Proyek Kolam Renang Internasional Makan Nyawa


KEPANJEN – Proyek pembangunan kolam renang bertaraf internasional di area luar Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, makan korban. Seorang pekerja proyek bernama Rio Hermawan, Saputro, 23 tahun, warga Kabupaten Jombang, meninggal dunia tertimpa runtuhan besi baja, kemarin sore. Kecelakaan kerja ini membuka fakta, bahwa proyek itu diduga dikerjakan bukan oleh pemenang tender, melainkan subkontraktor.
Selain Rio yang tewas di tempat, enam pekerja lainnya mengalami luka-luka. Rinciannya, terdapat dua luka berat dan empat orang mengalami luka ringan. Mereka seluruhnya menjadi korban kecelakaan kerja, akibat tiba-tiba runtuhnya besi baja yang sedang dipasang . Sedianya besi baja itu dipasang menjadi rangka kolam renang indoor bertaraf internasional ini.
Menurut informasi yang berhasil dihimpun di lapangan, saat itu terdapat beberapa pekerja sedang mengerjakan proyek tersebut, dengan memasang atap baja. Sekitar pukul 14.15 WIB, tiba-tiba atap rangka baja tersebut jatuh ke bawah. Runtuhan atap baja tersebut, membuat para pekerja yang ada di bawahnya berlarian untuk menghindar.
Namun, naas menimpa Rio Hermawan yang tidak bisa menghindar dari runtuhan tersebut. Kepalanya tertimpa besi baja seberat 40 ton dan tewas seketika di lokasi kejadian. Sedangkan seorang pekerja lainnya bernama Ari Yono, kakinya mengalami patah tulang, tertimpa beji baja  yang runtuh dari ketinggian 20 meter tersebut.
Sedangkan lima pekerja lainnya yang berada di atas, selamat dan mengalami luka ringan. Mereka memakai harness maupun pengaman yang terdiri tali serta heml pelindung kepala. Meski demikian, kelimanya ini menalami trauma dan luka ringan. Sedangakan seorang pekerja yang berada di atas bernama Roni, sempat terjepit.
Untuk mengevakuasi kelima korban itu, dilakukan oleh BPBD Kabupaten Malang dan PMI Kabupaten Malang. Evakuasi terhadap korban yang menggelantung di atas tersebut, berjalan menegangkan. BPBD Kabupaten Malang dan PMI Kabupaten Malang melakukan evakuasi menggunakan alat vertical rescue yang dimiliki.
Teriakan dari petugas yang melakukan evakuasi saat itu, semakin menambah ketegangan. “Ati-ati, korban jangan dibawa ke arah selatan, bahaya. Tandu korban tetrap dibawa ke arah utara lebih aman karena sudah ada pengamannya,” teriak Kasubsi Penanggulangan Bencana PMI Kabupaten Malang, Mudji Utomo.
Evakuasi terhadap Roni, dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Lantaran besi baja tersebut, berpotensi runtuh kembali, bila diinjak. Selain itu, posisi badannya yang terjepit, juga menyulitkan proses evakuasi. Evakuasi tersebut, berlangsung selama 30 menit. Korban diturunkan menggunakan tandu yang diikat oleh tali.
Kemudian, korban dilarikan ke RSUD Kanjuruhan bersama enam korban lainnya. Sedangkan perisitiwa ini, langsung ditangani Satreskrim Polres Malang dibantu Unit Reskrim Polsek Kepanjen. Usai evakuasi, lokasi kejadian langsung dipasang police line untuk dilakukan olah TKP dan warga diperkenankan masuk ke dalamnya.
“Sedangkan untuk penyebab dari kecelakaan ini, tengah kami selidiki. Saat ini, kami tengah melakukan olah TKP dan dibantu dengan tim identifikasi dari Polres Malang,” ujar Kapolsek Kepanjen, Kompol Mas Ahmad Sujalmo, kepada Malang Post, kemarin.