Malang Post

Kriminal


Tolong Teman, Mahasiswa UB Hilang

MALANG  – Universitas Brawijaya Malang, sedang berduka. Salah satu mahasiswanya, Prima Utama Panggabean, dikabarkan hilang tenggelam di Pantai Nganteb, Kecamatan Gedangan, kemarin pagi. Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, jurusan Sastra Inggris ini, terseret ombak saat menolong temannya yang tenggelam.
Hingga semalam, tubuh pemuda kelahiran 1 Mei 1993 yang tinggal di Jalan Tempatung 42, Kecamatan Sangata, Kutai Timur ini, masih belum diketemukan. Petugas Polair Polres Malang, dibantu Polsek Gedangan, PMI Kabupaten Malang serta Tim SAR KPH Perhutani, masih melakukan pencarian.
Pencarian hanya dilakukan dengan menyisir sekitar bibir pantai, serta menggunakan alat teropong dari atas bukit. Sebab kondisi ombak laut tinggi serta angin juga sangat kencang.
‘’Pencarian akan terus kami lakukan, sampai beberapa hari ke depan,’’ ungkap Nanang Wahadi, SAR KPH Perhutani yang dibenarkan Kasatpolair Polres Malang, Iptu Slamet Prayitno.
Informasi yang diperoleh, Prima datang ke Pantai Nganteb, bersama rombongan. Ada sekitar 16 orang dengan berboncengan 8 sepeda motor.
Mereka berangkat Sabtu (18/1) siang sekitar pukul 14.00 dan tiba di lokasi sekitar pukul 18.30. Setelah tiba, mereka kemudian mendirikan empat tenda untuk bermalam.
Rombongan yang ikut ke Pantai Nganteb, tidak hanya mahasiswa dari Universitas Brawijaya. Mereka adalah anggota himpunan mahasiswa Kutai Timur (HIPMAKT), yang sekolah di Kota Malang. Ada yang menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya, Unmer serta ada yang masih pelajar di SMP 25 Malang dan SMA Dempo.
‘’Kami tinggal bersama di asrama yang ada di belakang ITN. Sebenarnya di asrama itu, ada 44 orang. Namun hanya 16 orang saja yang ikut. Kami tiba di Pantai sekitar jam 18.30, dan hari ini (kemarin, Red.) sebenarnya berencana pulang. Ini hanya liburan biasa, karena bertepatan dengan akhir semester,’’ terang Satria Nur Ramadhan, salah satu teman korban.
Musibah terjadi pagi kemarin sekitar pukul 06.00. Usai bangun tidur, Dino Sanjaya, 16 tahun, pelajar SMP 25 Malang, mandi berenang di bibir pantai.
Sebelum mandi, dia sempat diingatkan oleh petugas keamanan pantai untuk tidak mandi karena ombak laut cukup besar. ‘’Tetapi saat itu Dino tetap saja mandi dan berenang,’’ ujar Kapolsek Gedangan, AKP Edi Sunyata.
Tak beberapa lama kemudian, terdengar suara minta tolong dari Dino. Mendengar dan melihat Dino terseret ombak, empat rekannya yaitu Rai Sandi, 22 tahun, mahasiswa Unmer, Pramudya Ananta Putra Perdana, 21 tahun, mahasiswa Universitas Brawijaya, Fredi Lamba Pabita, 17 tahun, pelajar SMA Dempo serta korban Prima Utama Panggabean, berusaha menolong.
Ketika mau menolong, keempatnya tiba-tiba dihantam ombak besar. Tetapi Rai Sandi, Pramudya, Fredi serta Dino yang semula terseret ombak, bisa kembali ke tepian. Sedangkan Prima Utama Panggabean, tidak kembali dan hilang tenggelam setelah digulung ombak.
Mengetahui temannya tenggelam, teman-temannya lalu memberitahukan pada warga sekitar, yang kemudian melaporkan kejadian tersebut ke petugas Polsek Gedangan dan Satpolair Polres Malang.
Kemudian petugas yang mendapat laporan langsung mendatangi lokasi. Empat korban yang sebelumnya ikut terhantam ombak, dibawa ke Puskesmas Bantur untuk dirawat. Setelah mendapat perawatan, mereka lalu diperbolehkan pulang. (agp/avi)

