Pembunuh Pendeta Ngaku Dihantui Korban

Tersangka Abednego Rudyanto alias Ego, merangkan peristiwa pembunuhan yang dilakukannya.

KEPANJEN- Berbagai fakta terungkap terkait kenekatan Abednego Rudyanto alias Ego, 29 tahun, tega membunuh pendeta wanita bernama Yulianti Dwiastuti Liemanto. Selain bermotif sakit hati karena pernah dihina oleh korban, tersangka juga memang berniat menguras harta benda korban, lantaran mempunyai hutang senilai Rp 35 Juta.
“Saya butuh uang untuk mengembalikan hutang senilai Rp 35 Juta, itupun belum bunganya. Hutang itu untuk modal usaha saya,” ujar tersangka Abednego Rudyanto, kemarin. Dijelaskannya, selama ini dia juga telah berbohong kepada korban. Tersangka mengaku beragama Kristen dan sering beribadah di gereja korban.
Padahal, dia beragama Islam. Dia mengakui beragama Kristen, supaya mudah mendekati korban. “Saya dulunya memang beragama Kristen, kemudian memasuk Islam setelah menikah. Sedangkan korban mengetahui saya ini ya beragam Kristen, karena sering ke gereja,” kata bapak dua anak ini.
Saat beribadah itulah, tersangka dituduh oleh korban melakukan  pencurian. Sehingga dia memutuskan keluar dari pekerjaan nya sebagai sopir korban. Satu tahun belakangan ini, tersangka memang ikut bekerja dengan korban. Mulanya, melalui kerja itu sebagai batu loncatan tersangka membunuh korban.
“Saya dulunya memang berniat untuk kerja. Supaya saya dapat secepatnya melunasi hutang. Saat dituduh pernah melakukan pencuruain oleh korban itu, tentunya saya tersinggung. Saya emosi dan melakukan hal itu,” paparnya.
Setelah membunuh korban, sempat pulang ke rumah menyerahkan barang jarahan korban. Saat pulang itu, dia cekcok dengan istrinya bernama Arik Wulandari, 28 tahun. Tersangka pergi menggunakan mobil Datsun milik korban. Selanjutnya, dia bersembunyi di bawah jembatan Sungai Karang Kunci Desa Randuagung, Kecamatan Singosari selama tiga hari  Selama itu pula, dia mengaku hanya makan daun jambu.
“Selama sembunyi di bawah jembatan, saya selalu dihantui korban. Setiap malam, saya didatangi penampakan korban,” terangnya. Setelah melakukan pembunuhan itu, dia mengaku tidak tahu akan berbuat apa. Untuk itu, dia membiarkan mayat korban terletak begitu saja di dalam kamar mandi rumah korban.
“Saya niatnya hanya membuat tidak sadar korban dengan memukulnya. Setelah tidak sadar, saya memang berniat mengambil barang berharganya,” terangnya. Hanya peenyesalan yang dia rasakan saat ini. Tersangkapun hanya bisa pasrah. lantaran hukuman penjara seumur hidup mengancamnya. (big/aim)