Malang Post

Kriminal

Ada Komplotan yang Belum Tertangkap

MALANG - Kerja keras Tim Buser Polres Malang memburu pelaku perampokan Indomaret dan Alfamart, patut diacungi jempol. Tetapi bukan berarti kasus perampokan minimarket ini akan berhenti, dengan tertangkapnya enam perampok kelompok Rudi Hermawanto alias Kadung. Polisi masih harus ekstra kerja keras lagi, karena ternyata ada kelompok lain yang saat ini masih berkeliaran.
Yaitu kelompok Tengku Reza, warga asal Aceh, yang tinggal di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kota Malang. Pemuda berusia 23 tahun ini, sebelumnya ditangkap Tim Reskrim Polres Malang Kota, pada Sabtu (25/10) dini hari lalu. Ia juga dilumpuhkan dengan timah panas di kedua kakinya karena berusaha melawan saat ditangkap.
Tengku diringkus karena terlibat kasus perampokan Indomaret dan Alfamart, di sejumlah tempat. Tidak hanya di Kota Malang, tetapi juga di wilayah Kabupaten Malang. Terakhir salah satu TKP perampokan yang dilakukan bersama komplotannya adalah Indomaret di Jalan Danau Sentani, Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang.
Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP Adam Purbantoro mengatakan, kelompok Tengku Cs berbeda dengan kelompok Kadung Cs. Tengku beroperasi sendiri dengan dua temannya yang kini masih buron. Dua anggota Tengku yang buron ini, diduga warga Malang karena logat bicaranya Jawa.
“Kelompok rampok yang ditangkap Polres Malang, tidak ada hubungannya dengan kelompok rampok yang kami amankan. Mereka berbeda kelompok, tetapi modus operandi yang dilakukan sama, yakni sama-sama menggunakan senjata api rakitan dan senjata tajam dalam mengancam korbannya. Untuk kedua pelaku yang buron, masih kami selidiki,” ungkap Adam Purbantoro.
Adam menambahkan, dari 28 TKP perampokan Indomaret dan Alfamart yang diakui oleh kelompok Kadung, tiga di antaranya adalah TKP Kota Malang. “Namun TKP-nya dimana saja dan berapa jumlah kerugiannya masih belum tahu, karena masih akan kami koordinasikan lagi dengan Polres Malang,” tuturnya.
Sementara itu, berdasarkan informasi Malang Post dari beberapa sumber di kepolisian, mengatakan bahwa Rudi Hermawanto sudah beberapa kali keluar masuk penjara. Bahkan Kadung diketahui memiliki tiga orang istri. Ketiga istrinya Kamis lalu datang ke kamar mayat RSSA Malang, untuk melihat jenazah terakhir suaminya.
“Istri Kadung ini ada tiga. Istri keduanya sampai memiliki mobil Avanza. Dibeli dari mana mobil itu, saya tidak tahu apakah itu hasil dari merampok selama ini,” ujar salah satu petugas kepolisian.
Sementara itu, dari empat pelaku perampokan yang ditembak mati anggota reskrim Polres Malang,  Rabu (30/10) dini hari lalu, dua di antaranya merupakan pelaku lama. Bahkan, Nur Wahyudi alias Dobleh baru keluar dari LP Lowokwaru  satu setengah bulan lalu karena kasus pencurian sepeda motor.
Demikian dikatakan Kasatreskrim Polres Malang AKP Wahyu Hidayat. Meskipun baru bebas 1,5 bulan, tapi Dobleh cukup banyak melakukan aksi dengan kelompok ini, hampir 10 kali.
Selain Dobleh, pelaku lain yang residivis adalah Rudi Hermawanto alias Kadung, 28 tahun warga RT 19 RW 02 Desa Kidal, Kecamatan Tumpang.
Menurut catatan petugas, bapak satu anak ini dua kali ditangkap petugas, pada 2003 karena kasus pencurian dengan kekerasan serta 2010 karena kasus  pengeroyokan hingga korban meninggal. “Dua kasus ini semuanya ditangani oleh Polsek Tajinan,’’ kata Wahyu.
Nama Kadung pun tidak asing di telinga petugas, itu seiring namanya disebut  masuk dalam kelompok Pancor Merah, kelompok pelaku yang kerap melakukan perampasan motor atau kalung. Modus yang digunakan, dengan menunjukkan atau menyabetkan pancor merahnya kepada korban yang tidak mau menyerahkan kendaraan atau melawan saat mereka beraksi.
Lantaran kesadisan itulah, dua pelaku memiliki peran penting dalam kelompok ini. Terutama Kadung, dia yang kerap menjadi otak perampokan.
“Kadung dan Dobleh ini merupakan rekanan sejak lama. Tapi mereka tidak pernah tertangkap bersama-sama, baru sekarang ini,’’ katanya.
Sementara itu, Wahyu juga mengatakan jika para pelaku ternyata tidak mengincar pertokoan modern saja. Sebaliknya, mereka juga melakukan perampokan di wilayah pemukiman penduduk. Tidak main-main, dalam tiga bulan terakhir mereka sudah merampok di lebih dari lima TKP, tiga di Wagir, satu kali di Turen, Purwantoro, Ngajum dan Karangploso.
Aksi mereka di pemukiman ini terungkap dari keterangan MF dan FA, dua pelaku yang selamat dari tembakan maut. Menurut keduanya saat beraksi di wilayah pemukiman atau pertokoan, biasanya mereka beraksi dengan formasi lengkap. “Formasi lengkap itu maksudnya tujuh pelaku ini beraksi bersama-sama,  jumlahnya bahkan bisa lebih,’’ tambahnya.
Para pelaku ini sama sekali tidak pernah membuat skenario saat beraksi. Sebaliknya aksi mereka dilakukan secara spontan.  “Tidak ada perencanaan yang matang saat akan melakukan aksi, hanya saja sebelum berangkat  merampok biasanya mereka sudah membagi peran masing-masing,’’ kata Wahyu, yang mengatakan untuk aksinya para pelaku tidak segan-segan berbuat sadis, itu yang membuat aksi kejahatan mereka selalu sukses. Terlebih, senpi yang dibawa juga bukan mainan.(agp/han)

Page 1 of 1150

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »