Aksi Tersangka Korupsi Hindari Jaksa dan Polisi


Tersangka korupsi Edward Suminto Adi saat menangis di Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang, kemarin

MALANG – Apes. Itulah nasib yang dialami oleh Edward Suminto Adi mantan anggota DPRD Kabupaten Mojokerto, yang digerebek tim gabungan Kejaksaan Negeri Mojokerto, Kota Malang dan Polres Makota, Jumat (15/7) kemarin siang. DPO tersangka korupsi Rp 1,6 miliar kredit macet BPR Bank Pasar Kabupaten Mojokerto itu, jatuh dari atap rumah dengan tinggi sekitar 5-6 meter karena tidak menemukan jalan lain untuk lari dari kejaran jaksa.
Tim gabungan kejaksaan, sudah melakukan pengintaian selama tiga minggu terakhir dan semakin intensif dalam dua hari belakangan di rumah Perum Griyashanta J-420. Siang kemarin, tim gabungan menggrebek kediaman tersangka. Bersama warga setempat, tim gabungan kejaksaan mencoba masuk lewat RT-RW yang mengetuk pintu rumah.
“Kata orang yang membukakan pintu, pak Suminto tidak ada,” kata salah satu petugas Kejaksaan Negeri Mojokerto yang ikut dalam penggrebekan. Tim kejaksaan masuk dan menggeledah seluruh rumah. Ternyata, tersangka berusaha melarikan diri. Dia naik ke atap rumah berlantai dua tersebut dengan menjebol plafon.
Setelah itu, dia melompat-lompat di atas genting rumah tetangga. Suminto tidak menemukan jalan untuk turun. Mantan kader Partai Amanat Nasional yang dipecat karena kasus korupsi ini, langsung terjun ke lahan kosong di belakang rumahnya. Akibatnya, sebelah kaki Suminto diduga patah. Dia terkapar dan mengerang kesakitan.
“Mama, mama, aduh, mama,” teriak Suminto meminta tolong karena jatuh dari ketinggian. Ambulans dari Permata Bunda datang untuk membawa tersangka ke RSSA. Dia dimasukkan di ruang IGD RSSA. Dari pengamatan Malang Post, tangannya diborgol ke kasur tempat dia mengerang-erang kesakitan.
Suli, tukang bangunan, saksi mata kejadian, membenarkan bahwa dia melihat orang jatuh dari atap setelah meloncat-loncat di genting rumah warga. Dia sedang membenarkan genting atap rumah ketika melihat Suminto Adi berlari di atas genteng layaknya ninja. “Saya kaget melihat ada orang lompat-lompat terus jatuh. Saya refleks langsung turun, masuk ke rumah, dan mengunci dari dalam. Takutnya dia masuk ke rumah yang saya perbaiki ini,” kata Suli.
Didik, pemilik rumah di belakang kediaman Suminto Adi, mengaku tidak menyangka bahwa pria tua yang biasa jalan-jalan di kompleks perumahan itu, adalah tersangka kasus korupsi. “Orangnya biasa, kami kenal namanya Pak Minto. Dia biasa siram-siram kebun di depan rumahnya. Dia baru menempati rumah tersebut sekitar 4 bulan belakangan. Sebelumnya rumah itu kosong,” tandas Didik.
Jaksa Penyidik Kejari Kabupaten Mojokerto, Fathur Rochman SH menyebut bahwa tersangka sudah jadi DPO sejak tahun 2014. Dia bagian dari tersangka berjamaah kredit fiktif BPR Bank Pasar Kabupaten Mojokerto yang merugikan negara sebesar Rp 1,6 miliar. Empat tersangka lain sudah di-DPO kan sejak tahun 2014. Yakni, Direktur BPR Bank Pasar inisial MF, Kabag Kredit berinisial MB, direktur CV Bukit Mas berinisial GR dan Direktur PT Satu Utama berinisial BZ.
“Sesuai Sprin 806 tahun 2016, kami tim gabungan kejaksaan Mojokerto, Kota Malang dibantu Polres Makota menangkap tersangka DPO kasus korupsi BPR Bank Pasar Kabupaten Mojokerto dengan kerugian negara Rp 1,6 miliar, atas nama Suminto Adi, mantan direktur BPR tersebut,” kata Fathur kepada wartawan di IGD RSSA, siang kemarin.
Sementara ini, kata Fathur, Suminto Adi akan dipantau oleh dokter IGD RSSA. Jika kondisi kakinya tidak terlalu parah, maka Kejari akan langsung membawa dia ke Mojokerto. Sementara itu, Kasi Pidsus Kejari Malang, Wahyu Triantono menyebut proses penangkapan tersangka sudah melalui pengintaian.
“Kita mendapat info dari Kejari Mojokerto bahwa DPO mereka ada di Kota Malang. Kita bantu lakukan penangkapan setelah ada pengintaian di tempat yang diduga jadi tempat persembunyian. Kita juga dapat bantuan dari Polres Makota untuk menangkap tersangka,” tandas Wahyu, dikonfirmasi terpisah.
Sesuai hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jatim, tersangka merugikan negara sebesar Rp 1,6 miliar. Kredit fiktif BPR Bank Pasar Kabupaten Mojokerto tersebut, terjadi karena ada 20 rekanan pinjam dana di bank dengan memakai jaminan Surat Perintah Kerja (SPK) palsu.
Tahun 2012, Suminto Adi yang pernah duduk di Komisi B DPRD Kabupaten Mojokerto, juga pernah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Tinggi Jatim dalam dugaan korupsi penyelewengan dana Kas Daerah (Kasda) Kabupaten Mojokerto senilai Rp 40 miliar. Mantan Kasi Pelayanan Nasabah Bank Jatim tersebut terjerat karena membuat rekening koran palsu.
Karena kasus korupsi Kasda ini, mantan Bupati dan Wakil Bupati Mojokerto 2002-2007, Ahmadi dan Suwandi dijebloskan ke Rutan Medaeng.(fin/ary)