Pembunuh Pendeta Wanita Tertangkap

SINGOSARI - Jangan bergerak ! Teriak petugas Polsek Lawang ketika menyergap pembunuh  pendeta Yulianti Dwiastuti Liemanto di Sungai Karang Kunci Desa Randuagung, kemarin. Sang pembunuh Abednego Rudyanto alias Ego (29 tahun) ditodong dengan kayu penyangga tanaman kacang. Karena perlengkapan minim, polisi terpaksa memakai kayu seadanya. Lantas dipegang seolah-olah senjata api.
Ego, sang pembunuh pendeta wanita lantas menyerah. Namun polisi juga langsung kena batunya, pemilik lahan memarahi petugas. Sebab dianggap merusak tanaman kacang di persawahan pinggir Sungai Karang Kunci.
“Makanya, sempat kami jelaskan maksud dan tujuannya operasi kami,” papar Kapolsek Singosari, Kompol Dicky Hermansyah sembari tersenyum.
Enam petugas mengepung Ego yang terdeteksi bersembunyi di pinggir sungai. Dia pembunuh sadis. Sebab, korbannya ditemukan di Perum Istana Bedali Agung Blok A/1a Desa Bedali, Kecamatan Lawang, dalam kondisi mengenaskan. Yulianti Dwiastuti Liemanto tergeletak di kamar mandi rumahnya pada Jumat (6/3) lalu. Wajah korban dilakban, kemudian mengikat mayat layaknya tali pocong.
Siapa sangka, petualangan pelarian Abednego Rudyanto alias Ego berakhir di ujung kayu. Dia menyerah tanpa perlawanan di sungai belakang perusahaan BDF-Singosari, pada Selasa siang sekitar 15.30.  Pasca tertangkap Ego langsung digiring petugas ke Mapolsek Singosari.
“Agar tidak salah tangkap, mengajak seorang anggota yang kenal dengan pelaku. Kebetulan, anggota itu di bagian umum Polsek Singosari,” tambah mantan Kasatreskrim Polres Malang itu.
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, enam anggota dibagi dalam dua tim. Empat anggota turun ke tepian sungai, sementara dua orang memback up dari kejauhan. Namun sekali sergap, tersangka langsung menyerah.
“Tangan tersangka langsung dijulurkan ke depan. Tidak menunggu lama, anggota langsung memborgol dan membawanya ke Polsek Singosari,” tandas Kapolsek Singosari itu.
Selama digiring petugas, Ego nampak terlihat menangis. Dengan memakai kaos merah dan celana pendek warna putih, pelaku dibawa ke ruang penyidikan Mapolsek Singosari. “Saya tidak ada niat membunuh,” akunya singkat.
Disinggung pelariannya, Ego mengaku, kalau dirinya selama lima hari atau sejak Jumat (6/3) malam, berkemah di pinggir sungai. Selama itu pula, dirinya diam dan bermaksud menyerahkan diri.
“Saya tidak makan apa-apa. Saya takut ketahuan. Selama lima hari itu, saya hanya makan tebu dan tanaman,” ujarnya dengan sesekali menunduk.
Dengan telah tertangkapnya Ego, maka rampung sudah pengejaran terhadap pelaku pembunuhan pendeta. Itu karena, dalam pemeriksaan sementara yang dilakukan petugas, didapat informasi kalau aksi itu dilakukan seorang diri. Sehingga, tidak ada tersangka lain dari aksi pembunuhan itu. (sit/ary)

Ego: Saya Dituduh Mencuri dan Menghasut
Abednego Rudyanto, 29 tahun, membeber latar belakang pembunuhan majikannya, Yulianti Dwiastuti Liemanto. Pelaku mengungkap itu dalam wawancara khusus dengan wartawan Malang Post Sigit Rokhmad. Kasus ini amat menyita perhatian, sebab korban  adalah pendeta (pdp) di Gereja Bhetel Indonesia (GBI) Diaspora Sejahtera Kota Malang. Juga memimpin Pos Penginjilan (PI) di Jalan Argosunyo-Lawang.