Warga Kebonagung Tolak Hotel Transito

PAKISAJI – Keberadaan Hotel Transito di Jalan Raya Kebonagung Kecamatan Pakisaji dipermasalahkan warga setempat. Kemarin, puluhan warga ramai-ramai protes karena menganggap izin pendirian atau HO dari warga fiktif. Bukan itu saja, mereka menuntut penutupan hotel tersebut lantaran diduga sebagai tempat esek-esek alias mesum.
Sekitar 50 orang warga dan Banser yang dikoordinir Ahmad Ghofar Ismail, ketua forum komunikasi masyarakat muslim peduli pendidikan kebangsaan dakwah sosial dan anti kemaksiatan melakukan unjuk rasa. Mereka datang dengan membawa palu, sabit serta spanduk bertuliskan ‘Hotel Bermasalah dengan Masyarakat’.
Palu serta sabit yang dibawa digunakan untuk merobohkan bangunan dinding pagar depan serta menebang tanaman yang ada di halaman Hotel Transito. Alasannya dinding sepanjang sekitar 20 meter dan tinggi 1,5 meter itu dirobohkan, karena menghalangi jalan warga. Sebab dinding tersebut berdiri bukan di atas tanah milik Hotel, melainkan di lahan eks lori, milik PG Kebonagung yang diserahkan ke Pemkab Malang untuk dikelolah desa.
“Kami ingin hotel ini ditutup karena tidak ada izinnya,” ujar Ahmad Ghofar Ismail.
Ghofar mengatakan, penolakan warga atas pendirian hotel itu sudah lama terjadi. Bentuk tidak setujunya warga dengan tidak memberikan izin. Bahkan, warga yang menginginkan hotel ditutup, pada 2013 lalu pernah mengirimkan surat ke Bupati Malang dan DPRD Kabupaten Malang.
Saat pengajuan penutupan warga masih diproses, pembangunan hotel tetap dilanjutkan. Dan tiba-tiba warga mendapat bukti bahwa pihak hotel mendapat izin dari warga. Izin yang dimiliki hotel inilah yang kemudian dianggap fiktif. “Sebab empat dari warga yang tandatangan, salah satunya justru warga Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun Kota Malang, bukan warga sekitar,” tutur Ghofar.
Dari temuan itu, warga terus gencar melakukan aksi protes. Bahkan, antara warga dengan pihak pemilik hotel, juga sudah sering melakukan musyawarah di Balai Desa Kebonagung atau di Kantor Kecamatan Pakisaji dihadiri Muspika Kecamatan Pakisaji.
Begitu juga dengan Sabtu (18/1) malam, informasinya pihak hotel, Muspika dan perwakilan warga sempat melakukan musyawarah di rumah salah satu warga. Hasil musyawarah, pihak hotel sepakat untuk membongkar dinding pagar. Selain itu, halaman depan hotel yang merupakan lahan eks lori, didirikan tiga bedak untuk berjualan warga.
Bangunan tempat pembuangan sampah (TPS) yang ada di sebelah utara hotel dipindahkan. Begitu juga dengan bangunan kumuh dekat TPS, dibongkar yang kemudian didirikan pasar kecil.(agp/lim)

