Paini Ngaku Tak Sengaja


Paini diminta Kasatreskrim Polres Malang, AKP Adam Purbantoro mempraktekkan pemukulan.

MALANG - Paini, 46, warga Dusun Sawur, Desa Sukodono, Dampit menikmati masa tuanya di dalam tahanan. Ibu angkat yang tega menganiaya anak angkatnya, hingga meregang nyawa ini, terancam hukuman penjara selama 15 tahun. Ini dikatakan Kasatreskrim Polres Malang, AKP Adam Purbantoro.
Ibu dua anak tersebut dijerat dengan Pasal 80 ayat 1 dan 3 jonto 76C Undang-undang nomor 35 tahun 2014, tentang perubahan atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan atau pasal 44 ayat 1 dan 3 UU nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
“Ancaman hukumannya 15 tahun penjara,” ujar mantan Kasatreskrim Polres Malang Kota itu. Dalam pemeriksaan, Paini, mengatakan kalau dia tidak sengaja. Ia tidak ada niatan untuk membunuh anak angkatnya tersebut.
Paini mendorong tubuh korban hingga terjatuh, karena merasa jijik saat melihat korban muntah ketika makan. "Saya tidak ada niatan membunuh," katanya. Dia mengaku spontan mendorong kepala korban hingga terjatuh ke belakang yang mengakibatkan kepala belakang korban terbentur kursi.
"Hasil otopsi, korban meninggal karena terjadi pendarahan otak," sambung Adam, panggilannya. Hasil pemeriksaan, selama ini tersangka memang sering memukuli korban. Alasannya karena dia tidak ada rasa sayang dengan korban.
“Tersangka tidak ada niatan mengangkat anak korban. Keinginan mengangkat anak, adalah keinginan suaminya,” paparnya. Seperti diketahui, kematian Anggraeni Wulandari, balita berusia 4 tahun itu, menggegerkan warga Dusun Sawur, Desa Sukodono, Dampit.
Warga dan aparat kepolisian curiga kematian bocah kelahiran 7 Januari 2012 itu, meninggal secara tidak wajar. Sekujur tubuh bocah tersebut, terlihat banyak luka memar. Dugaannya, korban meregang nyawa karena dianiaya orangtua angkatnya, Miseno dan Paini. (agp/mar)