Keluarga Tarik Ulur Soal Pemakaman

MALANG – Setelah empat belas jam tersimpan di ruang Forensik RSSA Malang, dua jenazah maling mobil yang tewas ditembak polisi, kemarin siang diambil keluarga. Sempat terjadi tarik ulur antar keluarga, terkait tempat pemakaman kedua jenazah Satori dan Luddin.
Salamah, istri pertama Satori sempat menginginkan supaya jenazah suaminya dimakamkan di Malang. Sebab Salamah selama ini tinggal di Jalan Jaksa Agung Suprapto I Malang. Namun dari istri kedua serta keluarga lain menginginkan supaya Satori dimakamkan di Pamekasan Madura.
Setelah berunding, akhirnya diputuskan untuk dimakamkan di Madura. “Jenazah dibawa ke Pamekasan Madura, karena pihak keluarga meminta supaya dimakamkan di tempat asalnya,” ujar Sukri, kakak ipar Satori, saat ditemui di kamar jenazah RSSA Malang.
Begitu juga dengan jenazah Luddin, juga sempat terjadi tarik ulur. Luddin yang juga berasal dari Pamekasan Madura, sempat diminta orang tuanya supaya jenazahnya dimakamkan di Madura. Namun istri serta anaknya yang tinggal di Perum Gardenia, Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis, menginginkan supaya pemakaman di Pakis saja.
“Untuk pemakamannya masih belum tahu. Tetapi istrinya minta dimakamkan di Pakis, dekat tempat tinggalnya,” kata Suliha, kakak Luddin.
Dari pantauan Malang Post, kematian Satori dan Luddin cukup mengejutkan pihak keluarga. Mereka tidak menduga kedua sahabat tersebut meninggal dengan cukup tragis. Sejak pagi hingga siang kemarin, kerabat kedua korban terus berdatangan ke kamar jenazah. Keluarga menolak dilakukan otopsi. Mereka hanya bersedia untuk visum luar saja.
Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, beberapa personil polisi dari Polsek jajaran disiagakan secara bergantian sampai proses pemulangan jenazah. Jenazah Luddin yang dibawa pulang terlebih dahulu oleh pihak keluarga, sekitar pukul 12.20. Jenazah dinaikkan mobil ambulance N 1643 BA milik Al-Irsyad Al-Islamiyah Batu-Malang. Selang 20 menit kemudian, sekitar pukul 12.40 giliran jenazah Satori.

Dimakamkan di Madura
Satu dari dua pelaku pencurian mobil yang ditembak mati petugas, Luddin, 47 tahun warga Jalan Mawar, Lowokwaru Kota Malang, akhirnya urung dimakamkan di pemakaman umum sekitar rumahnya. Jenazah bapak tiga anak yang berdomisili di Perumahan Gardenia Blok L 20, Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis, langsung dibawa ke Kabupaten Pamekasan Madura.
 “Rencana memang di makamkan di sini (Malang), tapi tidak jadi. Karena, di Pamekasan juga masih ada keluarganya dan diminta dibawa ke sana. Makanya, jenazah langsung dibawa ke Madura,” kata kakak ipar Luddin, Sukaryo.
Ditanya mengenai istri dan tiga anak Luddin, pria yang tinggal di Jalan Mawar Kota Malang itu menerangkan, adik kandungnya (Saniti) bersama tiga anaknya sejak pagi sudah di rumah sakit. Itulah mengapa, jenazah begitu selesai langsung dibawa ke Madura.
“Langsung siang ini juga. Paling-paling, sampai di sana (Pamekasan) sekitar Magrib. Kalau perjalannya lancar, 3 jam sampai 4 jam, ambulans sudah sampai di sana,” paparnya.
Disinggung mengenai hubungan adik iparnya dengan kawanan pelaku, Sukaryo mengatakan, selama ini tidak pernah tahu. Apalagi, adik iparnya sudah lama tinggal di perumahan. Jadi, tidak tahu menahu.
“Kalau ketemu atau silaturahmi, ya biasa. Tapi mengenai teman-temannya, saya tidak tahu,” katanya singkat.
Meski pemakaman Luddin urung dilakukan di rumah Saptorenggo, namun seperti tenda untuk peneduh pelayat sudah dibuat di depan rumah duka. Bahkan, ada juga pelayat yang sudah menunggu. Namun, karena pemakaman urung dilakukan di Pakis, satu per satu tetangga pun kembali ke rumahnya.
Sementara keluarga Luddin yang siang itu ada di rumah duka, juga pulang satu demi satu. Hanya para pria dari kerabat dekat, yang kemudian memakai mobil dengan berombongan menuju ke rumah duka di Pamekasan.
Ketua RT 04 RW14 Perumahan Gardenia, Luqman mengatakan, Luddin dikenal sebagai sosok yang biasa, selain pendiam dan tidak banyak ulah, ia pun aktif saat ada kegiatan lingkungan.
“Saat kerja bakti lingkungan, ya hadir bersama warga yang lain. Makanya, kami juga terkejut mendengar kabar itu. Yang pasti, kami tidak menyangka,” ujar Ketua RT.
Luqman sendiri mengaku sangat jarang berkomunikasi dengan Luddin, interaksi langsung terakhir terjadi pada akhir tahun lalu. “Kebetulan, korban waktu itu hendak menikahkan anaknya. Makanya, saya ikut bantu-bantu dalam menyebarkan undangan. Lebih dari itu ya tidak ada,” paparnya. (agp/sit/han)