Pembangunan Untuk Kesejahteraan Rakyat

Program 100 hari bagi kepala daerah yang baru terpilih pada dasarnya bukan merupakan kewajiban hukum bagi setiap kepala daerah di dalam sistem hukum dan pemerintahan di Indonesia. Program 100 hari sekaligus merupakan momentum awal pembangunan dan deskripsi kinerja kepala daerah untuk lima tahun masa kepemimpinannya.
Komitmen inilah yang menjadi bekal Abah Anton untuk memprioritaskan pembangunan untuk wong cilik. Sejak dilantik sebagai wali kota pada 13 September lalu, kebijakan pembangunan untuk wong cilik langsung dilakukan, mulai dari pendidikan gratis, bedah rumah, jalan-jalan kampung mulus, peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dengan penetapan pajak online (e-Tax), sampai pada mengurai kemacetan lalu lintas dengan penerapan satu arah di kawasan sekitar kampus Universitas Brawijaya.
Sejak dilantik 13 September lalu, perbaikan infrastruktur khususnya jalan menjadi prioritas. Selama tiga bulan terakhir ada sekitar lebih dari 20 titik lokasi jalan yang rusak diperbaiki, khususnya di daerah pinggiran dan perbatasan, seperti jalan Ir. Rais, jalan KH. Malik Dalam, Jalan Puncak Buring, Jalan Wonokoyo, dan lainnya.
“Sampai akhir tahun diusahakan jalan-jalan kampung bisa mulus semuanya. Jalan menjadi instrumen penting untuk peningkatan pembangunan di daerah. Kalau jalannya bagus akan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakatnya,” terang Abah Anton.
Begitu juga dengan penanganan kemacetan lalu lintas di Kota Malang yang semakin hari semakin padat. Hasil kajian Forum Lalu Lintas Kota Malang menjadi acuan untuk diterapkannya jalur satu arah di sekitar kampus UB, mulai dari Jalan MT. Haryono, Jalan Mayjen Panjaitan, Jalan Sumbersari sampai dengan Jalan Gajayana.
Hasilnya, sejak dilakukan uji coba sampai dengan saat ini. Masyarakat dapat merasakan manfaatnya. Arus lalu lintas menjadi lancar. Kondisi ini pun sangat membantu pertumbuhan ekonomi di Kota Malang yang semakin baik.
“Kalau jalannya lancar, wisatawan akan banyak berbondong-bondong ke Kota Malang. Tentunya mereka akan banyak membelanjakan uangnya di Kota Malang. Sehingga ekonomi pun terdongkrak,” urainya.
Buktinya saat ini. Liburan akhir tahun bahyak wisatawan yang datang ke Kota Malang. Hotel-hotel penuh, industri kerajinan dan kreatif yang banyak dikelola masyarakat pun mendapatkan berkah. (aim)
Pemimpin yang Peduli Wong Cilik


Jelang ulang tahun ke-48, Senin (30/12) kemarin, Wali Kota Malang, H. Moch Anton menyambangi Siti Rohma (64) yang tengah sakit bersama putranya, Sito Warsono (40) yang menderita lumpuh sejak kecil karena terserang penyakit polio, di rumahnya di Jalan Selorejo 18 F RT 09 RW 08.
Kehadiran Abah Anton langsung disambut gembira Siti Rohma bersama keluarganya. Mengetahui yang hadir orang nomer satu di Pemkot Malang, saking gembiranya banyak keluarga yang terharu hingga menangis. Mereka tidak mengira akan kedatangan wali kota ke rumahnya.
“Alhamdulillah, Abah Anton benar-benar pemimpin yang sangat peduli wong cilik,” ujar Rohma sambil sesekali mengusap air matanya.
Siti Rohma mengalami sakit di kakinya. Dia kesulitan untuk berdiri. Sedangkan Sito Warsono hanya dapat duduk di kursi rodanya, sambil didampingi keluarga lainnya. “Terima kasih Abah Anton dan juga Umi Farida yang sangat peduli dengan wong cilik. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan dan lindungan kepada keduanya untuk menjadi pemimpine wong cilik,” ungkapnya.
Abah Anton pun ikut terharu dengan kondisi keluarga Rohma. Ketua PITI Malang raya itu memberikan bantuan untuk pengobatan untuk keluarga Rohma. Harapannya, keduanya dapat segera diberikan kesembuhan.
“Semoga Allah segera memberikan kesembuhan kepada ibu dan keluarga. Mohon maaf, jika kedatangan kami mengganggu keluarga disini,” jelas Abah Anton. (aim)