Kisah Pewaris Bisnis Kopi Tradisional Tionghoa (1)

SENSASI gurih langsung menyapa pengunjung, setelah melewati pintu masuk Toko Kopi Sido Mulia di Jalan Cokroaminoto 2B-2C Kota Malang. Sensasi itu berasal dari dominasi aroma biji kopi yang baru saja di oven. Serta deretan laci kayu berisi bubuk kopi dan kemasan siap edar.
Toko kopi ini berada di deretan Pasar Klojen. Berdiri sejak tahun 1953, Kopi Mulia dikelola keluarga Tionghoa secara turun temurun. Ini merupakan salah satu bisnis kopi tradisional yang masih eksis di Kota Malang.
Keluarga Tionghoa terkenal konsisten menjalankan bisnis dari generasi ke generasi. Tak sekadar bisnis, setiap generasi juga mewarisi serta menjalankan nilai-nilai filosofis pendahulunya. Hal tersebut juga berlaku dalam pahit dan gurihnya usaha kopi tradisional di Malang.
Selain Kopi Sido Mulia, Kota Malang memiliki sejumlah toko kopi. Diantaranya Toko Kopi Sama Jaya di Pasar Besar bedak nomor 33-34, serta Kopi Sido Mukti Jalan Sutan Syahrir no. 5. Dua nama belakangan itu telah ada di Kota Malang sejak tahun 1950.
Ketiganya sama-sama menjual kopi tradisional. Dari sisi pengembangan usaha, baru kopi Sido Mulia yang menjangkau dunia maya. websitenya bisa dibuka pada alamat www.kopisidomulia.com. Produk kopi di toko ini juga lebih beragam, dengan kemasan yang cantik.
Sido Mulia, dulunya bernama Toko Hwie. Berasal dari nama pendirinya yakni Tjing Eng Hwie atau Witjaksono Tjandra. Sepeninggal Hwie, kini bisnis itu diteruskan oleh Sonny Tjandra putra pertama Hwie. Sonny yang generasi kedua itu, mengelola toko bersama itsrinya Sonya Anggraini.
“Papa sebelum membuka toko kopi, sempat usaha restoran Ming Siang di tempat ini, kemudian beralih ke toko Palawija,” jelas Sonny.
Usaha kopi baru ditekuni setelah mendapatkan saran dari Meneer Belanda yang tinggal di kawasan Setia Budi. Menurut sang meneer, karena Malang kota dingin, maka bisnis kopi pasti prospektif. Sejak itu sang papa, giat bergerilya ke kawasan Dampit, mencari biji kopi unggulan.
“Papa hanya mengambil kopi dari daerah tertentu, di Dampit yang hanya dari Dusun Cangkil, itu kopi istimewa,” katanya.
Cara memilih biji kopi unggulan itu, diwariskan kepada Sonny. Diantaranya hanya menerima biji kopi yang masak dari pohon. Kemudian menyimpannya hingga lebih kurang satu tahun. Hal ini agar bau kopi tidak langu dan semakin gurih ketika dioven.
“Dari Dampit kami ambil kopi Robusta, kalau Arabica kami ambil dari sejumlah perkebunan di Jawa salah satunya Jember yang grade 1 kualitas ekspor,” jelasnya.
Warisan dari Hwie, lanjut Sonny, tak sekadar bisnis dan cara memilih kopi. Namun juga cara melayani pelanggan. Bisnis kopi tradisional ini, yang penting terhadap pelanggan harus sabar dan menebar tawa. Juga tak boleh membeda-bedakan pembeli.
“Secerewet apapun pelanggan kita harus tetap sabar dan tersenyum, kaya dan miskin kita perlakukan sama,” imbuhnya.
Sonny dan Sonya memiliki tiga anak, yakni Frederick, Felicia dan Fabrianne. Mereka yang bakal meneruskan bisnis keluarga itu. Secara tak langsung, ketiga anaknya sudah terlibat dan menekuni bisnis kopi.
“Anak pertama saya, kuliah di Seattle dan mengambil ilmu dari Starbuck, kini sudah buka café di Jalan Padma Bali dengan nama dinamakan The Coffee Library,” ungkapnya.
Anak-anak lainnya, juga ikut mengembangkan bisnis. Salah satunya membantu membuatkan website untuk toko. Serta menelurkan kemasan baru kopi Sido Mulyo, yakni kemasan kopi Sido Mulyo premium.
“Dalam bisnis ini, sesuai pesan papa, selain memperhatikan pelanggan juga harus merawat dan menjaga tetangga serta keluarga,” imbuh dia.
Sonny bertekad tetap mempertahankan bisnis keluarga itu. Selain sudah hoki di kopi, juga dalam rangka menghormati perjuangan sang papa saat memulai usaha.(Bagus Ary Wicaksono)