Periksa Adik Tersangka Beserta Suaminya

MALANG POST - Penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Malang, terus mendalami kasus Deni, 32 tahun, ayah yang tega menyiksa anak kandungnya bernama Kasih Rahmadhani, 7 tahun hingga meninggal. Terbaru, dalam waktu dekat ini, penyidik bakal memanggil dua saksi lain yang terkait kasus ini.
Mereka adalah adik tersangka Nur Aini dan suaminya bernama Eko, warga Dusun Buwek Desa Sitirejo Kecamatan Wagir. Keduanya mengetahui langsung peristiwa penganiayaan tersebut. Sehingga penyidik UPPA Satrekrim Polres Malang, merasa perlu memintai keterangan terhadap keduanya.
“Kami mendalami keterlibatan kedua saksi ini, terkait peristiwa penganiayaan yang berujung kematian terhadap korban Kasih Rahmadhani,” ujar Kanit PPA Satreskrim Polres Malang, Iptu Sutiyo SH M.Hum, kepada Malang Post kemarin. Pendalaman tersebut, untuk mengetahui kronologis kejadian yang sebenarnya.
Termasuk untuk mengetahui keterlibatan keduanya, terkait penganiayaan itu. Bila nantinya ditemukan fakta baru, maka keduanya bisa diproses hukum. Fakta baru yang dia maksud, keterlibatan mereka secara langsung dalam melakukan penganiayaan. Atau bisa juga, turut membantu tersangka saat melakukan penganiayaan.
“Namun untuk sementara ini, kami belum menemukan dugaan kedua hal itu. Akan tetapi tetap melakukan pendalaman dengan memanggil keduanya,” terang Perwira Pertama (Pama) dengan dua balok di pundaknya ini. Disinggung mengenai kemungkinan memeriksa Dina Marselina, dia mengatakan tidak perlu. Dina adalah anak pertama tersangka yang juga mengalami pemukulan oleh ayahnya, namun hanya sekali. Saat ini, keberadan dari Dina, diasuh oleh kakek-neneknya bernama Munali 69 tahun dan Kasiyem, 63 tahun. Menurutnya, psikologis dari yang bersangkutan sedang tertekan, mustahil dilakukan pemeriksaan.
“Pemanggilan tambahan Nur aini dan suaminya, kami rasa sudah cukup. Tidak perlu melibatkan anak tersangka yang turut jadi korban,” terang pria yang juga menjabat sebagai Kanit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) ini.
Untuk memberikan perlindungan kepada Dina, pihaknya bekerjasama dengan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Malang. “Selain itu, P2TP2A Kabupaten Malang, juga memberikan pendampingan psikolog untuk memulihkan mental korban,” imbuhnya.
Menurutnya, tidak mudah mengembalikan mental seseorang yang menjadi korban penganiayaan oleh ayah kandungnya sendiri. “Mental anak itu (Dina) pasti down. Dia menjadi takut, ketika bertemu dengan laki-laki. Karena pastinya akan dihantui dengan perbuatan yang dilakukan ayahnya tersebut,” pungkasnya. (big/han)