Pelaku Pakai Mio, Satu Berlogat Madura

JABUNG - Fakta baru pelaku aksi perampokan disertai pembunuhan yang menimpa juragan selep beras, Suwandi, 50 tahun warga Dusun Luring, Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, mulai terkuak. Saksi kunci sekaligus istri siri korban, Kasiatun, 37 tahun warga Desa Gading Kembar-Jabung, yang saat kejadian berada di lokasi perampokan bersama korban, menjelaskan, kawanan pelaku dalam aksinya memakai motor Mio, yang diduga disembunyikan tidak jauh dari lokasi kejadian.
“Saya masih shok mengingat kejadian itu (perampokan dan pembunuhan). Apalagi, bagaimana bapak (Suwandi) melakukan perlawanan dan dibacok oleh kawanan pelaku hingga mengalami banyak luka bacokan di tubuh, saya melihat langsung kejadiannya,” kata Kasiatun saat ditemani keponakannya, Hendik.
Dia menambahkan, selama aksi perampokan berlangsung, tiga pelaku yang masuk ke dalam selep, tidak semuanya mengeroyok Suwandi. Namun, hanya dua pelaku yang mengeroyok suaminya sementara satu pelaku sibuk hendak membawa kabur motor yang kuncinya menempel di kendaraan.
“Saat mengeroyok, seorang pelaku menyuruh temannya agar segera membacok bapak. Pelaku memakai bahasa Jawa, yang kata-katanya ‘Wes yo ndang bacok en (sudah, cepat bacok)’. Sementara saat kejadian itu, seorang pelaku juga berbicara dengan logat kental Madura. Padahal, di komunitas masyarakat Glanggang, rata-rata masyarakatnya berbahasa Jawa. Jadi, ada kemungkinan orang-orang itu adalah suruhan,” ujar ibu dua anak dari suami pertamanya tersebut.
Masih menurut Kasiatun, saat pelaku mengeroyok dan membuka gerbang selep untuk mengeluarkan motor Revo, kesempatan itu kemudian digunakannya untuk kabur dari lokasi di dalam selep. Selanjutnya, ia sembunyi di gorong-gorong saluran air di dekat pintu masuk selep.
“Seorang pelaku waktu itu sempat mengejar saya. Beruntungnya, tidak sampai ketemu. Sedangkan saya, baru bangkit dari tempat sembunyi untuk menolong bapak, begitu mendengar bunyi sepeda motor yang digunakan meninggalkan lokasi. Saat itulah, saya baru sadar kalau ada satu motor lain di dekat lokasi yakni Mio warna gelap, yang ternyata milik pelaku,” imbuhnya.
Ditanya mengenai keberadaan korban bersama dirinya di selep, Kasiatun mengurai, sebenarnya malam itu tidak ada niatan untuk menginap. Namun, karena suaminya kecapekan usai kerja di selep, akhirnya memutuskan untuk tidak pulang ke rumah malam itu.
“Karena kami berdua biasanya menginap juga di selep, makanya tidak ada firasat apa-apa malam itu. Apalagi, selama ini bapak juga tidak pernah bermusuhan dengan orang atau warga luar. Sebaliknya, melalui selep yang dikelola tersebut, justru banyak membantu warga. Mengenai uang yang disimpan bapak pun relatif, jumlah uangnya tidak pasti karena keluar-masuk. Selain digunakan untuk membeli beras juga menerima uang hasil penjualan beras. Namun, malam itu kalau uangnya sekitar Rp 10 juta-an, mungkin ada. Sedangkan uang saya sendiri, sekitar Rp 1,150 juta,” paparnya panjang lebar.
Disinggung mengenai gembok selep yang rusak, perempuan berambut sebahu itu mengatakan, memang selama beberapa hari terakhir ada upaya paksa untuk masuk ke dalam gudang dengan merusak gembok. Hanya saja, niatan itu tidak kesampaian. Akibatnya, hanya gembok yang mengalami kerusakan. Sehingga, harus dibuka paksa suaminya untuk bisa masuk ke dalam selep.
“Gemboknya memang sering diganggu oleh orang. Kesannya, seperti hendak masuk ke dalam selep. Tapi, pelakunya tidak berhasil dan hanya mengakibatkan gembok rusak. Sementara malam itu, tidak ada niatan untuk menyanggong perusak atau pelakunya,” ungkap saksi.
Ditanya mengenai hubungan korban dan Sutikno, penjaga malam yang saat kejadian pulang ke rumah, Kasiatun mengatakan, selama sekitar tiga tahun lebih, tidak ada masalah. Bahkan, malam itu karyawan khusus jaga malamnya itu, memang ada di lokasi.     
“Sutikno malam itu memang sempat di selep. Namun, dia langsung pulang dan baru tahu kejadian setelah rumahnya saya datangi. Sedangkan hubungan bapak dengan Sutikno, selama ini tidak ada masalah,” lanjutnya.
Untuk mengungkap aksi perampokan disertai pembunuhan tersebut, Polsek Tumpang secara terpisah masih terus melakukan pengembangan di sekitar lokasi kejadian. Selain meminta karyawan dan warga, petugas juga berusaha untuk meminta keterangan saksi kunci. Hanya saja, karena pertimbangan kondisi saksi, pemeriksaan dilakukan secara bertahap.
“Keterangan dari saksi kunci sangat diperlukan dalam membantu mengungkap aksi perampokan ini. Karenanya, anggota selain melakukan pengembangan di lapangan, nantinya akan memanggil istri siri korban,” kata Kapolsek Tumpang, AKP Hartono.
Disinggung pemeriksaan Sutikno, kapolsek mengatakan, sudah diperiksa anggota setelah kejadian berlangsung. Dari pemeriksaan itu, didapat keterangan bahwa saksi yang turut menolong korban usai perampokan, tidak tahu-menahu dan curiga saat meninggalkan lokasi kejadian. Sementara tugasnya di selep, terkadang saat malam masuk di dalam selep dan tidurnya, kembali ke rumah.
“Dia hanya tugas malam. Itu pun, tidak harus tidur di dalam selep. Makanya, masih sulit dilakukan pengembangan dari karyawannya tersebut,” paparnya.
Sebagaimana diberitakan, aksi sadis dilakukan tiga pelaku perampokan di selep Dusun Glanggang, Desa Slamet. Kawanan pelaku bersenjata sajam yang berhasil membawa kabur motor dan uang itu, juga membunuh pemilik selep. (sit/han)