Pembunuhan Macinnae, Kado Manis Hari Bhayangkara


BERHASIL DIUNGKAP : Kapolres Malang, AKBP Agus Yulianto didampingi Kasatreskrim dan Kasubag Humas menunjukkan barang bukti serta ketiga pelaku pembunuhan. (AGUNG PRIYO/MALANG POST)

KEPANJEN - Pembunuhan terhadap bapak-anak warga Desa Macinnae, Kecamatan Paleteng, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, akhirnya terungkap. Pelakunya empat orang. Tiga diantaranya berhasil ditangkap, sementara seorang lagi yang merupakan otak pembunuhan masih buron.
Pengungkapan kasus menonjol yang terjadi pada bulan Ramadan ini, menjadi 'kado manis' yang dipersembahkan Satreskrim Polres Malang, di HUT ke-70 Bhayangkara. Tepat pada 1 Juli hari ini, korps baju cokelat ini sedang berulang tahun.
"Kasus pembunuhan ini terungkap, setelah kami mengenali identitas korban. Identitas korban berhasil diketahui dari sidik jari yang bekerjasama dengan Dispenduk. Dari situlah, kasus pembunuhan tersebut mulai terungkap," ungkap Kapolres Malang, AKBP Agus Yulianto.
Ketiga pelaku pembunuhan yang diamankan adalah, Gagah Widiansyah, 28 tahun, warga Desa Sumberkembang, Kecamatan Dampit, Khotib, 25 tahun, warga Desa Talok, Kecamatan Turen serta Saiful, 17 tahun warga Dusun Krabaan, Desa Srimulyo, Kecamatan Dampit. Sedangkan seorang pelaku lagi yang masih buron, adalah Muher (M), seorang pria yang dikenal oleh korban sebagai orang pintar. Muher ini warga Kecamatan Dampit.
"Korban bapak anak datang ke Malang ini, bersama dengan tersangka dan rombongan. Saat ini, kami masih memburu satu pelaku utamanya yang masih buron," ujar mantan Kapolres Madiun Kota.
Sebelum pembunuhan terjadi, korban bapak anak bersama dengan rombongan lainnya diajak oleh Muher, untuk berziarah ke Masjid Tiban di Turen. Muher dikenal oleh korban dan warga bisa menyembuhkan penyakit. Rombongan ini, datang ke Malang naik pesawat dan turun di Bandara Juanda Surabaya.
Mereka dijemput oleh Gagah Widiansyah, dengan menggunakan mobil travel. Widi sapaan akrab Gagah Widiansyah, memang bekerja sebagai sopir travel. "Mereka datang ke Malang pada 9 Juni, lalu transit ke rumah M (Muher, Red) di Kecamatan Dampit," sambung Kasatreskrim Polres Malang, AKP Adam Purbantoro.
Namun, setelah rombongan lainnya pulang kampung ke Sulsel, kedua korban ini tidak mau pulang. Mereka mengatakan akan pergi ke Thailand, untuk menjual berlian. Kemudian, pada 16 Juni, sekitar pukul 21.00, kedua korban minta diantarkan Muher serta ketiga pelaku pergi ke Juanda. Mereka lalu menggunakan mobil Avanza N 584 DL, yang dikemudikan pelaku Widi.
"Sebelum sampai di Juanda, mereka berhenti dulu di sebuah rumah makan di Pasuruan. Di tempat itulah, Muher lantas merencanakan pembunuhan dengan mengajak ketiga pelaku," jelasnya.
Usai makan, kedua korban kemudian dibawa ke arah Gunung Bromo. Sampai di gerbang Tosari, Pasuruan, Widi menghentikan mobil. Muher dan korban H Muhammad turun dari mobil. Sedangkan anaknya, Asri dibawa oleh ketiga pelaku dengan alasan membeli makanan.
Namun di tengah perjalanan, Asri dihabisi oleh ketiga pelaku dengan dipukul dan diinjak-injak kepalanya. Termasuk untuk mengakhiri hidupnya, dicekik. Setelah Asri tewas, ketiga pelaku kembali menemui Muher. Saat kembali itu, Muher sedang berupaya menghabisi H Muhammad dengan memukul kepalanya menggunakan batu. Serta menjerat leher korban dengan tali sabuk.
Begitu kedua korban bapak anak sudah tewas, mereka lalu membawa mayatnya ke wilayah Dusun Posokerep, Desa Dengkol, Kecamatan Singosari, yang kemudian membuangnya ke aliran irigasi sawah. Baru keesokan harinya, jazad kedua korban ditemukan oleh warga sekitar.
"Motif pembunuhan, karena ingin menguasai harta korban berupa uang senilai Rp 95 juta dan berlian. Harta tersebut dibawa kabur oleh Muher. Akibat ulahnya itu, mereka kami jerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana," tegas Agus Yulianto.
Sementara itu, dalam pemeriksaan mereka bertiga mengaku melakukan pembunuhan dengan tangan kosong. Sama sekali tidak menggunakan alat. Mereka membunuh, karena diajak oleh Muher yang kini buron.
"Kalau kami tidak mau membantu, kami bertiga yang malah akan dibunuh. Yang kami habisi dulu yang muda, baru kemudian yang tua. Kami mengira mereka pingsan, ternyata sudah meninggal," terang mereka bertiga.
Saat mengeksekusi, Saiful, bertugas memegangi, memukul serta menginjak-injak. Khotib bertugas memukuli korban hingga tewas. Sedangkan Widi, selain driver juga ikut melakukan pemukulan terhadap korban.
Sementara, selama kurun waktu setahun ini, beberapa keberhasil telah diungkap oleh Polres Malang. Selain kasus narkotika, juga sejumlah kasus lainnya seperti pencurian dengan pemberatan (curat) dan pencurian dengan kekerasan (curas). Termasuk beberapa kasus dugaan korupsi.
Terbaru adalah kasus dugaan korupsi Alokasi Dana Desa (ADD) pada 2013-2014. Polres Malang kini telah merampungkan penyidikan tiga dugaan kasus ADD, di Desa Palaan, Kecamatan Ngajum, Desa Sukoraharjo, Kecamatan Kepanjen dan Desa Druju, Kecamatan Sumbermanjing Wetan.
Dari tiga kasus dugaan koruspi tersebut, kasus di Desa Palaan, Kecamatan Ngajum yang sudah tinggal gelar perkara untuk menentukan tersangkanya. Sedangkan kasus Desa Sukoraharjo, Kepanjen masih menunggu hasil dari Perwakilan BPKP Provinsi Jawa Timur. Sementara Desa Druju, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, sedang tahap pemeriksaan atau audit dari tim BPKP.
"Kasus korupsi akan selalu menjadi atensi kami. Dalam setahun, Polda Jawa Timur memang menargetkan dua kasus tuntas. Tetapi kami berupaya bisa melebihi target," jelas Adam Purbantoro.(agp/ary)