Wanita Cantik Di Tengah Media Officer Arema

MALANG – Dunia sepakbola selalu identik dengan maskulinitas. Hanya kaum pria yang distereotipkan bisa menjalani profesi di dunia sepakbola. Namun, staf Media Officer Arema, Ardhisa Yuniar Putri tak mau sepakbola hanya untuk pria. Dalam momen peringatan hari Ibu kali ini, Disa, sapaan akrabnya, ingin emansipasi wanita makin dijunjung.
”Ya bukan hal yang aneh lagi kalau industri sepakbola itu milik kaum pria. Olahraga sepakbola yang laris di masyarakat ya yang dilakukan pria. Tapi, ini sudah zamannya emansipasi, wanita pun bisa terjun di industri ini, meskipun tak jadi pemain bola,” terang Disa kepada Malang Post.
Banyak profesi lain yang masih berkaitan dengan dunia sepakbola. Termasuk, profesi Media Officer yang kini ditekuninya. Disa masuk dalam jajaran staf Media Officer Arema, yang mengurus keperluan publikasi Singo Edan, termasuk urusan wartawan dan fotografer yang liputan di Stadion Kanjuruhan.
”Ikut Media Officer Arema tentu saja banyak yang dipelajari, dapat tugas ngopeni id card wartawan yang liputan. Juga ikut bikin statistik pertandingan, saya juga ikut tanggung jawab mencegah ada wartawan ”bodrek” masuk stadion, itu demi jaga trade mark kita,” terang wanita berusia 22 tahun ini.
Karena tiap hari bergelut dengan pekerjaan pria di Media Officer, Disa tetap menjaga diri sebaik mungkin. Dia ingin profesional di pekerjaan Media Officer tanpa harus menyinggung soal gender lagi. Wanita yang berdomisili di Sengkaling ini menegaskan, Media Officer bukanlah pekerjaan mudah.
”Saya menyukai pekerjaan ini karena beda dengan pekerjaan kantoran biasa. Kita dituntut kerja keras untuk jaga trade mark Arema, di Akademi Arema saya juga dilibatkan secara langsung, bukan cuma cowok yang senang kerja di bola, saya pun suka,” tegas mahasiswi UM jurusan Psikologi tersebut.
Dalam perayaan hari ibu yang begitu spesial ini, wanita berparas cantik ini pun berharap penghormatan terhadap kaum perempuan, khususnya ibu, tak hanya dilakukan pada hari tertentu saja. Menurutnya, semua ibu yang bertanggungjawab sebagai penjaga keluarga, sangat layak diapresiasi dan dipuja tiap hari.
”Bukan berarti cuma hari ibu saja, kita memberi ucapan selamat dan pujian untuk kaum ibu. Yang penting menurut saya adalah keseharian kita, apakah tindakan kita menghargai ibu. Tidak perlu muluk, bisa dimulai dari keluarga dan ibu kita sendiri,” tutup Disa.(fin/nda)