Pamit Istri, Mengaku akan Kerja di Freeport

LAWANG - Aksi pembunuhan yang dilakukan Abednego Rudyanto, 29 tahun warga Desa Bedali, Kecamatan Lawang, tidak hanya membuat istrinya Arik Wulandari, 28 tahun warga Dusun Song-song, Desa Ardimulyo, Kecamatan Singosari, kaget. Namun mertua pelaku yang tidak tahu apa-apa, Sabar Slamet dan Yayuk Nurcahyani, pun dibuat terheran-heran dengan ulah mantunya itu.
“Terus terang, dari awal kedatangannya (Ego), saya sempat curiga. Masalahnya, dia sudah tidak perhatian dengan anak-anak dan istrinya. Makanya, saya sempat tanya tentang mobil (Datsun) yang dibawanya,” kata Sabar di rumahnya.
Saat itu, tambah bapak empat anak itu, Ego menjawab mobil itu milik Pak Kaji dari Pasuruan. Kendaraan itu, sengaja dibawa karena memang diminta pemiliknya untuk dibawa. “Ego datang ke sini (rumah) hari Rabu dan Kamis. Setelah itu, ya seperti sekarang ini, dicari polisi,” papar Sabar seraya mengelus dada.
Terpisah, Yayuk dan Arik saat ditemui Malang Post, mengaku kalau dari awal sebenarnya sudah enggan untuk menerima kembali Ego. Dengan alasan, putrinya sudah ditinggal begitu saja oleh pelaku. Padahal, status keduanya suami-istri. Akibatnya, Arik dan anak bungsunya, pun kini harus ikut dengannya.
“Saya sampai tanya kepada anak saya ini (menunjuk Arik). Intinya, sebenarnya tidak ada niatan untuk menerima kembali. Namun, karena waktu itu mengaku hanya ingin pamitan dan ketemu anaknya, maka Arik menerimanya,” ujar Yayuk.
Arik sendiri sengaja menerima kembali suaminya, dengan alasan Ego mengaku hendak kerja di Freeport. Karenanya, meski pun sudah dua bulan tidak memberikan nafkah kepadanya, karena pertimbangan kasihan kepada anak bungsunya, maka Ego diberi kesempatan menginap di rumah orang tuanya.
“Tahu seperti ini, saya tidak akan mau. Karena, saya dari awal kasihan kepada anak. Sementara Ego, saat saya tanya kemana saja selama dua bulan, mengaku katanya jual minyak di Kediri hingga kerja ke Batam. Makanya, dia bilang niat pamit kepada anak, akhirnya saya bolehkan,” ungkapnya.
Sebenarnya, tambah Arik, selain sudah tidak pernah memberikan nafkah, dirinya pun sudah pisah ranjang. Keputusan itu, dia ambil setelah tidak ada perhatian Ego kepadanya. “Ya, saya pisah ranjang selama dua tahun ini,” lanjutnya.
Keluarga Pasrahkan Kasus ke Polisi

Keluarga korban pembunuhan Yulianti Dwiastuti Liemanto, 56 tahun warga Perum Istana Bedali Agung Blok A/1a Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang memasrahkan seluruh kasus pembunuhan tersebut kepada kepolisian.
Rudianto, kakak kandung Yulianti yang kemarin (7/3/15) sore berada di kamar jenazah Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Malang mengatakan, tak tahu banyak mengenai kasus yang dialami adiknya tersebut. "Saya tidak tahu banyak, ya saya pasrahkan kasus ini ke polisi saja," ujar Rudi, panggilan akrabnya,  kepada Malang Post, kemarin.
Kedatangan Rudi kemarin bermaksud untuk menjemput Yulianti. Rudi yang baru datang dari Surabaya, disambut oleh teman-teman gereja Yulianti.  Rencananya, jenazah Yulianti akan disemayamkan lebih dulu di tempat persemayaman Adiyaksa Surabaya. Kemudian, pada Selasa (10/3/15) baru akan dimakamkan.
Rudi datang ke kamar jenazah RSSA Malang kemarin sore. Dia membenarkan, keluarga Yulianti berada di Surabaya semua. Sementara di Malang, Yulianti tinggal sendiri. Berdasarkan informasi yang dihimpun Malang Post, Yulianti sudah berada di Malang sejak 15 tahun lalu. Di Malang, Yulianti menjadi pendeta pendamping di Gereja Betel Indonesia (GBI) Diaspora Sejahtera.
"Yuli baik, ya dia seperti wanita biasanya. Dia baik kepada sesama," tambah pria yang datang bersama istri dan anaknya ini. Rudi enggan berkomentar banyak, menurutnya saat ini dia sedang shock dengan peristiwa yang menimpa adiknya tersebut. "Sudah ya, saya lagi tidak tahu mau berbicara apa," jelasnya seraya bergegas menuju mobilnya.
Pantauan Malang Post kemarin, hanya Rudi yang menjemput Yulianti. Saat datang ke kamar jenazah RSSA, Rudi disambut oleh teman-teman gereja Yulianti. Saat Rudi datang, jenazah Yulianti dikeluarkan petugas, kemudian langsung dimasukkan ke dalam peti. Para keluarga dan kerabat, kemudian berdoa di depan peti tersebut.
Para kerabat dan keluarga juga memberikan ritual penghormatan kepada Yulianti. Baru pada pukul 04.00 WIB, peti jenazah Yulianti diangkut oleh ambulans yang berasal dari salah satu rumah sakit di Surabaya. (sit/erz/han)