Wes Kewut, Ketam di Lokalisasi

KROMENGAN - Masa tua seharusnya menjadi kesempatan ‘terakhir’ seseorang untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan, menyiapkan bekal akherat sebelum ajal menjemput. Tidak harus mendadak alim, ya minimal sadar diri lah. Salah satu yang termasuk tidak nyadar usia adalah Santoso, 70 tahun, warga Desa Ngebruk Kecamatan Sumberpucung.
Bukannya menghabiskan malam minggu bersama keluarga, kakek renta itu malah berasik masuk dengan seorang PSK berinisial EN, 35 tahun, di Lokalisasi Kali Biru di Desa Slorok Kecamatan Kromengan. Apesnya lagi, kakek dua cucu itu langsung dijemput malaikat pencabut nyawa sesaat sesudah melakukan hubungan intim terlarang.    
Peristiwa yang menggemparkan warga sekitar tersebut, dilaporkan pada pukul 20.00 WIB. Kejadian ini, kemudian dilaporkan oleh masyarakat dan penghuni lokalisasi ke Polsek Kromengan. “Santoso meninggal di dalam kamar di salah satu wisma yang berada di Lokalisasi Kali Biru Slorok. Ia meninggal karena kelelahan usai berhubungan intim,” ujar Kapolsek Kromengan AKP Okta Panjaitan kepada Malang Post kemarin.
Kakek empat anak itu masuk ke lokalisasi sekitar pukul 18.30 WIB dan langsung menuju salah satu wisma yang ada di tempat tersebut. Untuk melampiaskan hasrat seksualnya, si kakek memilih EN dan masuk ke dalam kamar selama 30 menit.
“Sebelum meninggal, menurut EN, Santoso bersin-bersin dan mengeluarkan keringat dingin. Kemudian ia ke toilet untuk membersihkan badan,” terang Perwira Pertama (Pama) dengan tiga balok di pundaknya ini.
Setelah beberapa lama dari toilet, Santoso kembali ke dalam kamarnya. Namun tidak berselang lama, ia mengalami kejang-kejang. Setelah itu, ia muntah-muntah dan kemudian tidak sadarkan diri hingga meninggal. Lantaran takut terjadi apa-apa, EN berteriak minta tolong. Seketika itu juga, ketenangan lokalisasi mendadak berubah menjadi gaduh, akibat peristiwa itu.
Sementara itu, petugas yang menerima laporan langsung menuju lokasi kejadian untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). “Hasil dari olah TKP, Santoso mengalami kelelahan saat berhubungan intim. Menurut keterangan keluarganya, ia juga mempunyai riwayat penyakit darah tinggi,” paparnya.
Lanjut dia, atas permintaan keluarga, tidak dilakukan otopsi terhadap mayat Santoso lantaran keluarga merasa malu. Selain itu, tidak ditemukan indikasi yang mencurigakan yang terdapat di tubuhnya, seperti tidak ada bekas penganiayaan dan bekas luka yang berada di tubuh.
Peristiwa ini sekaligus menjadi bukti nyata masih ada wisma dan lokalisasi yang beroperasi, padahal sudah dilakukan penutupan serentak pada November tahun lalu. Bahkan, tiap PSK menerima kompensasi senilai Rp 1.363.500.000 untuk 270 PSK, atau masing-masing memperoleh Rp  5.050.000, yang pencairannya dilakukan mulai 5 Maret lalu.
Terkait masih beroperasinya lokalisasi Kali Biru, Kepala Desa (Kades) Slorok Misdi mengatakan, itu sudah bukan ranahnya. “Sejak penutupan lokalisasi secara serentak pada November lalu, saya tidak lagi ikut campur terkait lokalisasi ini. Saya juga tidak pernah melakukan pengecekan,” ujarnya saat ditemui di kediamannya.
Dia menjelaskan, sejak penutupan lokalisasi secara serentak, warga sepakat akan mempergunakan area bekas lokalisasi tersebut sebagai Pasar Burung. Namun, hingga kini belum terealisasi. “Karena situasi masih panas, maka Pasar Burung itu tidak bisa terealisasi. Saya juga tidak ingin terjadi konflik terkait lokalisasi ini,” imbuhnya.
Menurut Misdi, sebagian tanah yang ada di Lokalisasi itu, merupakan tanah kas desa. Mulanya, warga yang menempati lokalisasi itu, menyewa tanah desa senilai Rp 825 ribu per bulan. “Tapi, sejak ditutup, desa tidak lagi menerima uang sewa tanah. Perangkat desa juga saya instruksikan tidak boleh menerima uang sewa,” tegasnya.
Hal itu dilakukan lantaran tidak mau melanggar peraturan karena lokalisasi sudah ditutup. “Seharusnya Satpol PP yang bertindak melakukan penutupan dan pengawasan. Karena itu merupakan ranah dari Satpol PP,” pungkasnya. (big/han)