Bikin Onar di Cafe, WNA Dideportasi


MALANG - Penindakan tegas dilakukan Kantor Imigrasi Kelas I Malang, terkait  ketidakpatuhan Warga Negara Asing (WNA) yang berada di kota ini.  Dua WNA asal Turki dan Libya, Selasa kemarin didebri peringatan dan terancam deportasi.
    Kasubsie Pengawasan Kantor Imigrasi Kelas I Malang, Guntur Sahat Hamonangan menyebutkan, WNA pertama y bernama Walid El Ahmer NR (38). WNA asal Libya ini, dideportasi pada Selasa (9/8) dan langsung diantarkan ke Bandara Juanda Surabaya, dengan tujuan Jakarta. Kemudian dilanjutkan  terbang ke negara asalnya, pada pukul 20.00 WIB.
     “Kalau Walid ini dideportasi karena membuat onar di sebuah café di Kota Malang, pada 10 Juli lalu,” ungkap Guntur saat ditemui di kantornya,  Selasa (9/8).
      Walid sendiri, lanjut Guntur, masuk ke Indonesia pada tahun 2013 sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri  Kota Malang. Dalam proses kuliah, dia kehabisan biaya, sehingga  sekitar tahun 2014 ia pergi ke Malaysia.
      Kemudian, ia masuk kembali ke Indonesia menggunakan visa travel yang habis pada 1 Agustus 2016. Tidak ada yang salah saat itu, tapi pada 10 Juli lalu, ia membuat kacau  dan dalam keadaan mabuk memecahi gelas-gelas bahkan  berkelahi di sebuah cafe hingga diamankan polisi. Dikarenakan polisi melihatnya sebagai orang asing, maka kemudian ia diserahkan pada pihak imigrasi.  
Setelah ditahan di Kantor Imigrasi, Walid tak menunjukkan gelagat baik. Malahan, ruang tahanan imigrasi dirusak, ia juga sering melempar pengunjung dengan puntung rokok dan batu. Walid yang sempat tinggal di kawasan Jalan Soekarno-Hatta ini,  diputuskan dideportasi karena melanggar Pasal 75 UU Keimigrasian No 6 tahun 2011.
      Sementara WNA lainnya yang akan dideportasi pada Rabu (10/8) hari ini dengan tujuan Turki, bernama Tiflis Kemal (22). Guntur menerangkan Kemal masuk dalam daftar cekal untuk dideportasi, karena melanggar pasal 78 ayat 3 Undang-undang nomor 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian.
    “Sesuai ketentuan, setiap warga negara asing yang tinggal melebihi batas 60 hari, akan masuk daftar cekal. Sementara Kemal masuk pada tahun 2000 disaat usianya masih 6 tahun, sehingga paspornya masih menempel pada ibunya,” terang Guntur.
Selama hidup di Malang, Kemal tinggal bersama neneknya. Sedangkan sang ibu  kembali bekerja ke Arab Saudi. Ayah Kemal sendiri, adalah warga negara Turki yang bekerja di Arab Saudi. Jadi, keduanya bertemu di Arab dan menghasilkan Kemal.
    Kemudian pada tahun 2015, ibunya pernah kembali ke Indonesia untuk mengurus dokumen agar Kemal dapat pulang ke Turki. Karena ibundanya merasa terlalu lama, Kemal dikembalikan ke Malang, dan dia harus kembali ke Turki.
    Pada Oktober 2015 ibunda Kemal mendapat pemberitahuan dari Kedutaan Turki, jika paspornya sudah jadi. “Tetapi karena ibunya di Turki, paspor tersebut tidak diambil. Kemal juga mengaku tidak mempunyai uang untuk mengambil paspornya. Maka Kemal mendatangi Kantor kami pada 18 Juli lalu,” imbuhnya.   
    Maka, lanjut Guntur, pihak Imigrasi  mengurus pengambilan paspor Kemal. Karena menunggu paspor datang pada 2 Agustus lalu, Kemal baru akan dipulangkan 10 Agustus ini.
Kemal sendiri saat ditanya Malang Post, mengaku selama di Malang bekerja di sebuah warnet sebagai operator jaga. Ia menuturkan ingin segera kembali ke Turki, untuk melepaskan masa cekalnya selama 6 bulan dan kembali lagi ke Malang
    "Saya ingin kembali ke Indonesia, ingin jadi warga negara di sini saja. Nanti mungkin akan diurus,” tandas Kemal yang fasih berbahasa Indonesia ini. (ica/lyo)