Malang Post

Kriminal

Ada Kejanggalan, Polisi Dalami Motif Lain

Share
Meninggalnya Suwandi, pemilik selep di Dusun Glanggang, Desa Slamet, Kecamatan Tumpang, di tangan perampok, sontak membuat warga di sekitar rumah duka kaget. Apalagi bapak tiga anak yang masih tinggal bersama mantan istrinya Siti Fatimah di Dusun Luring, Desa Sukopuro-Jabung, itu dikenal sangat baik dan grapyak (ramah). Termasuk, ketika ada kegiatan desa atau kampung, ia pun masih sering terlibat walaupun dikenal sebagai sosok yang serba berkecukupan.
“Meski orangnya berkecukupan, Pak Suwandi ini orangnya tidak sombong. Makanya, banyak warga yang kenal. Malahan, kepada orang juga grapyak. Itulah, yang membuat orang mudah mengenalnya,” kata tetangga korban, Nur Fatimah.
Perempuan yang tinggal di sisi rumah korban itu menambahkan, karena sosok korban yang ramah, membuat warga pun tahu tentang kehidupan pribadinya termasuk istri sirinya saat ini meski tidak diperkenalkan . “Siapa istri sirinya, kami juga tahu. Malahan, wajahnya juga paham,” paparnya.
Sementara itu mantan istri korban, Siti Fatimah, saat ditemui di rumah duka, mengatakan kalau korban sengaja ke selep, dengan maksud menyanggong perusuh usaha selep yang sudah digeluti selama tiga tahun terakhir. Sebab selama seminggu terakhir, gembok pintu selep yang biasa digunakan, sering kali dirusak pelaku. Makanya, malam itu ia hendak menyanggong.
“Bapak sengaja bermalam ke selep, itu dengan maksud untuk menyanggong perusak gembok. Masalahnya, selama seminggu ini selalu diganggu. Karenanya, bapak datang ke sana sampai menginap, bertujuan untuk itu,” ujar ibu tiga anak itu.
Siti juga menjelaskan, beberapa hari terakhir memang diinformasikan baru menjual beras. Berapa jumlah atau uangnya, ia tidak paham. Tapi sepengetahuannya, biasanya penjualan beras sebanyak satu pickup.
“Kalau mengenai uang, bapak memang baru menjual beras. Tapi berapa banyak uangnya, saya tidak tahu. Yang jelas, tidak ada permusuhan dengan warga,” kata perempuan yang tetap tinggal bersama mantan suaminya itu.
Sikap ramah yang dimunculkan korban, juga diakui oleh penjaga malam selepnya. Sutikno dalam keteranganya, menjelaskan dirinya yang telah bekerja selama setahun, tidak pernah dimarahi oleh korban. Termasuk, ketika meminta izin juga diberi dengan mudah.
“Selama setahun ini saya tidak pernah melihat bapak (Suwandi) ada permusuhan dengan orang. Apalagi, sampai terlibat cek-cok. Makanya, saya juga heran, kenapa sampai seperti ini,” ujar Sutikno.
Kapolsek Tumpang, AKP Hartono, saat ditemui terpisah mengaku, masih terus melakukan pendalaman aksi tersebut. Sebab ada beberapa kejanggalan dari aksi perampokan hingga mengakibatkan korbannya meninggal dunia.
“Aksi perampokan ini banyak kejanggalannya. Salah satunya, mengenai sasaran aksi perampokan yang berupa bangunan selep. Selama ini, sasaran aksi perampokan selalu rumah. Dari rumah itu, pelaku bisa mengambil semua isinya. Namun kalau selep, dari sisi harta yang disimpan, jelas sangat sedikit dibandingkan uang,” ujarnya.
Dia menambahkan, jika alasan pelaku karena lokasinya yang sepi, jelas sangat tidak masuk akal. Apalagi, dalam kejadian itu sampai mengakibatkan meninggal dunia. Kalau pun sasarannya tempat sepi, cukup dengan mengancam korbannya dan tanpa harus mengakibatkan hilangnya nyawa.
“Kecurigaan inilah, yang nanti akan dikembangkan. Karena, dengan hanya membawa kabur sepeda motor, jelas keuntungan pelaku sangat kecil. Apalagi, kalau pelaku dalam kejadian ini lebih dari satu orang. Makanya, keberadaan unsur lain selain perampokan, akan terus dicoba kami kembangkan,” ungkap Hartono. (sit/han)  
comments

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL