Seladi, Sang Bripka Bintang Televisi


DUA SISI BERBEDA : Bripka Seladi saat menjalankan tugasnya sebagai Polisi (MUHAMMAD FIRMAN/MPG)

Bripka Seladi. Nama ini, belakangan muncul di media cetak, online sampai pada elektronik di seluruh Indonesia. Menjadi bintang televisi dadakan, memang tidak pernah dibayangkan polisi asal Malang ini. Boleh jadi, ia satu-satunya polisi berpangkat Bripka, yang wajahnya mengisi seluruh saluran televisi. Bahkan saat lagi mengorbit, kemunculannya di TV mengalahkan kemunculan Kapolri.
Sekitar satu bulan lalu, namanya melembung ketika salah satu awak media Kota Malang mengendus cerita menyentuh hati seorang polisi yang menyambi sebagai pemulung ini. Kisah anggota Polisi Lalulintas Polres Malang Kota ini kemudian melejit dengan pesat.
“Ndak pernah saya nyangka. Saya dari dulu ya seperti ini, kalau jalan di Jakarta ya tetap seperti ini adanya. Tapi jadi banyak dikenal orang,” tutur pria asal Dampit Kabupaten Malang ini kepada Malang Post, Kamis (30/6).
Semenjak kisahnya viral di media lokal, bapak tiga orang anak ini kemudian mendapat perhatian nasional. Menurut pantauan Malang Post, pertama kali Seladi muncul di layar kaca Kompas TV sosok sederhananya masih sangat kaku dan terlihat gugup.
Selang seminggu wajahnya kian santer beredar di stasiun televisi nasional seperti Trans 7, Global TV, MNCTV, Net TV, CNN, Berita Satu dan lainnya. Beberapa kali muncul di televisi kian menambah lihai Seladi mengatasi gerak kamera dan menjawab pertanyaan reporter.
“Ya, seminggu, dalam sehari bisa dua sampai tiga kali diwawancarai. Jadi biasa,” tuturnya polos.
Namun bukan Seladi namanya jika tidak bertingkah polos dan seringkali mengundnag tawa reporter TV atau penontonnya. Salah satunya jika kita bisa melihat di salah salah satu acara populer asuhan Deddy Corbuzier.
Salah satu tingkah polos Seladi yang selalu mengucapkan nama Teddy pada siapapun. Bahkan, ketika didampingi pimpinan Polres Malang Kota, AKBP Decky Hendarsono, SIK., Seladi seringkali salah sebut nama. Menyebut Decky menjadi Teddy. Sang Host, Deddy Corbuzier pun juga tidak sengaja disebut Teddy.
Saat ditanya mengenai hal ini, Seladi mengaku nama Teddy merujuk pada Kapolresta Malang dua periode sebelum AKBP Decky Hendarsono, S.IK, yakni Teddy MInahasa. Bukan bermaksud lain, dirinya mengaku sudah sering lupa dengan nama orang.
“Ya saya kan sudah tua ya. Tapi tetap semangat lah jadi polisi,” imbuh pria yang berpangkat Brigadir Kepala (Bripka) ini.
Ia kemudian menceritakan, selama sering diundang ke berbagai acara dan media, tentu saja banyak bantuan yang diberikan padanya. Hal tersebut menjadi sebuah berkah besar bagi dirinya dan keluarganya.
Pria yang setahun lagi memasuki usia pensiun di umur 58 tahun tersebut tidak pernah menyangka apresiasi orang dengan apa yang ia lakukan. Pasalnya, menurut Seladi apa yang ia lakukan tersebut dilakukan juga oleh banyak orang lain di luar sana.
Dengan senyum sederhananya, Ia mengatakan, dengan bantuan dari banyak pihak dirinya dapat memberikan sambungan harapan pada ketiga anaknya untuk melanjutkan pendidikan. Tidak menyebutkan berapa, tetapi Seladi menyatakan sudah berkecukupan.
Salah satu apresiasi yang tidak dilupakannya adalah bantuan dari Ketua Komisi III DPR Bambang Soesatyo yang rela menyerahkan gajinya mulai Mei sampai Desember untuk membantunya. Aksi tersebut menurut Seladi juga membuka mata hatinya bahwa masih banyak orang dengan jabatan menaruh kepedulian yang besar terhadap apa yang dilakukan seorang Bripka seperti dirinya.
“Ya, ga nyangka saja. Pak DPR bisa seperti itu. Untuk mengormatinya saya terima dan akan saya gunakan dengan sebaik-baiknya,” papar Seladi yang menurut informasi akan segera mendapatkan penghargaan dari Polda Jatim pada Hari Bhayangkara pada 1 Juli 2016.
Selain mengatur lalu lintas, Seladi juga bertugas sebagai penguji peserta ujian mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) untuk kendaraan roda empat di Satuan Polisi Lalulintas Polres Malang Kota. Iming-iming “amplop” pun seringkali menghampirinya.
Iming-iming "amplop" sebagai tanda terima kasih dari para pemohon yang lulus tes dan mendapatkan SIM atas bimbingannya pun dengan halus ia tolak. Jangankan uang, hanya sekedar ditraktir ngopi pun, Seladi menolaknya dengan alasan sedang bertugas.
Padahal, kalau mau Bripka Seladi bisa saja memanfaatkannya dan "menodong" pemohon serupiah demi serupiah untuk kepentingan dan menambah pundi-pundi kantongnya. Namun, itu tak dilakukannya. Sikapnya yang tulus dan ikhlas itu justru membuat respek masyarakat, tidak hanya para pemohon SIM, tetapi juga masyarakat luas.
"Saya mengajari mereka murni agar mereka bisa dan lolos mendapatkan SIM. Bukan untuk saya bisa mendapatkan untung. Kasihan karena mereka sangat membutuhkan SIM itu," ucap Seladi.
Ia tetap bekerja dengan jujur meski kondisi ekonominya sebagai seorang polisi bisa dibilang masih belum mapan, bahkan kembang-kempis untuk membiayai hidup istri dan ketiga anaknya, serta membayar angsuran bank.
Namun Seladi dulu, bukanlah Seladi yang sekarang. Saat ini, kisah kejujuran dengan menjunjung tinggi semboyan Rastra Sewakottama yaitu melayani masyarakat nasib Seladi sudah berubah. Tetapi, di sela perbincangan singkat ini, Seladi mengaku masih sesekali sering memungut botol dan sampah plastik di sekitarnya.
“Udah biasa jadinya pengen ambil saja botol-botolnya,” tandas Seladi.(Sisca Angelina/ary)