Terungkap, Balita Anggraeni Dibunuh Paini

MALANG - Kecurigaan warga dan polisi, bahwa kematian Anggraeni Wulandari, balita berusia 4, tidak wajar akhirnya terjawab. Unit reskrim Polsek Dampit menetapkan Paini, ibu angkat korban sebagai tersangka. Wanita berusia 46 tahun tersebut, terbukti melakukan penganiayaan yang membuat korban kehilangan nyawanya. “Dalam pemeriksaan, dia mengakui telah menganiaya korban," ujar Kanitreskrim Polsek Dampit, Ipda Soleh Mas’udi. Seperti diberitakan sebelumnya, kematian Anggraeni Wulandari, 4, menggegerkan warga Dusun Sawur, Desa Sukodono, Dampit, Jumat lalu. Warga dan aparat kepolisian curiga kematian bocah kelahiran 7 Januari 2012 itu, meninggal secara tidak wajar. Sekujur tubuh bocah tersebut, terlihat banyak luka memar. Mulai dari luka memar dan bengkak di kepala, hidung keluar busa, memar pada kedua pangkal paha serta memar pada pinggul. Dugaannya, korban meregang nyawa karena dianiaya orangtua angkatnya, Miseno, 51, dan Paini, 46. Pengakuan awal orangtuanya, bahwa Anggraeni Wulandari, meninggal dunia setelah terjatuh dari kursi. Sebelum meregang nyawa, korban baru saja pulang sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (Paud). Kemudian sekitar pukul 09.30, korban disuapi oleh ibu angkatnya Paini, di ruang dapur. Saat disuapi, korban duduk di kursi. Usai disuapi, oleh Paini ditinggal mencuci piring. Saat ditinggal tanpa pengawasan ini, tiba-tiba korban terjatuh dari kursi. Ketika jatuh, kepalanya membentur bangku (kursi kecil dari kayu). Mengetahui korban jatuh, Paini lantas buru-buru mengangkatnya. Saat itu, kondisinya tidak sadarkan diri dan sudah mengorok. Selanjutnya oleh Paini dan Miseno, korban segera dilarikan ke Puskesmas setempat. "Semalam (Sabtu malam, red) orangtua angkatnya kami mintai keterangan. Ibu angkatnya mengakui, sehingga langsung kami jadikan tersangka. Kasusnya kami limpahkan pula ke UPPA Satreskrim Polres Malang,” jelas mantan Kasubbag Humas Polres Malang itu. Dalam pemeriksaan, Paini, mengatakan kalau korban jatuh bukan karena tanpa sebab. Tetapi korban didorong, hingga jatuh dan kepala belakangnya terbentur kursi hingga nyawanya melayang. “Korban sering dianiaya. Salah sedikit dipukul,” tegasnya. (agp/mar)