Mantan TKI Kurir SS


KURIR : Kasatreskoba Polres Malang, AKP Samsul Hidayat menunjukkan barang bukti SS dan Abdurrahman sebagai tersangkanya. (AGUNG PRIYO/MALANG POST)

MALANG - Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Dusun Jagul, Desa Togubang, Kecamatan Geger, Bangkalan - Madura, Abdurrahman, 33, berurusan dengan anggota Satreskoba Polres Malang. Ia ditangkap karena menjadi kurir narkotika jenis sabu-sabu (SS).
Selain terancam hukuman penjara selama 20 tahun, tersangka juga terancam denda sebesar Rp 10 miliar. Kasatreskoba Polres Malang, AKP Samsul Hidayat mengatakan, penangkapan Abdurrahman ini, berawal dari informasi masyarakat.
Warga melaporkan kalau ada pengiriman SS ke wilayah Kecamatan Gondanglegi dan Dampit. Berdasarkan informasi itu, polisi lantas menyebar anggota untuk menyelidikinya. Hasilnya, Abdurrahman yang hendak melakukan transaksi di Gondanglegi, langsung disergap.
“Kami mengamankan barang bukti SS seberat 5 gram yang dikemas dalam plastik,” ujar mantan Kanitreskrim Polsek Singosari ini. Dia mengatakan, SS yang dikirim oleh tersangka ini, sedianya akan diedarkan di wilayah Malang Selatan.
Terutama Gondanglegi, Turen serta Dampit. “Satu gram SS dijual dengan harga Rp 1 juta. Pembelinya sudah mentransfer uang Rp 5 juta. Saat ini, kami masih mengembangkan perkaranya,” tuturnya.
Sementara itu, dalam pemeriksaan tersangka mengaku baru sekali ini menjadi kurir. Barang haram tersebut adalah milik temannya di Malaysia. Abdurrahman, mengaku hanya diminta untuk mengirimkan saja kepada pembelinya.
Sementara itu, Satreskoba Polres Blitar meringkus Dana Sedayu alias Gendut, 21, warga Desa Margomulyo RT03 RW01, Kecamatan Panggungrejo, Blitar, Jumat (26/8) malam. Dia diamankan karena mengedarkan sajian farmasi jenis pil dobel L tanpa izin.
Polisi menangkap Gendut pada saat melakukan transaksi pil koplo di Kelurahan Bence, Kecamatan Garum, Blitar. Paur Humas Polres Blitar, Bripka Didik Dwi mengatakan kasus ini terungkap saat petugas melakukan patroli di Dusun  Kutukan, DesaSidodadi, Kecamatan Garum, Blitar.
“Mereka mencurigai seorang pemuda bernama Bayu di jalan itu. Saat diperiksa ditemukan 35 butir pil dobel L. Diinterogasi petugas, Bayu mengaku membeli pil dobel L itu dari tersangka. Petugas lantas menangkap Dana Sedayu di rumahnya,” urainya.
Saat digerebek petugas, tersangka juga sedang melakukan transaksi dengan seorang pria bernama Eko. “Eko membeli pil dobel L sebanyak 21 butir, pil ini kami amankan sebagai barang bukti,” lanjut Didik, sapaan akrabnya.
Dalam kasus ini, Bayu dan Eko diperiksa sebagai saksi, sedangkan Dana Sedayu terbukti sebagai pengedar dan telah ditetapkan sebagai tersangka. “Perbuatannya melanggar pasal 197 sub pasal 196 UU no 36/2009 tentang Kesehatan,” tutup dia. (agp/jpnn/mar)