Melihat Kembali Ruko-ruko Pecinan Era Kolonial (1)

KONSEP rumah toko (ruko) yang sekarang menjamur di Kota Malang, sejatinya sudah ada sebelum berdirinya Gemeentee pada tahun 1914. Cikal bakal pecinan itu sebenarnya muncul dari blok Boldi Jalan Mangunsarkoro, Jalan Martadinata dan Jalan Zainal Jaksa. Kemudian pada perkembangan gemeente Malang, pecinan besar ekspansi hingga Pasar Besar.

Konsep ruko saat ini, menurut Sejarawan Universitas Negeri Malang M Dwi Cahyono, berasal dari chinese camp (Pecinan). Mereka membangun Stads wooningen  atau shop house untuk rumah dan toko. Bahkan berkembang di Malang sejak jaman Katemunggungan.
Pada jaman itu, pecinan besar berada di blok Boldi, mengikuti pusat pemerintahan. Saat itu posisi jalan masih linier berupa garis lurus dari utara ke selatan. Sehingga cikal bakal ruko pecinan berasal dari kawasan boldi.
“Jauh sebelum muncul gemeente Malang, pecinan besar ada di Boldi, sebab di situ ada Katumenggungan dan alun-alun Tumenggungan,” jelas Dwi Cahyono kepada Malang Post.
Jika merunut pada sejarah, pusat Kota Malang sebelumnya berada di sisi selatan sungai Brantas. Mulai dari masa Kutho Bedhah, hingga masa Katumenggungan. Kemudian pemindahan ke sisi utara Brantas, dimulai setelah buk gludug berdiri.
“Posisi alun-alun Katumenggungan berada di tengah blok Boldi, sampai ke selatan yang sekarang pasar tumpah Kebalen,” katanya.
Pada masa itu, dari Klenteng Eng An Kiong ke arah pasar Kebalen masih berupa perempatan kecil. Era perdagangan awal etnis Tionghoa itu ketika itu dianggap sudah sadar perkembangan kota.
“Mereka memilih pusat-pusat kota sebagai basis bisnis perdagangan,” jelasnya.
Perempatan Jalan Martadinata dan Zainal Jaksa merupakan pemicu pertumbuhan ekonomi. Perempatan itu membuat pecinan besar berkembang ke arah pasar besar. Perpotongan jalan utama itulah yang memicu perkembangan awal Kota Malang.
“Ada dua perempatan penting di Malang, yakni perempatan klenteng serta perempatan Raja Bally,” jelas dia.
Sejak muncul perempatan itulah, ruko-ruko pecinan mulai berekspansi ke jalan-jalan lainnya. Di Kota Malang sendiri terdapat beberapa titik ruko pecinan yang berdiri seiring perkembangan gemeente Malang.
“Perkembangan tersebut dimulai dari kemunculan perempatan-perempatan, sebab semula jalan di Kota Malang cenderung dari utara ke selatan,” terang dia.
Dwi Cahyono juga memiliki kajian lainnya, mengenai perkembangan komplek ruko pecinan. Keberadaannya meluas tak hanya berada di kawasan Boldi dan pasar besar. Bahkan hingga ke kawasan Dinoyo serta di komplek Avia (depan kantor PLN).
“Pemicu pengembangan perekonomian di Kota Malang adalah revitalisasi jalan poros atau persilangan,” katanya.(Bagus Ary Wicaksono)