Pohon Natal Berbahan Kain Batik

KEARIFAN LOKAL: Pohon Natal berbahan kain batik dibuat di Gereja Hati Kudus Yesus Kayutangan.

MALANG - Nuansa Natal di Gereja Hati Kudus Yesus Kayutangan menonjolkan kearifan lokal berupa budaya Jawa. Salah satu aksennya yakni pada pohon Natal yang biasa dipasang dalam gereja berbahan dasar kain batik. “Pohon Natal yang dibuat dari kain batik ini dikerjakan oleh Orang Muda Katolik (OMK), mudika dan didukung oleh bidang paguyuban gereja,” jelas Romo Paroki HKY, Romo Yosef Arnoldus Devanto, O.Carm.  Pohon Natal unik itu ditempatkan di salah satu sudut dalam gereja.  Kain batik yang dipola menjadi pohon Natal dikaitkan pada rangka yang didesain seperti pohon lalu dibalut lampu LED.
Bagian dalamnya juga terdapat lampu. Ini membuat semakin unik dan menarik.  Ketua Bidang Paguyuban Paroki Hati Kudus Yesus, Desy Krisdianto mengatakan, tinggi pohon Natal yang terbuat dari kain batik setinggi  empat meter dengan diameter 1,5 meter. Ukuran kain batik yang digunakan sepanjang 37 meter.  “Melalui pohon Natal yang terbuat dari kain batik ini kami ingin menyampaikan pesan dan suasana agar umat senantiasa hidup dengan sikap-sikap kearifan lokal dan merasakan hidup berpaguyuban,” kata Desy, panggilannya.
Sikap atau pola hidup berdasarkan kearifan lokal yang dimaksud dia yakni  gotong royong, hidup saling menghomarti, menghargai pluralisme dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.  Tidak hanya pohon Natal saja yang bernuansa lokal, kandang Natal yang biasanya dibuat dalam gereja juga didesain lebih kontekstual. “Ini sesuai dengan kondisi sosial saat ini. Latar belakang kandang Natal berupa gambar sisi kehidupan perkotaan dan pedesaan,” urainya.
Dilanjutkan dia,  sisi perkotaan digambarkan dengan lukisan bangunan bertingkat dan megah. Sedangkan di sebelahnya lukisan kehidupan pedesaan. Lukisan itu mengingatkan tentang realitas sosial saat ini. Disaat merayakan natal mengingatkan kembali tentang pentingnya kesederhanaan.
Kesederhanaan juga diungkapkan dengan bahan yang digunakan untuk membuat kandang Natal.
“Yakni menggunakan dedaunan. Selain simbol kesederhanaan, dedaunan sebagai konsep ramah lingkungan,” pungkasnya.  Gereja HKY dikenal selalu membuat pohon Natal dengan konsep unik pada setiap merayakan Natal. Tahun lalu, pihak gereja membuat pohon Natal dari botol bekas minuman air kemasan. Hal tersebut sebagai simbol pelestarian lingkungan sekaligus ajakan menjaga kelestarian lingkungan sekitar. (van/mar)


Nuansa Salju Terasa di Hotel Sahid Montana
MALANG- Hotel Sahid Montana Malang tidak memiliki program khusus untuk menyambut Natal di tahun ini. Namun untuk masalah dekorasi, hotel tersebut tidak ingin kalah dengan menampilkan nuansa salju di salah satu sudut hotel. “Kami tidak memiliki promo khusus natal. Untuk merayakannya hanya membuat area depan front office tampak dengan suasana Natal," ujar Marketing Manager Hotel Sahid Montana Malang, Adi Prasetijono. Dia menjelaskan, Snowman, Santa Clause, salju hingga dekor pohon Natal sudah tersaji begitu memasuki daerah lobi hotel.
Suasananya tampak seperti di luar negeri, ketika Natal merupakan musim dingin.  “Kami berharap begitu ada tamu hotel yang datang bersama keluarga bisa merasakan nuansa nyaman ini. Selain itu, kesan klasik di hotel ini juga menambah indahnya libur Natal tahun ini,” beber dia kepada Malang Post. Bulan Desember ini, lanjutnya, bertepatan pula dengan ulang tahun Hotel Sahid Montana, sehingga beberapa acara justru difokuskan untuk perayaan HUT ke-26 di tahun ini. Tetapi dia menegaskan, hotel yang berada di Jalan Kahuripan ini juga berbagi sukacita natal dengan anak panti asuhan di pertengahan Desember lalu.  
"Manajemen hotel merayakan Natal bersama anak panti. Jadi tidak bisa disebut juga tidak ada acara di tahun ini," tambah dia. Salah satu keuntungan di momen Natal ini, hotel tersebut tidak menaikkan room rates yang masih di kisaran Rp 600.000 sampai Rp 1,2 juta. Meskipun okupansi dipastikan melonjak, Sahid Montana hanya berstrategi melalui pengurangan volume diskon. (ley/mar)