Bagikan Singkong Madep Mantep

KOMPAK : Asisten I Sekda Kabupaten Malang Eko Suwanto bersama sejumlah Danramil bersama singkong Madep Manteb di stand Parade Pangan Nusantara.

MALANG - Pemerintah Kabupaten Malang  memperkenalkan ikon ketahanan pangan kepada pengunjung Parade Pangan Nusantara yang sedang berlangsung di  Lapangan  Rampal. Selama ini, pengunjung sudah bisa melihat langsung singkong Madep Manteb di stan Pemkab Malang. Menariknya,  pada hari Minggu (19/1) besok olahan singkong itu  bakal dibagikan gratis kepada masyarakat.
Hal tersebut dijelaskan Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Malang, Ir. M.Nasri.Abd.Wahid.M.Eng.Sc. Menurut Nasri, Kabupaten Malang sudah siap dengan penganekaragaman pangan. Hal itu sesuai dengan konsep ketahanan pangan menghadapi isu global di masa mendatang.“Kita tidak terpaku pada bahan makanan pokok berupa beras, sumber karbohidrat lain kita kembangkan berupa singkong Madep Manteb,” terangnya.
Singkong Madep Manteb atau dikenal dengan singkong gajah, merupakan komiditi dari Kecamatan Tajinan dan Kalipare. Singkong ini beratnya bisa mencapai setengah kuintal. Sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat untuk pengganti makanan pokok berupa beras.
“Dari sisi tanaman padi kita sudah surplus maka kemudian pemerintah mengembangkan tanaman pangan lainnya,” imbuh Nasri.
Singkong raksasa itu nantinya bakal dibagikan gratis kepada para pengunjung parade pangan saat penutupan hari Minggu besok.  Hal ini agar masyarakat bisa merasakan nikmatnya singkong madep manteb tersebut.“Selain singkong kami juga kembangkan tanaman lain dalam rangka diversifikasi pangan,” jelasnya.
Sementara itu, Asisten I Kabupaten Malang Eko Suwanto menegaskan bahwa stan dalam parade merupakan kerjasama empat SKPD. Terdiri dari Dinas Pertanian dan Perkebunan, Badan Ketahanan Pangan, Dinas Peternakan dan Kesehan Hewan serta Dinas Perikanan dan Kelautan.
“Semua dinas keluarkan produk, termasuk andalan kita jeruk, apel sentra Pujon dan Dau, salak Dampit,Tirtoyudo dan pisang Kirana dari  Tirtoyudo,” jelas mantan Camat Kepanjen itu.
Pisang Kirana ini sudah hebat, karena terserfitikasi dan bisa menembus swalayan-swalayan. Sehingga harganya yang semua Rp 30 ribu satu tandan, bisa naik mendai rentang Rp 50 ribu sampai dengan Rp 60 ribu. Ini untuk meningkatkan daya saing para petani,“Harapannya padi surplus juga naik, demi peningkatan ketahanan pangan, tahun ini kita surplus 70.000 ton,” tandasnya.(ary/nug)