Dirampok, Lalu Dibunuh

MALANG POST - Kriminalitas kembali terjadi di Kabupaten Malang. Kali ini aksi sadis pelaku perampokan terjadi di wilayah hukum Polsek Tumpang, persisnya di Dusun Glanggang, Desa Slamet, Rabu dini hari sekitar pukul 03.00. Pelaku yang berjumlah sekitar tiga orang dengan memakai cadar dan sajam, secara keji melukai korbannya hingga meninggal. Adalah Suwandi, 50 tahun warga Dusun Luring, Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, yang diketahui sebagai pemilik selep dan penjual beras, yang menjadi sasaran aksi pelaku.
Dalam kejadian itu, selain mengakibatkan korbannya meninggal, kawanan pelaku juga berhasil membawa kabur motor Honda Revo dan uang yang disimpan korban di gudang. Sementara beras yang ada di selep, tetap utuh dari sentuhan pelaku.
“Terkait kejadian ini, anggota masih melakukan pengembangan. Dari hasil pemeriksaan sementara, saat peristiwa itu berlangsung hanya ada korban dan istri sirinya, Kasiatun, 37 tahun. Istri siri korban saat kejadian itu berhasil melarikan diri,” kata Kapolsek Tumpang, AKP Hartono.
Kapolsek menerangkan, aksi perampokan terjadi saat penjaga malam selep yaitu Sutikno, 42 tahun warga Dusun Glanggang, pamit untuk pulang. Saat di dalam bangunan selep hanya ada korban dan istri sirinya, kawanan pelaku masuk dengan cara meloncati pagar belakang bangunan.
Saat berusaha masuk itulah, diduga aksi kawasanan pelaku dipergoki oleh korban. Akibatnya, terjadi perkelahian yang saat itu tanpa sadar membangunkan Kasiatun yang langsung melarikan diri dengan keluar bangunan selep, lalu bersembunyi.
“Korban diduga dikeroyok pelaku. Sebab luka bacok didapati di sejumlah tubuh Suwandi. Kawanan pelaku, kemudian mengambil motor dan uang yang jumlahnya masih belum bisa dipastikan jumlahnya. Karena, usai kejadian itu, istri siri korban masih shock dan belum bisa diminta keterangan,” tambahnya.
Setelah kawanan pelaku kabur, istri siri korban akhirnya meminta tolong dengan mendatangi rumah penjaga malam. Yang menjadi masalah, lokasi selep berada di lokasi persawahan dan lumayan jauh dari pemukiman. Kasiatun dan Sutikno lah yang kemudian menolong dan membawa Suwandi ke RS Lavalette namun ia dinyatakan sudah meninggal dunia.
“Sebelum kejadian berlangsung, istri siri korban ada di dalam bangunan. Sementara korban, di bagian halaman atau luar bangunan dalam.  Sepeda motornya, ditaruh di depan bangunan dalam,” paparnya.
Penjaga malam selep, Sutikno, saat diminta keterangan menjelaskan, sebelum aksi perampokan terjadi, di sekitar lokasi selep tidak ada hal-hal yang mencurigakan. Karenanya, dia meminta izin untuk pulang ke rumah sambil menjenguk istrinya yang baru beberapa hari usai menjalani kiret.
“Yang menjaga selep itu biasanya saya. Namun, karena malam itu bapak (Suwandi) datang juga bersama istrinya, saya pamit untuk pulang. Waktu itu, diberikan izin sehingga saya pun pulang,” ujar Sutikno.
Tidak lama pulang, tambah Sutikno, dirinya diberitahu istri majikannya mengenai aksi perampokan itu. Makanya, ia langsung menuju ke lokasi selep dan mendapati Suwandi sudah tergeletak di depan pintu bagian bangunan dalam.
“Seketika itu, saya meminta bantuan mobil yang melintas untuk membawanya ke rumah sakit,” ujarnya.
Ditanya mengenai jumlah uang yang ada di selep, Sutikno mengaku, sangat kecil kemungkinan uang disimpan di selep. Makanya, ia tak tahu nominal uang yang hilang.
“Kalau masalah uang, saya tidak tahu. Setahu saya, selain menyelep beras, bapak juga menjual beras. Kalau pun seluruh hasil penjualan beras disimpan, maksimal paling banyak ya Rp 10 juta. Namun, saya tidak paham mengenai itu. Yang pasti, selama empat hari ini penjualan atau selep tengah sepi,” papar Sutikno. (sit/han)