”Pegawai Kemenag” Kena Sergap Polisi


MENGAKU GURU DAN CALON DOKTOR : Ahmad Sufandi, penipu enam calon jamaah haji, mengaku sebagai guru dan calon doktor di sebuah kampus swasta, diringkus Polisi saat beraksi, kemarin.

DAU – Achmad Sufandi, 32  tahun  tak bisa berkutik ketika anggota Polsek Dau meringkusnya, Senin (29/8) malam. Mukanya sekonyong-konyong pucat, tak menyangka Polisi sudah menyanggong aksinya. Saat itu, pria ini hendak menerima uang dari calon korban aksi penipuan bermodus memajukan pemberangkatan Calon Jamaah Haji (CJH).
Ya, Achmad Sufandi sejauh ini telah menipu enam calon jamaah haji (CJH). Ia menjalankan aksi dengan menyamar sebagai petugas Kementerian Agama dan memakai modus dapat memajukan pemberangkatan CJH. Aksi pria yang mengaku sebagai guru salah satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Jabung terbongkar.
Dia tercatat sebagai warga Jalan Diponegoro, Desa Kemantren, Kecamatan Jabung. Ia ditangkap Polisi saat berada di rumah Soepardi, 73 tahun, warga Dusun Krajan, Desa Tegalweru, Dau. Saat itu bapak satu anak ini hendak mengambil uang untuk biaya administrasi memajukan pemberangkatan CJH ke tanah suci.
Dari tangannya, selain mengamankan barang bukti KTP dan ID Card Kemenag palsu atas nama tersangka, petugas Tag Name atas nama tersangka, petugas juga mengamankan barang bukti nota pembelian kain batik, buku tabungan bank Mandiri atas nama tersangka, buku kwitansi, SK pendaftaran Haji atas nama Sri Lestari, enam lembar KTP milik para korban, empat lembar KK milik para korban, baju dinas dan flash disk.
”Semua barang bukti ini kami amankan dari tangan tersangka AS (Ahmad Sufandi). Saat ini kami terus melakukan pengembangan, termasuk ada kemungkinan korbannya lebih dari enam,’’ kata Kapolsek Dau Supari.
Kasus penipuan ini sendiri terungkap dari laporan dari Soepardi yang curiga dengan tersangka. Sebelumnya tersangka mendatangi rumah korban awal Agustus lalu. Mengaku sebagai pegawai Kantor Kementrian Agama Kabupaten Malang yang mengurus masalah haji, dia memberitahu Soepardi bahwa korban tidak bisa berangkat menunaikan ibadah haji tahun 2017.
Tidak dijelaskan apa sebabnya, tapi yang jelas saat itu Sufandi mengatakan bisa mengurus, agar korban tetap berangkat tahun 2017. Tentu saja, tawaran tersebut tidak gratis. Bapak satu anak ini meminta sejumlah uang untuk mengurus administrasi.
”Korban ini sebetulnya sudah daftar haji tahun 2010 lalu. Sesuai aturannya korban berangkat tahun 2017,’’ tambah Supari.
Lantaran itulah, kedatangan Sufandi ini membuat Soepardi kaget. Hanya saja, dia tidak mau berdebat, apalagi penampilan Sufandi sangat meyakinkan. Apalagi dia datang menggunakan pakaian dinas di mana salah satu  betnya tertulis Kemenag RI.  Sehingga. Soepardi pun mengiyakan permintaan Sufandi yang meminta uang Rp 7 juta sebagai biaya administrasi. Hanya saja, korban tidak langsung membayarnya. Sebaliknya dia menjanjikan uang itu dibayarkan Senin (29/8).
Selang beberapa hari,  korban datang lagi ke rumah Soepardi. Dia juga meminta uang untuk pembelian seragam batik.  
”Tersangka ini beberapa kali datang, ke rumah korban. Salah satu kedatangannya juga meminta uang untuk biaya pembelian kain batik seragam haji. Untuk pembelian kain batik oleh korban langsung dipenuhi,’’ tambah Supari saat merilis kasus penipuan ini kemarin.
Singkat cerita,  Sufandi kembali datang ke rumah Soepardi Senin (29/8) sore lalu. Dia datang untuk mengambul uang yang akan digunakan mengurus administari.
Keluarga korban yang curiga dengan Sufandi sendiri tidak gegabah. Sebelum menyerahkan uang, salah satu dari mereka lapor ke Polsek Dau.
”Begitu mendapat laporan anggota langsung bergerak mendatangi rumah korban. Saat itu tersangka sedang berbincang di ruang tamu dan hendak pergi,’’ kata perwira dengan satu melati di pundak.
Kedatangan petugas membuat Sufandi bingung. Tapi demikian, agar tidak mencurigakan kepada petugas dia tetap mengaku sebagai petugas dari Kantor Kemenag. Bahkan, kepada petugas Sufandi juga menunjukkan surat tugas miliknya yang ditandatangani oleh Kepala Kantor Kemenag.
Petugas pun tidak diam. Dengan berbagai pertanyaan, petugas membuat Sufandi akhirnya mengakui perbuatannya. ”Satu jam setelah kami tanya di rumah korban, akhirnya tersangka mengaku,’’ katanya. Malam itu juga, Sufandi pun digelendang petugas ke Mapolsek Dau.
Dalam keterangannya, Sufandi mengatakan selain menipu dengan modus memajukan keberangkatan haji, dia juga menggunakan modus membantu mendaftarkan warga untuk naik haji dengan waktu tunggu yang tidak lama. Kepada para korban, Sufandi meminta pembayaran awal Rp 2,5 juta – Rp 7 juta. “Tersangka mengaku kepada kita telah membawa uang para korban senilai Rp 30 juta,’’ urai Supari.
Untuk modus membantu pendaftaran haji, tersangka datang door to door ke rumah korban. Dia pun menawarkan. Jika ada korban yang mau, Sufandi pun akan kembali datang beberapa hari kemudian untuk mengambil uang. Dan untuk meyakinkan dia akan kembali lagi ke rumah korban dengan membawa kwitansi berstempel Kantor Kemenag.
“Saat ini korban yang baru melapor dan kami mintai keterangannya adalah Soepardi. Sementara korban lainnya rencananya hari ini akan kami datangi rumahnya, agar mereka membuat laporan,’’ kata Supari sembari menyebutkan jika dalam kasus ini, tersangka dikenakan pasal 378 KUHP dengan ancaman hukuman lima tahun penjara..
Kepada petugas Sufandi yang mengaku sedang menempuh S3 di salah satu perguruan tinggi swasta ini mengatakan jika dia terpaksa melakukan penipuan karena terbelit hutang serta bingung biaya untuk menyelesaikan studinya. Sufandi sendiri mengaku tidak menyangka jika dirinya akan berurusan dengan pihak yang berwajib.
”Saya menyesal, karena sudah melakukan perbuatan ini. Saya berjanji tidak akan mengulanginya,’’ akunya.
Sufandi sendiri mengaku jika dirinya mendapatkan ilmu untuk melakukan penipuan ini dari membaca di internet. ”Tidak ada teman yang membantu. Saya melakukan aksi ini sendirian. Uang yang saya dapatkan juga saya gunakan sendiri,’’ akunya.