tahun, warga Desa Wedung Kecamatan Pakisaji. Akibat perbuatannyaitu, sejak kemarin tersangka harus mendekam di balik sel Mapolres Malang.
Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Malang Iptu Sutiyo SH M.Hum mengatakan, pencabulan yang dilakukan tersangka terjadi 31 Januari 2015. Saat itu, MTs Bustanul Ulum Pakisaji, mengadakan kegiatan Pramuka, Persami untuk siswa kelas 1 dan 2.
Saat kegiatan perkemahan berlangsung, ada guru pembimbing dan Kepala MTs Bustanul Ulum Pakisaji Drs Arofi S. Ag. “Sebelum terjadi pencabulan itu, murid dan duru sedang menikmati kegiatan perkemahan, mereka menyalakan api unggun,” ujarnya kepada wartawan kemarin.
Saat asyik di sekeliling api unggun, tiba-tiba LF dan RD berteriak histeris lantaran melihat bayangan yang diperkirakan hantu. Keduanya berteriak ketakutan tiada henti. Kemudian, oleh Drs H Arofi S.Ag, satu per satu siswi digendong serta dibawa ke dalam mobil pribadi miliknya.
“Tersangka melakukan pencabulan di dalam mobil miliknya. Saat kedua korban sedang syok melihat bayangan yang dikira hantu, tersangka memanfaatkan situasi itu, yakni dengan menggerayangi tubuh kedua korban dari atas ke bawah, hingga melakukan ciuman,” terang Perwira Pertama (Pama) dengan dua balok di pundaknya tersebut.
Lanjut dia, karena merasa risih, akhirnya kedua siswi memutuskan untuk keluar dari mobil dan menuju kembali ke perkemahan lalu melaporkan peristiwa yang dialaminya itu kepada salah seorang guru bernama Muhammad Mukhlis, 37 tahun, warga Desa Dilem Kecamatan Kepanjen.
“Kemudian, saksi ini, membawa kedua korban pulang ke rumahnya masing-masing,” kata pria yang juga menjabat sebagai Kanit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) ini.
Tidak terima perbuatan yang dilakukan oleh tersangka, masing-masing orang tua korban sepakat bersama-sama melaporkan kejadian tersebut ke Mapolres Malang. “Kemudian, dini hari tadi (kemarin), kami lakukan penangkapan tersangka di rumahnya. Setelah penyidik mendapatkan dua alat bukti yang kuat serta keterangan dari para saksi, akhirnya kami memutuskan untuk menangkap tersangka di rumahnya,” kata dia.
Akibat perbuatan yang dilakukan itu, tersangka dijerat dengan pasal 81-82 UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. Sementara itu, Arofi mengelak telah melakukan pencabulan. Ia berdalih hanya membantu megobati kedua sisiwinya yang mengalami kerasukan.
“Kedua sisiwi saya itu kerasukan, makanya berteriak histeris. Maka dari itu, saya bantu mengobati di dalam mobil, dengan meniupkan di kening mereka,” kata Arofi di hadapan penyidik yang memeriksanya.
Selain itu, dia juga memberikan doa-doa berupa bacaan  Alquran salah satunya Ayat Kursi, untuk menyembuhkan keduanya. Terkait pelaporan dirinya atas pencabulan, ia menduga ada guru yang tidak senang kepadanya. “Biasalah, namanya di sekolahan, ada guru yang tidak suka dengan saya. Mungkin, karena saya menjabat terlalu lama. Maka dari itu, saya dilaporkan pencabulan seperti ini,” tudingnya.
Sementara itu, salah satu guru MTs Bustanul Ulum Pakisaji yang dihubungi Malang Post enggan menerima wawancara. Ia juga tidak banyak berkomentar terkait kasus ini. “Mohon maaf, saya dan teman-teman, masih menjaga nama baik sekolah. Karena masih terdapat ratusan siswa kami yang masih menuntut ilmu dan harus diluluskan,” kata dia melalui pesan singkat.(big/han)