Guru Lawan 6 Begal

KEPANJEN - Wuss. Sabetan celurit nyaris menyambar badan Abdul Hamid (28 tahun) Selasa (3/3) malam lalu. Ditoleh ke belakang, ada dua pria berboncengan Yamaha Vixion, penumpangnya berupaya menyabetkan celurit lagi. Guru lembaga bimbingan belajar (bimbel) di Kepanjen ini, menghentikan laju sepeda motor Honda Beat N 3843 TAN miliknya.
“Saat itu, saya tidak mempunyai firasat apa-apa. Saya kira, kendaraan itu hanya mau nyalip,” kata Abdul Hamid kepada Malang Post, kemarin.
Lokasinya di Jalan Raya Sukorejo Desa Bureng Kecamatan Gondanglegi, memang gelap. Apalagi malam itu, sekitar pukul 19.00 tengah gerimis. Jlegg. Begitu turun, tasnya langsung ditarik pelaku. Isi tas itu adalah laptop dan duit Rp 1,5 juta. Hamid mempertahankan sekuat tenaga. Kunci sepeda motor dia kantongi. Sabetan celurit kembali menyambarnya.
“Ngajak carok tah,” akunya menirukan teriakan salah satu pelaku.
Kemudian, pelaku bertambah banyak. Dua sepeda motor, turut bergabung.
“Kira-kira tambah hingga empat orang kalau gak salah. Jadi, total pelakunya kira-kira enam orang,” imbuh dia.
Abdul Hamid  diserang dengan celurit sebanyak antara lima hingga enam kali. Ada dua orang memegang senjata khas Pulau Madura itu. Dia melawan, beberapa kali memukul dan menendang pelaku. Beberapa sempat roboh.
“Saya memakai jaket sebagai senjata,” jelas warga Kelurahan Kersikan Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan itu.
Terbukti, jaket kain jeans miliknya ikut robek. Yang ajaib, baju batiknya juga robek di bagian depan. Tapi kulitnya tidak luka sedikit pun.
“Kaki kanan saya yang memar, karena dipukul dengan gagang celurit,” aku dia.
Tetap saja ajaib. Karena perlawanannya yang sengit. Enam begal itu kemudian kabur. Bisa jadi para begal itu berpikir, wah lawan kita berilmu kebal.
“Saya gak pakai ilmu hitam. Saya di Bangil itu, belajar karate dan taekwondo, tujuannya hanya untuk jaga-jaga seperti sekarang ini,” beber dia, disinggung soal ilmu kebal.
Usai duel sengit itu, Hamid mengaku lemas. kemudian dia ditolong warga yang lewat. Dan diantar ke Mapolsek Gondanglegi untuk melapor. Hamid mengaku tak bisa melihat pelaku dengan jelas. Sebab saat itu hujan dan gelap.
“Saya ingat logatnya, ngajak carok, sebagian pelaku pakai helm, sebagian lainnya tidak. Sedangkan warna pakaiannya hitam semua. Postur badannya ada yang kecil ada pula yang tinggi dan tegap atau kekar,” paparnya.
Usai peristiwa ini dia sempat mampir ke kos Jalan Adi Santoso Kelurahan Adirejo Kecamatan Kepanjen. Karena trauma lantas memilih pulang ke Bangil.
“Saya sebenarnya gak mau diwawancara seperti ini lagi. Saya takut pelakunya mengincar saya nanti. Makanya saya pulang aja,” terangnya.
Peristiwa heroik itu terjadi, setelah Hamid menunaikan tugas dari atasan. Selasa pukul 17.00 dia ditugasi mengantar buku bimbel ke wali murid di Kecamatan Turen. Dari Kepanjen ke Turen harus melewati satu kecamatan, yakni Gondanglegi.
Usai mengantar buku, dia sempat ngopi, kemudian bergerak ke Kepanjen, Nah, di dekat Danau Bureng itulah, begal menghadangnya. Meskipun kemudian mereka kocar-kacir karena perlawanannya.
Sementara itu, Kapolsek Gondanglegi AKP Budi Haryanto SH, mengaku tengah menyelidiki kasus ini. “Masih proses lidik mas. Ditunggu aja progressnya,” ucapnya melalui pesan singkat.
Dia menghimbau kepada seluruh masyarakat, suapaya berhati-hati di jalanan terkait maraknya aksi pembegalan belakangan ini. Utamanya pengndara yang melewati jalan yang sepi. “Nantinya akan kami tingkatkan intensitas patroli, utamanya di tempat yang rawan aksi kejahatan dan sepi,” pungkasnya.(big/ary)