Balita Anggraeni Diduga Tewas Dianiaya

MALANG - Kematian Anggraeni Wulandari, 4, menggegerkan warga Dusun Sawur, Desa Sukodono, Dampit. Warga dan aparat kepolisian curiga kematian bocah kelahiran 7 Januari 2012 itu, meninggal secara tidak wajar. Sekujur tubuh balita tersebut, terlihat banyak luka memar. Mulai dari luka memar dan bengkak di kepala, hidung keluar busa, memar pada kedua pangkal paha serta memar pada pinggul. Dugaannya, korban meregang nyawa karena dianiaya orangtua angkatnya, Miseno, 51 tahun dan Paini, 46 tahun. Namun pengakuan sementara orangtuanya, Anggraeni Wulandari, meninggal dunia setelah terjatuh dari kursi, Jumat (12/8) pagi. Untuk membuktikan kebenarannya, kasus kematian Anggraeni sekarang sedang diselidiki anggota reskrim Polsek Dampit. Termasuk, juga memintakan otopsi di kamar mayat RSSA Malang. “Kecurigaan kami, memang ada dugaan penganiayaan. Saat ini, kami masih proses penyelidikan, dengan meminta keterangan saksi-saksi," ungkap Kanitreskrim Polsek Dampit, Ipda Soleh Mashudi. Menurutnya, kecurigaan polisi karena melihat adanya beberapa luka memar pada tubuh korban. Polisi menduga luka tersebut akibat kekerasan fisik. “Kami akan kerja keras untuk membuktikan penyebab kematiannya,” tambah mantan Kasubbag Humas Polres Malang. Dikatakan dia, Anggraeni, panggilan korban adalah anak kandung Rusdiana - Agus, warga Surabaya. Korban dijadikan anak angkat oleh Miseno dan Paini, sekitar lima bulan lalu. “Orangtua kandung korban, merupakan saudara Miseno. Korban diangkat anak karena tidak diurus orangtuanya,” tuturnya. Sementara itu, dalam laporan polisi, sebelum merang nyawa, korban baru saja pulang sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (Paud). Kemudian sekitar pukul 09.30, korban disuapi oleh ibu angkatnya Paini, di ruang dapur. Saat disuapi, korban duduk di kursi. Usai disuapi, oleh Paini ditinggal mencuci piring. Saat ditinggal tanpa pengawasan ini, tiba-tiba korban terjatuh dari kursi. Ketika jatuh, kepalanya membentur bangku (kursi kecil dari kayu). Mengetahui korban jatuh, Paini lantas buru-buru mengangkatnya. Saat itu, kondisinya tidak sadarkan diri dan sudah mengorok. Selanjutnya oleh Paini dan Miseno, korban segera dilarikan ke Puskesmas setempat. Tiba di puskesmas, pihak medis menyatakan bahwa korban sudah tidak bernyawa. Kabar kematian Anggraeni ini, langsung menggemparkan warga sekitar. Perangkat desa yang curiga ada keganjalan dengan kematiannya, lantaran terdapat luka lebam akhirnya dilaporkan ke Polsek Dampit. “Begitu mendapat laporan dari warga, kami langsung mendatangi lokasi dan jenazahnya ke RSSA Malang,” tutup Soleh Mashudi. (agp/mar)