Abah Mengaku Bisa Gandakan Uang Tidak Terhingga

TUREN- Praktik penipuan berkedok melakukan wirid atau dzikir menghantui masyarakat Kabupaten Malang. Sebelum melakukan wirid, korban harus menyerahkan sejumlah uang hingga Rp 20 juta dengan alasan biaya mahar. Mahar itu untuk membeli serangakaian peralatan ritual, seperti menyan, kembang tujuh rupa, dupa dan arang.
Pelakunya adalah Tri Sugeng Budi Doyo alias Abah, 53 tahun, warga Dusun Kedok Kidul Desa Kedok Kecamatan Turen. Dia ditangkap atas laporan salah seorang korbannya, MR, 45 tahun, warga Desa Kedok Kecamatan Turen.
“Tersangka menjanjikan kepada para korbannya rejeki yang tidak terhingga dan tanpa batas. Modus yang dilakukannya, harus melalui ritual wirid atau adzikir dan beberapa doa. Tapi sebelumnya mereka harus membayar mahar hingga Rp 20 juta,” kata Perwira Unit (Panit) Polsek Turen Ipda Poernomo kepada Malang Post kemarin.
Selain itu, para korbannya juga harus menyetorkan sepeda motor Honda Beat, sebagai syarat seserahannya. Setelah seluruh persyaratan itu dipenuhi oleh korbannya, lalu tersangka menjalankan ritualnya tersebut.
“Total korbannya terdapat 10 orang. Tersangka kami jerat pasal 378 tentang penipuan, yang ancaman hukuman empat tahun penjara,” terangnya.
Usai melakukan ritual, tersangka menyuruh korban untuk menunggu hasilnya. Tapi ditunggu hingga satu tahun, tidak juga ada hasilnya. Karena curiga, salah seorang korban menghubungi tersangka dan dijanjikan hasilnya akan didapat dalam waktu dekat.
“Tersangka bilang kepada korban MR, saat ini dirinya masih berada di Pantai Jolo Sutro Blitar untuk mengambil hasilnya dan akan diserahkan kepada korban,” terangnya.
Karena tersangka tidak kunjung menyerahkan hasil yang dijanjikannya itu, membuat korban MR melaporkan tersangka ke Polsek Turen. Tidak hanya MR, korban lain yang berinisial S, 55 tahun, warga Desa Pagedangan Kecamatan Turen juga melaporkan hal itu. Petugas menindaklanjuti dengan menangkap tersangka di rumahnya.
“Satu orang dari 10 orang yang menjadi korban penipuan tersangka ada warga luar Malang. Yakni berinisial SS, 35 tahun, warga Desa Kesamben Kabupaten Blitar,” imbuhnya.
Di hadapan penyidik, tersangka mengakui perbuatannya tersebut. Tersangka juga tahu apa yang dilakukannya itu salah.
“Saya melakukan ini, karena saya juga pernah tertipu dengan modus yang sama. Sehingga saya mempunyai niatan untuk menirunya,” kata dia. Uang hasil penipuannya dipergunakan untuk usaha pertanian. Sedangkan sepeda motor milik para korban digadaiakannya. (big/aim)