Bos PR Kompas Agung Dituduh Nipu

Tersangka Devi Santoso (Ft istw)

SUKUN - Dua hari setelah berakhirnya cuti lebaran, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang, langsung mengurung  Direktur  Utama (Dirut) PT Kompas Agung, Devi Santoso, 36 tahun di Rutan Lowokwaru. Perkaranya, warga Jalan S Supriyadi 170 A Sukun yang juga owner perusahaan rokok tersebut, diduga melakukan penipuan dan penggelapan pembayaran tembakau.
Penahanan dilakukan, setelah jaksa menerima pelimpahan tersangka dari penyidik Polres Malang Kota, Selasa siang kemarin. Begitu diboyong ke kantor jaksa, Devi langsung dimasukan ruang sel kejaksaan setelah lebih dulu menjalani pemeriksaan formalitas sebelum dialihkan ke Rutan Lowokwaru
Penahanan tersebut, juga dibenarkan oleh Kasi Pidum Kejari Malang, Moh. Iryan, SH. " Dia (Devi) kami tahan setelah mendapat pelimpahan dari penyidik kepolisian. Dan setelah surat dakwaan tuntas tersusun, pasti terdakwa  segera kami sidangkan," ujarnya, siang kemarin.
Pihak Satreskrim Polres Malang Kota sendiri, juga membenarkan pihaknya telah melimpahkan Devi ke kejaksaan menyusul sempurnanya berita acara pemeriksaan.  " Dia jadi tersangka atas dasar pengembangan proses penyidikan yang kami lakukan," terang Kasat Reskrim AKP Tatang Prayitno Panjaitan.
Terjeratnya Devi dalam kasus tersebut, bermula dari pengaduan Julianto Sukowijono,  warga Jalan Simpang Panji Suroso I/2A Malang, April 2014 lalu. Saat itu yang jadi terlapor dalam bisnis tembakau ini, adalah Teguh Andy Warsito alias Andik warga Jalan Nongkojajar, Kecamatan Lowokwaru.
Namun dalam pengembangan penyidikan, pihak penyidik menemukan cukup bukti perananan  Devi dalam hubungan jual beli tembakau antara Julianto dan Andik. Artinya, tersangka membeli tembakau kepada pelapor melalui Andik, yang ujungnya tak terbayar hingga pelapor mengalami kerugian pokok Rp2.076.722.000. "Intinya, dia tidak membayar tembakau yang dipesan dari pelapor," tambah Tatang.

TAK KENAL

Kuasa hukum Julianto Sukowijono, yakni advokat Leo A Permana, SH, MH dan Ach Rivany, SH mengaku bahwa sedikitpun tak ingin menggiring tersangka ke persidangan apalagi sampai dilakukan penahanan, sepanjang Devi beritikat baik.
‘’Kami sudah berusaha komunikasi dengan Devi agar menyelesaikan pembayaran tembakau itu, namun tak ada respon positif termasuk somasi,’’papar Leo, advokat dari IKADIN pimpinan Dr Todung Mulya Lubis ini.
Sementara advokat Heli, SH, MH selaku Penasehat Hukum tersangka Devi yang dikonfirmasi tadi malam menyatakan, bahwa dalam perkara tersebut kliennya justru tidak ada hubungan hukum dengan pelapor ( Julianto Sukowijono).
‘’Jual beli tembakau dilakukan Mas Devi dengan Andik, bukan dengan pihak pelapor. Apalagi selama ini klien saya juga tak pernah kenal dengan pelapor. Jadi aneh, kok tiba-tiba penyidik menjadikan klien kami sebagai tersangka. Namun demikian, kami menghormati proses hukum yang dilakukan penyidik dan jaksa walaupun dalam memandang kontruksi hukum perkara tersebut, beda dengan kami,’’papar Heli yang posisinya sedang di Bali.
Awalnya, tambah Heli, Devi hanya dijadikan saksi.’’ Dalam perjalanan bisnis tembakau dengan Mas Andik, memang pernah ada kendala pembayaran lantaran saat itu perusahaan sedang mengalami kesulitan keuangan,’’tambahnya.  
Leo Permana sendiri membenarkan, bahwa awalnya yang jadi terlapor adalah Andik pedagang tembakau freelance. Namun dalam penyidikan, polisi malah memiliki bukti cukup yang jadi dasar menjadikan Devi sebagai tersangka.
Dalam laporan dua tahun lalu, Andik dianggap bekerjasama dengan Devi Santoso memesan tembakau kepada Julianto Sukowijono. "Ada beberapa kali pengiriman tembakau ke PR Kompas Agung di Jalan S. Supriyadi 170 Sukun,’’terang advokat berkantor di Jalan Sriwijaya Malang ini.
Pengiriman dilakukan pada 16, 26 September 2011, disusul 3 Oktober, 4 dan 22 serta 24 November 2011. Kiriman selanjutnya, 15 Desember 2011 dan 10 Januari 2012. "Nilai setiap kiriman beda-beda, tapi jumlahnya ratusan juta setiap kali kirim," ungkap Leo.
   Tembakau yang dikirim itupun, sudah diproduksi menjadi rokok dan terjual. " Nyatanya tersangka tidak memiliki niat baik untuk membayar. Setiap kali ditagih selalu memberikan alasan yang tidak jelas," tandasnya. (mar/lyo)