Kisah Pewaris Bisnis Kopi Tradisional Tionghoa (habis)

KOPI Sido Mukti merupakan salah satu brand kopi tradisional tertua di Kota Malang. Usaha yang terletak di Jalan Sutan Syahrir no. 5 tersebut sudah berdiri sejak tahun 1950. Saat ini, Kopi Sido Mukti sudah dikelola oleh generasi ketiga dari pendirinya.
Dibanding Kopi Sido Mulia, usaha di Jalan Sutan Syahrir ini tak terlalu variatif. Mereka masih menjual kopi bubuk tanpa disertai cap nama. Sedangkan, Kopi Sido Mulia sudah mengembangkan diri hingga ke brand premium.
Usaha kopi yang kerap didatangi turis Belanda itu, dikembangkan oleh almarhum Oei Ho Song. Dia juga mengambil biji kopi dari Dampit sebagai bahan baku. Ketika Oei Ho Song mangkat, usahanya diteruskan sang anak bernama Oei Hong Lien.
Namun kemudian, tampuk bisnis terpaksa harus segera berpindah. Sebab, Oei Hong Lien wafat. Mau tak mau, anak Oei Hong Lien yang baru lulus kuliah, harus meneruskan bisnis itu. Mereka adalah Abby Yonanta  dan adiknya bernama Agha Yonanta.
“Tak hanya bisnis yang kami teruskan, namun juga falsafah dagang kakek dan papa kami, sengaja mengambil Dampit agar sama-sama memajukan daerah Malang,” ujar Abby kepada Malang Post.
Yang wajib dijaga dalam bisnis kopi itu, menurut Abby pertama adalah soal mutu. Ketika berbicara mutu, maka mereka tidak boleh menipu konsumen. Contohnya bicara soal kopi murni dan kopi campuran, diwajibkan berterus terang kepada konsumen.
“Pesan kakek ke papa dan diteruskan kepada kami, kopi murni ya harus murni tidak boleh dicampur agar lebih untung,” terangnya.
Agha menambahkan, lantaran falsafah itu, Sido Mukti membagi klasifikasi kopi. Yakni kopi murni serta campuran, dengan harga berbeda. Mulai grade istimewa hingga paling murah Rp 8000 seperempat kilogram.
“Pasaran kita lokal, terutama warung-warung, untuk grade istimewa dikemas seperempat Rp 12 ribu, setengah kilogram Rp 24 ribu dan satu kilo Rp 48 ribu,” katanya.
Kendala dalam pengembangan bisnis adalah banyaknya kopi instan. Sehingga banyak orang meninggalkan kopi tradisional. Selain itu juga ada faktor cuaca, misalnya ketika Dampit terkena hujan dengan angin sehingga panen terlambat.
“Tapi prospek ke depan bagus, sebab kopi diminum orang setiap hari, usaha ini akan tetap kami teruskan untuk menghargai perjuangan kakek dan papa, ke depan cari pangsa pasar baru, kepenginnya bisa masuk kafe dan hotel,” tandasnya.(Bagus Ary Wicaksono)