, Lapor Pengrusakan ke Polres Malang

MALANG - Heru Indra, pemilik Hotel Transito mengatakan, bahwa izin pendirian hotel atas nama istrinya, Yuni Astuti. Izin pendirian hotel tersebut diakui sudah lengkap dan tidak ada masalah. Bahkan, dia mengatakan pendirian hotel mendapat dukungan dari Asisten I Bupati Malang, Heri Irianto, yang datang mewakili Bupati saat ikut musyawarah dengan warga pada 31 Desember 2013 lalu.
“Dia (Heri Irianto, red) mengatakan bahwa pintu masuk ke Kepanjen, jangan dilihat hanya pabrik saja. Keberadaan hotel sangat bagus, karena di Kepanjen ini minim hotel. Selama ini, orang yang datang ke Kepanjen, nginapnya di Kota Malang karena minimnya hotel,” terang Heru.
Terkait dengan lahan milik eks lori yang diprotes warga, Heru mengatakan bahwa sebetulnya dirinya bersedia membongkar. Tetapi meminta waktu karena harus mencari tukang. “Tetapi tidak tahunya mereka malah ngotot dirobohkan. Padahal tadi malam (Sabtu malam, red) juga sudah ada keputusan, namun pagi ini (kemarin) kok malah datang dan merusak. Sebetulnya yang memimpin demo itu (Ghofar, red) bukan warga sini, dia berdomisili di Kecamatan Turen,” tuturnya, sembari mengatakan hari ini dia akan lapor ke Polres Malang tentang pengerusakan ini.
Ditambahkan dia, jika memang lahan eks lori yang ada di depan hotel miliknya dipermasalahkan, kenapa tidak dengan bangunan lain yang ada di sekitar Jalan Raya Kebonagung. Sebab mereka juga menggunakan lahan eks lori. “Kalau yang dipermasalahkan hanya di tempat saya, ini namanya diskriminatif,” katanya.
“Lahan di depan itu memang eks lori. Dan kami mendapatkan lahan itu dengan membeli ke warga yang dulunya menempati di depan. Soal menuntut hotel ditutup, ya kami menyerahkan kepada pihak pemberi izin,” sambung Yuni Astuti, istrinya.
Kepala Desa Kebonagung Teguh Santoso, saat dikonfirmasi membenarkan lahan itu adalah lahan eks lori yang diserahkan ke Pemkab Malang dan dikelola desa. “Tetapi kalau soal izin pendirian, saya tidak tahu karena saya baru menjabat Kades. Yang mengetahui izin itu, adalah kepala desa yang lama,” jelasnya.
Terpisah, Camat Pakisaji, Drs Eko Wahyu Widodo, mengatakan bahwa permasalahan ini sudah lama terjadi. Dan sudah beberapa kali melakukan musyawarah. Hasil musyawarah belum ada keputusan tetap, warga sudah melakukan pengrusakan.
“Jelas saya sangat menyesalkan dengan kejadian ini. Seharusnya kan bisa dilakukan musyawarah tidak harus dengan melakukan pengerusakan. Kalau begini, saya ya menyerahkan ke pihak hotel. Kalau memang tidak terima dan mau melapor ke polisi saya persilahkan,” tegas Eko.(agp/lim)

