Edarkan Jamu Tanpa Izin, Sutik Ditangkap

KEPANJEN- Satreskrim Polres Malang berhasil meringkus seorang penjual jamu ilegal yang berbahaya, akhir pekan kemarin. Sutik, 38 tahun, warga Dusun Madyorenggo RT 4 RW 8 Desa Talok Kecamatan Turen kedapatan membuat ratusan botol jamu ilegal  dengan bahan yang berbahaya.
Kasat Reskrim Polres Malang AKP Wahyu Hidayat SIK mengatakan, penangkapan tersangka ini, berkat laporan dari Lembaga Perlindungan Konsumen (LPK). “Berawal dari laporan itu, kami langsung mendalami dan melakukan penyelidikan. Laporan itu, masuk pada pertegahan bulan Februari lalu,” ujar Wahyu kepada Malang Post kemarin.
Setelah diselidiki, ternyata benar adanya. Petugas menagkap tersangka, usai transaksi di Desa Sepanjang Kecamatan Gondanglegi. Jamu tersebut sudah tersebar di 12 kecamatan di Kabupaten Malang. Petugas kepolisian pun melakukan penyisiran di tempat-tempat 12 kecamatan itu. Untuk menyita dan menarik peredaran jamu ilegal “Kami sita barang bukti berupa ratusan botol jamu itu di beberapa tempat seperti warung kopi, warung jamu, pasar, toko kelontong dan rumah warga,” terang Perwira Pertama (Pama) dengan tiga balok di pundaknya ini.
Dijelaskannya, ratusan botol jamu yang diedarkan tersangka tersebut, tidak mempunyai izin edar dari Dinas Kesehatan (Dinkes) dan izin Badan Pengawasan Obat Makanan dan Minuman (BPOM).
 “Selain itu, sangat berbahaya untuk dikonsumsi. Setelah dilakukan pengecekan di laboratorium, ternyata jamu ini mempunyai kandungan kimia. Pada umunya jamu adalah herbal,” terang mantan Kasat Reskrim Polres Tuban ini. Untuk itu, tersangka dijerat dpasal 62 UU RI No 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.
Selain itu, tersanka juga dijerat dengan pasal 197 UU No 36 tentang kesehatan. “Ancaman hukumannya, maksimal 15 tahun kurungan penjara,” imbuhnya. Sementara itu, tersangka membuat jamu ini secara otodidak atau belajar sendiri. Dalam sehari bisa menjual dua botol jamu racikan yang diduga mengandung obat tidur tersebut.
Dalam sebulan, Sutik mampu menjual ratusan botol jamu yang terdiri dari jenis oplosan, obat ambeyen, pelangsing dan obat kuat. “Satu gelas jamu, dijual dengan seharga Rp 5.000. Selama ini, tidak ada yang mengeluh usai mengkonsumsi jamu buatan saya. Hanya saja, memang saya tidak mempunyai izin atas jamu ini,” kata dia. (big/aim)