Emosi, Jangan Lakukan KDRT

KEPANJEN - Meningkatnya kejadian Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan kekerasan anak di bawah umur di Kabupaten Malang belakangan ini, menimbulkan keprihatinan. Untuk itu, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Malang akan menggalakkan sosialisasi kepada masyarakat.
Kanit PPA Satrekrim Polres Malang Iptu Sutiyo SH M.Hum mengatakan, meningkatnya kedua kejadian itu karena kurangnya pemahaman masyarakat.
“Kami rasa perlu segera melakukan sosialisasi kepada masyarakat, supaya paham akibat dari bahaya dari KDRT tersebut,” ujar Sutiyo kepada Malang Post kemarin.
Dijelaskannya, perisitwa terakhir KDRT terjadi pada Sabtu (21/2) lalu. Saat itu, ada seorang ayah kandung bernama Deni, 32 tahun, yang tega memukul kedua buah hatinya. Sehingga, menyebabkan anaknya yang kecil bernama Kasih Rahmadhani, 7 tahun, meninggal. Anak keduanya bernama Dina Marcelina, 8 tahun, trauma berat.
“Sebenarnya, kami sudah memberikan sosialiasi sejak lama. Namun, berkaca dari peristiwa ini, sosialisasi kepada masyarakat perlu ditingkatkan lebih banyak lagi,” terang Perwira Pertama (Pama) dengan dua balok di pundaknya ini. Sedangkan untuk melakukan sosialiasai, pihaknya menggandeng instansi terkait.
Dalam hal ini Kantor Pelayanan Perlindungan Perempuan dan Anak (KP3A) Kabupaten Malang dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Malang. Menurutnya, kedua instansi tersebut, selama ini bekerjasama dengan kepolisian, untuk menangani permasalahan perempuan dan anak.
“Kami juga siap bekerjasama dengan organisasi masyarakat (Ormas) maupun lembaga perlindungan perempuan dan anak lainnya, untuk melakukan sosialisasi,” terangnya. Yang paling penting kata dia, sosialisasi tersebut tepat sasaran. Terutama bagi masyarakat yang berada di pedasaan, kurang memahami bahaya KDRT.
“Bermula dari KDRT, berimbas kepada perempuan dan anak yang menjadi korbannya. Mereka menjadi korban penganiayaan oleh suami atau ayahnya,” terangnya. Sedangkan sosialisasi yang dimaksud, menyasar kepada kelompok masyarakat. Bentuknya, mereka dikumpulkan di Balai desa atau Balai RW untuk ikut sosialisasi.
Lanjut dia, sosialisasi itu ditekankan kepada bahaya melakukan kekerasan, ketika sedang emosi maupun mempunyai masalah. “Kalau sedang emosi dan banyak masalah, jangan sampai melakukan kekeresan. Karena itu tidak diperbolehkan secara hukum maupun norma yang berada di masyarakat,” pungkasnya. (big/aim)