Malang Post (MP) : Apa yang menjadi motif anda membunuh korban (pendeta Yulianti Dwiastuti Liemanto) ?

Ego: Saya sebenarnya tidak ada maksud membunuhnya. Justru, saya nekat berbuat seperti itu, karena korban menuduh saya yang tidak-tidak. Yang saya ingin lakukan waktu itu, hanya mengambil hartanya. Bukan membunuh.

MP: Apa yang dituduhkan kepada anda ?

Ego: Pertama saya datang ke rumahnya sekitar pukul 05.00. Awalnya, saya tanya apa tidak ada kegiatan ibadah. Lalu, saya pun izin mau meminjam mobil. Namun, korban malah tanya keberadaan Nando (sopir lama pendeta), yang pergi tanpa pamit dari rumah korban. Dari situlah, saya mulai disalahkan oleh korban.

MP: Disalahkan dalam bentuk apa ?

Ego: Saya dituduh menghasut Nando untuk pergi. Bahkan, dijelek-jelekkan katanya mengambil barang dan mengajak Nando untuk mencuri di PI Argosunyo. Padahal, apa yang dituduhkan itu, tidak ada yang benar. Saya sendiri, malah tidak tahu.
MP : Apa reaksi anda waktu itu ?

Ego: Saya tambah marah, saat korban tiba-tiba langsung menelepon bapak saya. Seketika itu, HP (hand phone) yang dipegangnya langsung saya rebut sampai akhirnya jatuh. Namun, korban saat itu hendak mengambil HPnya yang lain untuk menelepon. Makanya, korban langsung saya pukul di bagian tengkuk leher belakangnya.

MP : Hanya itu ?

Ego: Setelah saya pukul sekali, saya takut korban berteriak minta tolong. Makanya, muka korban langsung saya dorong ke lantai di ruang tengah, karena kejadiannya waktu itu di ruang tersebut. Saat itulah, korban terlihat seperti pingsan dan langsung saya bawa ke kamarnya.

MP : Korban sempat sadar dari pingsannya ?

Ego: Saat di dalam kamar, saya bermaksud mengambil lakban. Hanya saja, korban saat itu berusaha kabur dengan langsung berdiri. Saya yang kaget dan tahu ada batu besar yang biasa digunakan untuk menahan ban belakang mobil, langsung saya ambil. Selanjutnya, dengan batu itu juga menghabisi nyawa korban.

MP: Berapa kali melakukan pemukulan ?

Ego: Yang saya ingat hanya tiga kali. Pertama, saya memukul di bagian sama yaitu tengkuk leher bagian belakang. Lalu pukulan ke dua, saya arahkan ke bagian perut sebelah kanan. Sedangkan pukulan ke tiga, saya arahkan ke pukulan yang pertama. Namun, waktu itu pukulannya terlalu ke atas. Sehingga, langsung mengeluarkan darah.

MP : Bagaimana anda mengikat korban ?

Ego: Saya langsung melakban wajah korban. Termasuk, memakai selimut untuk menutupi tubuh korban dengan cara diikat di bagian ujung-ujungnya. Setelah itu, langsung mengambil perhiasan di lemari, uang di toko dan dompet, rokok, laptop, HP Nokia, sampai printer.

MP: Jam berapa anda keluar rumah korban ?

Ego : Saya kabur sekitar pukul 09.00. Karena setelah membunuh dan mengambil barang korban, saya masih menyempatkan diri membersihkan mobil korban. Tujuannya, agar tidak curiga. Baru kemudian, langsung ke Singosari.

MP: Apakah anda tidak memiliki hubungan asmara dengan korban ?

Ego: Saya tidak memiliki hubungan apa-apa. Selain hanya membantu membersihkan mobil dan sopir. (*/ary)