Menantu Durhaka, Tabrak Mertua Hingga Tewas

DAMPIT - Aksi menantu melakukan kekerasan hingga membunuh mertuanya tidak hanya ada di sinetron atau FTV siang. Kisah itu nyata dan baru saja dilakukan Suwanto, 44 tahun, warga Dusun Sukorame Desa Bumirejo Kecamatan Dampit. Tak terima karena dilerai oleh sang mertua Rupini, 65 tahun saat bertengkar dengan istri, Suwanto nekat  menabrak mertuanya dengan truk hingga tewas.
Akibat kejadian itu, dia harus mendekam di sel Polsek Dampit untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kanit Reskrim Polsek Ipda Soleh Mas’udi mengatakan Suwanto nekat melakukan perbuatan itu (menabrak Rupini, red) lantaran tersinggung karena mertuanya turut campur dalam permasalahan dengan istrinya itu.
Melalui reka ulang kemarin sore, diperoleh beberapa fakta baru. Aksi barbar Suwanto diawali dari ulahnya yang meninggalkan istrinya Jumiatin, 41 tahun, selama empat bulan tanpa kabar. Saat pulang ke rumah, Suwanto bukannya meminta maaf karena tak memberi nafkah kepada istri dan kedua anaknya yang masih kecil, ia malah terus bertengkar dengan sang istri, tidak berkesudahan.
“Pada hari Minggu (15/2), Suwanto pulang ke rumahnya. Saat itu, langsung terjadi cekcok dengan istrinya,” kata Soleh Mas’udi.
Jumiatin mempersoalkan suaminya yang selama empat bulan tidak pulang dan tidak memberikan nafkah. “Mereka ini ribut selama tiga hari berturut-turut,” ucap mantan Kasubag Humas Polres Malang ini. Karena prihatin keduanya ribut terus, Rupini melerai keduanya, apalagi ia melihat Suwanto sempat memukul istrinya.
Saat hendak melerai itu disalah artikan oleh Suwanto. Ia tersinggung, apalagi Rupini lebih membela anak kandungnya. Karena tersinggung, pada Rabu (18/2) malam, timbul niatan jahat Suwanto untuk merusak rumah mertuanya itu.
Menggunakan truk N 9365 AU, tersangka menabrak rumah mertuanya. “Tersangka menjalankan aksinya, usai pulang kerja. Tepatnya setelah mengantarkan muatan pasir dari Kabupaten Lumajang menuju Kota Batu. Kemudian, pulang ke Kecamatan Dampit,” kata Perwira Pertama (Pama) dengan satu balok di pundaknya tersebut.
Suwanto menabrak rumah mertuanya dua kali. Tabrakan pertama, dengan bagian belakang truk, menghantam keras ruang tamu lalu ia memutar balik truknya dan tabrakan kedua menghantam keras bagian ruang keluarga yang berdekatan dengan dapur. Bersamaan itu, korban keluar dari pintu yang berada di samping ruang itu hingga ikut tertabrak. Rupini pun tewas sekitka di lokasi kejadian.
Melihat hal itu, Suwanto lalu melarikan diri ke rumah temannya ke Kecamatan Ampelgading. Jumiatun, kembaran Jumiatin yang mendengar kabar tersebut langsung bergegas menuju rumah orangtuanya dan membawa Rupini ke RS Bokor Kecamatan Turen.
Karena sudah dalam keadaan tidak bernyawa, pihak RS merekomendasikan dirujuk ke Kamar Mayat RSSA Kota Malang. Kepolisian yang dapat laporan mengenai peristiwa maut itu, lalu bergegas menuju lokasi kejadian. Petugaspun bergegas melakukan pengejaran dan menangkap tersangkap. “Hanya dua jam setelah kejadian, kami dibantu Buser Polres Malang, berhasil menangkap pelaku,” tuturnya.  Suwanto dijerat pasal 338 KUHP tentang pembunuhan sub 359 KUHP tentang kelalaian mengakibatkan korban jiwa sub 406 KUHP tentang pengrusakan. (big/han)

Terkenal Temperamen, Sering Memukul Istri
Apa yang dilakukan Suwanto terhadap Rupini, membuat geram anggota keluarga yang lain. Jumiatun, 37 tahun, menginginkan kakak iparnya tersebut dihukum seberat-beratnya. Lantaran sudah melakukan perbuatan keji  dengan menabrak Rupini menggunakan truk hingga tewas.
Ditemui usai rekontruksi, Jumiatun mengatakan, Suwanto memang dikenal keras oleh keluarganya. “Berulang kali mereka  cek-cok. Masyarakat sekitar juga menganggap hubungan mereka kurang harmonis. Sehingga, wajar bila setiap hari ribut,” ujarnya kepada Malang Post kemarin sore.
Dia menjelaskan, Suwanto juga tega memukul istri dan tidak memberi nafkah. “Empat bulan ditinggal tanpa kabar dan diterlantarkan, istri mana yang kuat. Apalagi tidak diberi uang untuk nafkah,” ujarnya. Lanjut dia, setelah ditelantarkan empat bulan, tiba-tiba Suwanto pulang ke rumahnya sehingga terjadi cek-cok di antara keduanya. Bahkan pertengkaran itu berlangsung hingga tiga hari berturutu-turut.
Kebetulan, mereka juga tinggal di rumah Rupini. Sehingga Rupini yang prihatin, berniat untuk melerai. “Yang mengetahui kejadian ini pertama kali, ya saya sendiri. Saya boyong jenazah ibu dan dibawa ke RS Bokor Turen sudah dalam keadaan tidak bernyawa,” urainya yang berharap Suwanto dijerat hukum seberat-beratnya.
Apalagi dia juga menduga, yang dilakukan oleh tersangka itu, merupakan suatu kesengajaan . “Ya harus dihukum seberat-beratnya. Kalau nyawa korbannya, juga harus dibayar nyawa,” ucapnya penuh emosi. Dia berharap, supaya aparat kepolisian memberikan hukuman terhadap tersangka yang setimpal. (big/han)