Malang Post

You are here: Kriminal

Kriminal

Tetapkan 14 Siswa Tersangka

Tersangka pengeroyokan yang juga siswa SMP Negeri 1 Tajinan mengikuti ujian kenaikan kelas di Polres Malang.

Pengeroyokan di SMP Negeri 1 Tajinan
MALANG– Penyidik Satreskrim Polres Malang akhirnya menetapkan 14 siswa SMP Negeri 1 Tajinan sebagai tersangka pengeroyokan hingga menewaskan teman sekolahnya, Muhammad Andi Nur Fahmi, warga Desa Tangkilsari, Tajinan. Sedangkan tiga siswa lainnya hanya ditetapkan sebagai saksi. Sebelumnya, setelah Rabu (4/6) malam peristiwa pengeroyokan terhadap anak sulung pasangan M. Fadil dan Yuningsih ini terjadi, polisi mengamankan 17 siswa untuk dimintai keterangan.  
Kasatreskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat menerangkan, penetapan para tersangka ini, setelah penyidik melakukan pemeriksaan marathon sehari penuh. “Dalam pemeriksaan itu pula, penyidik sudah mendapatkan keterangan terkait peran masing-masing tersangka. Mereka juga langsung kami tahan. Sedangkan tiga siswa lainnya yang menjadi saksi, sudah dipulangkan,” papar dia. Wahyu, panggilannya menjelaskan, 14 siswa yang menjadi tersangka adalah siswa kelas VIII atau teman seangkatan korban yang juga tinggal di daerah Tajinan.
Mantan Kasatreskrim Polres Tuban ini merinci, dari 14 tersangka ini, pihaknya juga berhasil mengetahui tiga pelaku utama pengeroyokan tersebut. Mereka berinisial AG, 14 tahun, JF, 14 tahun dan FR, 15 tahun. “Ketiganya berulangkali melakukan pemukulan terhadap korban Andi, terutama di bagian belakang kepala. Mereka juga dijerat Pasal 80 Ayat 3 UU Nomor 23 Tahun 2003 tentang kekerasan yang mengakibatkan kematian,” tegas perwira ini.
Sedangkan inisial tersangka lainnya, IT, 16 tahun, AR, 14 tahun, RD, 16 tahun, RZ, 15 tahun, BD, 14 tahun, AZ, 13 tahun, MF, 15 tahun, KA, 14 tahun, GA, 14 tahun, SN, 14 tahun serta FN, 15 tahun. “Khusus yang 11 tersangka ini, dikenakan Pasal 80 junto Pasal 55 UU Nomor 23 Tahun 2003. Artinya mereka turut serta ikut melakukan kekerasan hingga korban meninggal dunia. Ada yang memegang korban, ada yang memukul wajahnya dan lain-lainnya,” urai Wahyu lagi.   
Dipaparkannya, untuk menetapkan status tersangka ini, semuanya sudah dikonfrontir satu persatu. Mereka tetap menyatakan bahwa yang terlibat pemukulan hanya 14 anak. Sedangkan lainnya sama sekali tidak terlibat pemukulan. Dari keterangan para tersangka, juga didapat bahwa pemukulan terhadap Andi didasari karena dendam. Ketiga tersangka utama mengaku sakit hati dengan korban karena suka memasukkan air ke dalam tangki bensin motornya.
“Berdasarkan pengakuan tersangka, korban ini diketahui mengisi air sudah empat kali ke dalam tangki bensin motor AG. Karena dendam itulah, lalu merencanakan untuk memukuli korban. Saat mereka memukuli, tersangka lain yang mengetahui spontanitas ikut memukul,” tegasnya. Rencananya, Selasa (10/6) nanti, polisi juga akan memeriksa Mahmud Asyari, Kepala SMP Negeri 1 Tajinan, wali kelas dan satpam sekolah. Menurut pimpinan reserse ini, ketiganya diperiksa karena TKP pengeroyokan ada di sekolah.  

Keluarga Minta Penangguhan
SEHARI menjalani pemeriksaan dan penahanan, beberapa orang tua para tersangka mengajukan penangguhan ke polisi. Perihal permohonan penangguhan itu diakui Wahyu. “Ada beberapa orang tua para tersangka yang mengajukan penangguhan. Namun tidak serta merta kita setujui. Masih perlu banyak pertimbangan dari penyidik,” terangnya. Apalagi, banyak dari para tersangka yang baru mengetahui Andi tewas setelah dijemput polisi di rumahnya.
 “Kami tidak tahu kalau Andi meninggal. Kami baru mengetahui kemarin sore (Kamis, red) diberitahu oleh polisi,” ujar salah seorang tersangka. Seperti diberitakan sebelumnya, Muhammad Andi Nur Fahmi alias Andi meregang nyawa di RS Panti Nirmala, Rabu (4/6) malam akibat pendarahan di kepala. Dia dikeroyok sekitar 20 teman sekolahnya. Pengeroyokan itu dilakukan di dalam ruang kelas, lapangan basket dan depan sekolah ketika hendak pulang. (agp/mar)

Page 466 of 1125