Asong Residivis Kasus Judi

LAWANG - Berbagai fakta terus bermunculan tentang Toyib Santoyo alias Asong, tersangka pembunuhan Iesma, ibunda Camat Tumpang Eru Suprijambodo. Asong ternyata residivis kasus judi dan penipuan di Kota Surabaya. Pria berusia 65 tahun itu, diketahui kerap kali keluar masuk sel tahanan, tersangkut kedua kasus tersebut.
“Rekam jejak tersangka, pernah ditangkap terkait kasus judi dan penipuan. Hal itu sudah diakuinya dalam pemeriksaan yang kami lakukan,“ ujar Kapolsek Lawang Kompol Gatot Setiawan kepada Malang Post kemarin. Menurutnya, tersangka mempunyai kebiasaan melakukan judi cap sha di tempat asalnya yakni Kota Surabaya.
Kebiasaan buruk tersangka tersebut, terbawa ketika pindah ke Perumahan Sumberwuni Indah Blok A 11 RT 01 RW 02 Kecamatan Lawang Kabupaten Malang. Bahkan diperoleh informasi, tersangka juga kerap main judi di warung Lisa, yang bersebelahan dengan rumah korban Iesma.
Kuat dugaan penyebab pembunuhan yang dilakukan, tersangka mempunyai dendam terhadap korban. Karena kabar yang berkembang di masyarakat sekitar, tersangka suatu ketika sempat diketahui terlibat adu mulut dengan korban.
“Korban memarahi tersangka, karena kebiasaan buruk main judi di warung menantunya Lisa,“ kata salah seorang warga sekitar yang enggan namanya dikorankan. Ha itulah, kemungkinan menjadi pertimbangan penyidik sebelumnya, menjerat tersangka dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.
Sementara itu, diperoleh fakta lain bahwa tersangka sejak tiga bulan lalu merupakan pendatang di lingkungan Perumahan Sumberwuni Indah. “Setiap saya minta identitas dan surat pindah, Asong selalu menghindar. Meski begitu, dia orangnya terlihat supel dan ramah,“ kata Ketua RW 02 Kelurahan Kalirejo Muhammad Fauzi ditemui terpisah.
Menurutnya, Asong sebelumnya pernah menjadi pengusaha sukses di Surabaya. Namun, dia tidak pernah mengungkapkan bidang usaha yang dia tekuni. “Dia juga pernah bercerita kepada saya, mempunyai anak yang sukses di Kalimantan. Asong sendiri katanya mempunyai tiga anak,“ jelas Muhammad Fauzi.
Sebagai informasi, Asong bermukim di kawasan tersebut sejak November tahun lalu. Dia menempati rumah tersebut, sendirian. Istrinya dikabarkan telah meninggal, sedangkan anak-anaknya tidak pernah mengunjunginya. Selama tinggal di perumahan tersebut, Asong menampakan perilaku yang supel, baik dan ramah.
“Saya kaget, begitu diberitahu polisi Asong suka judi. Mungkin kebiasaanya judi itu, membuatnya jatuh miskin. Termasuk nekat melakukan pembunuhan dan perampokan itu, yang hasilnya dibuat judi,” tutupnya. (big/lim)

Tanpa Promosi, Bisnis Narkotika Tembus Rp 360 T

SURABAYA – Bisnis narkoba, tiap tahun, tidak pernah mengalami penurunan. Kendati tanpa iklan dan promosi, tahun 2013, bisnis barang haram itu putarannya menyentuh angka Rp 360 triliun. Atau 22 kali kekuatan APBD Jatim tahun 2014 yang hanya Rp 16,9 triliun.
‘’Data itu akurat. Angka penjualan bisnis narkotika hasil survey Badan Narkotika Nasional (BNN) ditemukan angka Rp 360 triliun,’’ kata Destina Kawanti, Kasi Diseminasi Informasi BNN Propinsi (BNNP) Jatim di kantornya, akhir pekan lalu.
Destina tidak menyebutkan secara detail, pembagian angka Rp 360 triliun itu didapat dari daerah mana saja. Selain itu, tidak ada pula rincian penjualan item narkotika mana yang member kontribusi terbesar.
Dikatakan dia, pengguna narkoba sekarang ini telah merata dari segala klasifikasi profesi. Bahkan, secara mengejutkan kalangan pekerja swasta dan wiraswasta diketahui menjadi pengguna aktif.
‘’Rata-rata pekerja swasta dan wiraswasta menjadi pengguna narkotika. Mulai dari hanya coba-coba sampai akhirnya menjadi pecandu. Selebihnya, hampir semua profesi ikut terlibat sebagai pengguna aktif juga,’’ paparnya.
Melihat besarnya putaran uang narkotika, kata Destina, pihaknya berusaha keras untuk menekan seminim mungkin. Caranya, perdagangan dan peredaran narkotika harus dipotong, khususnya peredaran di Jatim.
Selain kampanye anti narkotika, BNNP Jatim akan terus mendekati kalangan ulama dan tokoh masyarakat. Kekuatan yang dimiliki mereka dinilai cukup positif untuk ikut membantu peredaran narkotika di Jatim.
‘’Kampanye anti narkoba pasti terus dilakukan. Pendekatan terhadap ulama terus digalakkan untuk mengajak pengikutnya tidak menggunakan narkotika dengan alasan apapun. Tahun ini, harapan kita pengguna narkotika Jatim bisa turun,’’ pungkasnya. (has)

Page 172 of 229